Benarkah Cuaca Ekstrem Picu Krisis Rantai Pasok Dunia?

Cuaca ekstrem kini menjadi ancaman struktural utama yang mengganggu distribusi global, memaksa pelaku industri segera beralih dari mitigasi sesaat menuju strategi ketahanan rantai pasok jangka panjang.

oleh Ahmad KhuzaifiDiterbitkan 18 Desember 2025, 14:05 WIB
Desa Nglanggeran memiliki potensi di sektor perkebunan dengan komoditas utamanya yaitu kakao dan durian. (Foto: Liputan6.com/Pipit IR)

Liputan6.com, Jakarta - Cuaca ekstrem dan juga yang diperparah perubahan iklim memaksa bisnis untuk memikirkan bagaimana ketahanan rantai pasokan melalui tindakan dan adaptasi pada lingkungan yang mendesak.

Gangguan tersebut disebabkan karena perubahan iklim memaksa bisnis untuk menyadari bagaimana ketahanan rantai pasokan membutuhkan tindakan lingkungan yang di samping adaptasi operasional. 

Dunia usaha juga mulai disadari bahwa gangguan yang disebabkan dari perubahan iklim bukan hanya tantangan profesional, tetapi juga sinyal bahwa perubahan tersebut mendasar pada praktik rantai pasokan sangan dibutuhkan.

Insiden dulu dianggap terisolasi kini menjadi gangguan yang terjadi secara berkala, dampaknya pada rantai pasokan dan menimbulkan bagi sektor logistik.

Dilansir dari wwwsustainabilitymag.com, peneliti pola cuaca di sepanjang jalur perdagangan global gangguan cuaca juga semakin insentif di seluruh rantai pasokan global, dengan volatilitas yang menigngkat dalam fekuensi, seperti tingkat keparahan, dan jangkauan geografis.

Para ilmuwan iklim memperingatkan bahwa kejadian cuaca ekstrem tersebut akan meningkat frekuensinya seiring dengan naiknya suhu global, yang berarti trubulensi rantai pasokan juga dapat menjadi gangguan yang konstan.

Menurut laporan DP World, dalam tiga tahun terakhir, pemilik kargo di sektor barang mudah rusak telah mengalami gangguan terkait iklim mencapai 93%.

Lalu sekitar 75% menghadapi kekurangan haisil panen akibat perubahan iklim, 35% nya terdampak kekeringan di Terusan Panama, dan 27% menghadapi masalah akibat rendahnya permukaan air di Sungai Rhine.

"Volatilitas iklim mengubah cara makanan bergerak melintasi perbatasan," ujar Wakil Presiden Global Bidang Produk Mudah Rusak dan Pertanian di DP World Alferd Whitman, ikutip dari www.sustainabilitymag.com, Kamis (18/12/2025).

Gangguan Lingkungan Berdampak pada Komoditas

Menurut World Wide Fund for Nature (WWF), pada tahun 2025 merupakan tahun dengan musim semi dan musim panas yang terpanas dan terkering dalam lebih dari 100 tahun di Inggris, dampak yang pada hasil panen bahan pangan utamanya seperti gandum.

Gangguan rantai pasokan glonal untuk produk-produk seperti kopi dan kakao terjadi akibat bemcama kekringan dan banjir, yang dimana penyebab masalah pasokan dan juga kenaikan harga.

Data dari www.sustainabilitymag.com, negara Brasil menyumbang 38% dari produksi kopi global, mengalami 110.000 kebakaran hutan yang mempengaruhi 114.000 km antara bulan Januari dan Agustus apada 2024. Dan Vietnam produksi kopi robusta tersebasr di dunia, masih dalam pemulihan dari kekeringan pada tahun 2023/2024.

Produksi kakao terdampak dari masalah cuaca di Pantai Gading dan Ghana, termasuk peningkatan curah hujan tang meningkat pada tahun 2023 yang menyebabkan penyebaran penyakit busuk buah kakao dan kekeringan pada tahun 2024.

"Realitasnya sangat mencolok: titik kritis sedang dilampaui yang dapat menyebabkan seluruh ekosistem runtuh, peristiwa cuaca ekstrem menjadi hal yang biasa, dan populasi satwa liar menurun dengan kecepatan yang mengkhawatirkan," ucap Ketua Dewan Pengawas WWF-UK, Sir Dave Lewis.

Dekarbonisasi sebagai Ketahanan Strategis

Dengan langkah-langkah mitigasi risiko, pengirim,pemasok, dan bisnis menjadikan pengurangan dampak gangguan terkait cuaca terhadap rantai pasok mereka dalam mengatasi kontribusi mereka terhadap perubahan iklim.

Seluruh rantai nilai perlu pertimbangan emisi mereka, beralih ke bahan bakar berkelanjutan atau elektrifikasi untuk armada mereka, tau juga mengurangi energi terbarukan untuk mendukung bisnis mereka.

90% lebih dari emisi pertiel adalah cakupannya tiga yaitu, emisi yang dihasilkan seleuruh rantai nilai, tetapi juga peningkatan pelacakan data dan transparasi dapat membantu bisnis mengatasi emisi ini.

Mitigasi juga dapat dilakukan dengan melalui pemetaan risiko cuaca dan iklim di seluruh pemasok, membangun jaringan untuk pemasok yang beragam, meningkatkan stok penyangga, membuat rencana kontingensi pelabuhan dan rute, serta menerapkan alan untuk manajemen rantai pasokan.

Infografis Pencegahan dan Bahaya Mengintai Akibat Cuaca Panas. (Liputan6.com/Trieyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya