Mohamed Salah vs Liverpool: Amarah Nasional Mesir dan Masa Depan Sang Raja di Anfield

Hampir seluruh rakyat Mesir berdiri di belakang Mohamed Salah, seraya menunjuk dukungan suporter Liverpool di Anfield sebagai bukti bahwa simpati juga datang da

oleh Ari Rachman PrayogaDiterbitkan 17 Desember 2025, 14:10 WIB
Pemain Liverpool, Mohamed Salah memberikan tepuk tangan kepada para penonton setelah laga Liga Champions 2025/2026 melawan PSV di Anfield, Liverpool, Rabu (26/11/2025) waktu setempat. (AP Photo/Jon Super)

Liputan6.com, Jakarta - Kairo selalu menyambut siapa pun dengan dua hal: kebisingan dan lautan manusia. Dengan populasi sekitar 23 juta jiwa, ibu kota Mesir itu hampir setara dengan puluhan kota besar Eropa digabungkan. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, satu nama menggema paling keras dalam beberapa pekan terakhir: Mohamed Salah.

Wawancara Salah pada 6 Desember lalu menjadi pemantik amarah nasional. Bintang Liverpool itu secara terbuka mengaku merasa “dikorbankan” oleh klubnya.

Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi berantai, bukan hanya di Inggris, tetapi terutama di Mesir, negara dengan sekitar 120 juta penduduk yang menganggap Salah lebih dari sekadar pesepak bola.

“Wawancara itu seperti sebuah revolusi di Mesir,” kata Diaa El-Sayed, mantan asisten pelatih tim nasional Mesir yang telah mengenal Salah sejak usia 16 tahun.


Mohamed Salah yang Tak Pernah Salah

Gol tersebut menjadi yang ke-250 bersama Liverpool dan membuatnya berada di peringkat ketiga pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub setelah Ian Rush dan Roger Hunt. (AP Photo/Jon Super)

Diaa menegaskan hampir seluruh rakyat Mesir berdiri di belakang sang kapten, seraya menunjuk dukungan suporter Liverpool di Anfield sebagai bukti bahwa simpati juga datang dari Merseyside.

Di Inggris, situasinya berbanding terbalik. Sejumlah media mengkritik keras Salah karena dianggap membuka konflik ke ruang publik. Jamie Carragher bahkan menyebut wawancara itu sebagai sebuah aib dan menuding Salah justru “melempar klub ke bawah bus”.

Namun di Kairo, narasi tersebut nyaris tak mendapat tempat. Bagi rakyat Mesir, Salah yang dijuluki Egyptian King hampir tak pernah salah.

“Sebelum Salah, tak ada yang mendukung Liverpool di sini,” ujar Noura Essam, warga Kairo. “Dia figur global pertama kami. Jadi apa pun yang terjadi, kami akan selalu mendukungnya.”


Mohamed Salah Kebanggaan Mesir

Striker Mesir bernomor punggung 10, Mohamed Salah, mengambil ancang-ancang selama pertandingan Grup C Piala Afrika CAF 2025 (CAN) antara Botswana dan Mesir di Stadion Francistown di Francistown pada 10 September 2024. (Monirul Bhuiyan/AFP)

Status Salah di Mesir memang melampaui sepak bola. Pada pemilihan presiden 2018, lebih dari satu juta warga Mesir mencoret nama kandidat resmi dan menuliskan nama Salah di surat suara. Ia dijuluki “Piramida Keempat”, simbol kebanggaan nasional yang hidup.

Di sekitar Ramses Square, terminal transportasi tempat Salah muda dulu berganti bus demi menempuh perjalanan sembilan jam pulang-pergi ke latihan, rasa heran masih terasa. Para pengunjung kafe tak percaya ketika Salah duduk di bangku cadangan dalam tiga laga beruntun, lalu bahkan tak masuk skuad Liverpool saat bertandang ke markas Inter Milan di Liga Champions.

Lanjut Baca:

“Ketika Liverpool bermain di Milan, seluruh Mesir mendukung Inter,” ujar Osama Ismail, mantan juru bicara Federasi Sepak Bola Mesir. Meski demikian, ia menilai Salah bukan sosok arogan. “Dia percaya diri, dan dia ingin terus bermain untuk Liverpool.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya