Saham WIFI Tergelincir pada Sesi I Hari Ini 15 Desember 2025

Begini gerak harga saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) pada perdagangan saham sesi pertama, Senin, (15/12/2025).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 15 Desember 2025, 12:59 WIB
Berikut gerak saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) pada sesi pertama, Senin, (15/12/2025).(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Harga saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) bergejolak selama sesi pertama perdagangan saham Senin, (15/10/2025). Namun, harga saham WIFI ditutup di zona merah pada sesi pertama saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghijau.

Mengutip data RTI, harga saham WIFI ditutup melemah 0,55% ke posisi Rp 3.600 per saham.  Harga saham WIFI dibuka naik 80 poin ke posisi Rp 3.700 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 3.62 per saham. Harga saham WIFI berada di level tertinggi Rp 3.740 dan level terendah Rp 3.510 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 28.440 kali  dengan volume perdagangan saham 1.033.274 saham. Nilai transaksi harians aham Rp 375,6 miliar. Kapitalisasi pasar saham WIFI tercatat Rp 19,11 triliun.

Berdasarkan data Google Finance, harga saham WIFI melemah 8,4% dalam lima hari terakhir. Selama sebulan terakhir, harga saham WIFI naik 4,96%. Secara year to date (Ytd), harga saham WIFI meroket 789,92%.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pertama ditutup menguat 0,57% ke posisi 8.709,43. Indeks saham LQ45 naik 0,88% ke posisi 855,80.Seluruh indeks saham acuan menghijau pada sesi pertama.

IHSG berada di level tertinggi 8.717,70 dan level terendah 8.622,98. Sebanyak 358 saham menguat sehingga angkat IHSG. 291 saham melemah dan 148 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 2.244.688 kali dengan volume perdagangan saham 36,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 19,5 triliun.

Pada sesi pertama, mayoritas sektor saham menghijau. Sektor saham kesehatan menguat 3,79% dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham basic menguat 1,28%, sektor saham industri menanjak 0,89%, sektor saham consumer nonsiklikal mendaki 0,38%.

Lalu sektor saham consumer siklikal menguat 1,17%, sektor saham keuangan bertambah 1,45%, dan sektor saham transportasi menanjak 0,42%.

Sementara itu, sektor saham energi susut 0,39%, sektor saham properti melemah 0,72%, sektor saham teknologi terpangkas 0,68%, dan sektor saham infrastruktur merosot 0,34%.

 

Kinerja WIFI pada Kuartal III 2025

Layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) membukukan kinerja yang solid sepanjang sembilan bulan hingga 30 September 2025. Perseroan mencatat lonjakan signifikan pada pendapatan, laba, dan total aset, seiring ekspansi masif di sektor telekomunikasi. 

Emiten yang mengusung layanan internet rakyat ini mencatat kenaikan pendapatan usaha bersih sebesar 100,99 persen menjadi Rp1,01 triliun, dari Rp504,95 miliar pada periode sama tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di laman BEI pada Jumat, 12 Desember 2025, perseroan menjaga beban pokok pendapatan pada level Rp 325,42 miliar. Dengan struktur biaya tersebut, laba bruto hingga September 2025 melonjak 124,16 persen menjadi Rp 689,48 miliar, dari sebelumnya Rp 307,58 miliar.

Kontribusi terbesar masih berasal dari segmen Telekomunikasi yang mencapai Rp 739,44 miliar atau 72,77 persen dari total pendapatan sebelum potongan harga. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, segmen periklanan menyumbang Rp 276,67 miliar atau 27,23 persen.

 

Laba WIFI

IHSG menguat 24,13 poin atau 0,34 persen dibandingkan penutupan sebelumnya pada level 7.196,75. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

WIFI juga menahan beban umum dan administrasi di sekitar Rp 155,42 miliar. Perusahaan mencatat pendapatan lain-lain sebesar Rp 40,18 miliar, sehingga laba usaha hingga 30 September 2025 melonjak 127,18 persen menjadi Rp 574,24 miliar, naik dari Rp 252,77 miliar.

Dari sisi keuangan, perseroan meraih penghasilan keuangan Rp 40,21 miliar, jauh meningkat dari hanya Rp 446 juta pada tahun sebelumnya. Dengan beban keuangan Rp 204,59 miliar, laba sebelum pajak per September 2025 mencapai Rp 409,85 miliar, meningkat 127,77 persen dari Rp 179,94 miliar.

Beban pajak penghasilan neto juga naik menjadi Rp 79,67 miliar. Secara keseluruhan, laba bersih periode berjalan melonjak 108,13 persen menjadi Rp 330,18 miliar, dari Rp 158,64 miliar pada tahun sebelumnya.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turut meningkat 71,03 persen menjadi Rp 260,09 miliar, sementara laba yang dapat diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali naik menjadi Rp 70,09 miliar dari Rp 6,56 miliar. Dengan demikian, laba per saham dasar naik menjadi Rp 105,54 per lembar, dibandingkan Rp 64,54 sebelumnya.

 

Total Aset

Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Total aset WIFI tumbuh tajam 331,32 persen menjadi Rp 12,54 triliun per 30 September 2025, dari Rp 2,907 triliun pada akhir 2024. Ekuitas juga melesat 749,90 persen menjadi Rp 8,18 triliun. Peningkatan tersebut membuat rasio ekuitas terhadap total aset mencapai 65,28 persen, mengindikasikan struktur modal yang sehat.

Liabilitas pun naik 124,69 persen menjadi Rp 4,35 triliun, namun proporsinya terhadap aset hanya 34,72 persen. Rasio pengungkit (gearing ratio) tercatat negatif di level (0,17), menandakan posisi liabilitas neto lebih rendah dibandingkan kas dan setara kas.

Tekanan pada harga saham WIFI belakangan menjadi perbincangan pasar. Namun, manajemen menegaskan bahwa penurunan tersebut bukan cerminan melemahnya fundamental, melainkan imbas sementara dari penyesuaian pasar terhadap perubahan struktur modal untuk mendukung fase ekspansi agresif perusahaan.

Salah satu faktor utama adalah kenaikan signifikan utang obligasi dari Rp 600 miliar menjadi Rp 2,5 triliun, yang seluruhnya digunakan untuk pembiayaan ekspansi dan mendorong aset hingga Rp 12,5 triliun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya