Superbank (SUPA) Tercatat di BEI Hari Ini 17 Desember 2025, Simak Periode Lock-Up Pemegang Saham

PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, (17/12/2025).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 17 Desember 2025, 10:00 WIB
PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), bank dengan layanan digital yang didukung oleh Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank, dan GXS, resmi melangsungkan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (IDX) pada Rabu (17/12/2025).

Liputan6.com, Jakarta - PT Super Bank Indonesia Tbk atau Superbank mencatatkan saham perdana di papan pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, (17/12/2025). Perseroan memakai kode saham SUPA untuk perdagangan saham di BEI.

Berdasarkan pengumuman pencatatan efek dalam keterbukaan informasi BEI Nomor: Peng-P-01357/BEI.PP1/12-2025, direksi BEI  telah menyetujui pencatatan saham PT Super Bank Indonesia Tbk dan tercatat di papan pengembangan.

“Sepanjang setelah penawaran umum memenuhi ketentuan persyaratan jumlah/porsi saham free float dan jumlah pemegang saham setelah penawaran umum perdana,” demikian seperti dikutip.

Adapun efek yang dicatatkan antara lain jumlah saham dalam modal disetor setelah penawaran umum sebesar 33.897.017.650 saham. Dari jumlah itu, jumlah saham yang dicatatkan terdiri dari saham pendiri sebesar 29.151.435.150 saham dan penawaran umum saham atau initial public offering (IPO) sebesar 4.406.612.300 saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Harga saham perdana yang ditetapkan sebesar Rp 635 per saham. Di sisi lain, saham pendiri yang tidak dicatatkan sebesar 338.970.200 saham

Berdasarkan surat Perseroan Nomor 092/DIR-FIN/SBI/XII/2025 pada 9 Desember 2025 dan Surat Pernyataan PT Kudo Teknologi Indonesia (KTI) nomor KTI/Srt/2025-09/219, Saham Perseroan yang dimiliki KTI sebanyak 338.970.200 saham atau 1% dari modal ditempatkan dan disetor penuh Perseroan pasca Penawaran Umum Perdana Saham tidak dicatatkan di Bursa sesuai dengan pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 Peraturan Pemerintah No. 29/1999 yang mengatur kewajiban mempertahankan sedikit-dikitnya 1% saham Bank tidak dicatatkan di BEI dan tetap dimiliki oleh WNI dan/atau Badan Hukum Indonesia.

 

Periode Lock-Up

Superbank gandeng KakaoBank meluncurkan program “Wujudkan Mimpimu ke Korea”. (Foto: Superbank)

Adapun jumlah saham free float perseroan per 16 Desember 2025 adalah sebanyak 5.056.612.300 saham atau 15,07% dari jumlah saham tercatat berdasarkan ketentuan Peraturan Bursa Nomor I-A dan Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00014/BEI/03-2022 tanggal 25 Maret 2022.

Informasi mengenai pembatasan pengalihan saham atau lock-up sebagai berikut:

PT Elang Media Visitama (EMV) dengan jumlah efek 9.175.800.159 saham dengan periode lock-up yakni 12 bulan terhitung sejak tanggal pertama kali saham perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

PT Kudo Teknologi Indonesia (KTI) dengan jumlah efek 5.650.340.722 saham dengan periode lock-up 12 bulan terhitung sejak tanggal pertama kali saham perseroan diperdagangkan di BEI.

Glas Trust (Singapore) Ltd Cq.Bersama Sustainability Trust dengan jumlah efek 650.000.000 saham dengan periode lock-up 8 bulan terhitung sejak tanggal setelah pernyataan pendaftaran penawaran umum perdana dinyatakan efektif.

Perseroan juga tidak menerbitkan surat kolektif saham (SKS) dalam penawaran umum perdana saham, tetapi saham itu akan didistribusikan secara elektronik yang diadministrasikan dalam penitipan kolektif PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

 

IPO Superbank

Pencapaian 1 juta nasabah kurang dari 2 bulan membuktikan kepercayaan nasabah Superbank yang didukung oleh pemegang saham seperti Grab, Emtek, Singtel, dan KakaoBank. (Dok Superbank)

Sebelumnya, PT Super Bank Indonesia Tbk menetapkan harga saham perdana Rp 635 per saham dalam rangka penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Sebelumnya pada masa penawaran awal, Perseroan menawarkan harga di kisaran Rp 525-Rp 695 per saham.

Mengutip laman e-ipo, Rabu (10/12/2025), PT Super Bank Indonesia Tbk menawarkan 4,40 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Jumlah saham yang ditawarkan itu sebesar 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO.

Dengan demikian, perseroan akan meraup dana Rp 2,79 triliun dari IPO. Sebelumnya perseroan yang akan memakai kode saham SUPA ini akan memakai dana IPO sekitar 70% untuk modal kerja dalam rangka penyaluran kredit perseroan. Sisanya sekitar 30%, dana hasil IPO akan dialokasikan untuk belanja modal dalam rangka mendukung kegiatan usaha perseroan.

Untuk melakukan penawaran saham perseroan, perseroan telah menunjuk penjamin pelaksana emisi efek antara lain PT Mandiri Sekuritas, PT CLSA Sekuritas Indonesia, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, dan PT Sucor Sekuritas. Sedangkan yang bertindak sebagai penjamin emisi efek yakni PT Bahana Sekuritas dan PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya