Laba Industri China Melambat, Jadi Sinyal Pelemahan Ekonomi

Apa alasan perlambatan industri China?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 26 Juni 2026, 10:26 WIB
Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)

Liputan6.com, Beijing - Laju pertumbuhan laba industri China melambat pada Mei 2026 untuk pertama kalinya sejak November tahun lalu. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa kuatnya ekspor dan kenaikan harga produsen belum mampu mengimbangi lemahnya permintaan domestik.

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China, laba industri pada Mei naik 21,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 24,7 persen yang tercatat pada April, dikutip dari Bloomberg, Sabtu (27/6/2026).

Secara kumulatif, laba perusahaan industri selama Januari hingga Mei 2026 meningkat 18,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut sedikit di bawah perkiraan Bloomberg Economics yang memproyeksikan pertumbuhan sebesar 19 persen.

Perlambatan ini terjadi meskipun China telah keluar dari deflasi sektor manufaktur pada Maret lalu setelah lebih dari tiga tahun. Harga produsen pada Mei juga mencatat kenaikan tercepat sejak 2022.

Meski demikian, tingginya pertumbuhan laba dinilai perlu dicermati karena dipengaruhi oleh rendahnya basis perbandingan pada tahun lalu. Pada Mei 2025, laba industri China tercatat anjlok 9,1 persen.

Selama lima bulan pertama 2026, total laba perusahaan industri mencapai 3,14 triliun yuan atau sekitar 462 miliar dolar AS. Nilai tersebut masih lebih rendah dibandingkan laba yang dibukukan pada periode yang sama tahun 2022.

Biro Statistik Nasional China menyatakan ketidakseimbangan antara kuatnya pasokan dan lemahnya permintaan domestik masih menjadi tantangan bagi perekonomian. Kondisi tersebut membuat sejumlah perusahaan di berbagai sektor industri masih menghadapi tekanan dalam menjalankan usahanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya