Liputan6.com, Jakarta - Learning disability atau disabilitas belajar disebut juga dengan gangguan belajar. Kondisi ini terjadi pada individu yang memiliki potensi kecerdasan yang bagus, bahkan di atas rata-rata, namun performa belajarnya berlawanan dengan kapasitas kecerdasan yang dimilikinya.
Dosen Psikologi UB Ika Fitria mengungkapkan gangguan belajar spesifik ada kaitannya dengan neurodevelopmental disorder. Hal ini terkait dengan gangguan perkembangan saraf di otak yang berkaitan dengan pemahaman bahasa, fungsi pemahaman dan penalaran logika. Hal ini berhubungan dengan tanda-tanda perilaku individu mengalami kesulitan membaca, mengeja, atau berhitung.
Advertisement
Pada anak-anak dengan kondisi gangguan belajar spesifik bisa mengalami saat menulis ada huruf yang terbalik atau ada huruf yang hilang, mudah lupa, tidak urut dalam melakukan aktivitas. Kondisi ini membuat nilai prestasi akademik yang tertinggal dari teman-teman lainnya.
Tak jarang anak-anak ini dilabeli sebagai anak yang malas, tidak bisa, atau bodoh. Meski begitu, tidak semua ciri-ciri di atas itu mengarah pada kesulitan belajar spesifik. Untuk itu perlu penegakan diagnosa oleh profesional seperti disampaikan pakar disleksia Dr. Sri Susanti Tjahja Dini, M.Pd.
“Perlu kerja sama antara guru, orang tua, dan profesional, yaitu psikolog, untuk mengatasi gangguan belajar agar masalah tidak semakin kompleks,” kata Santi beberapa waktu lalu dalam webinar bersama Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP-UB).
Lebih lanjut, Santi mengungkapkan jenis-jenis gangguan belajar spesifik yaitu disleksia (gangguan kesulitan membaca atau mengeja), (gangguan menulis, tata bahasa), dan diskalkulia (gangguan berhitung, pemahaman angka).
Ajarkan Anak Belajar Terstruktur
Sebelum penegakan diagnosa, akan dilakukan serangkaian proses atau fase belajar yang teratur dan terstruktur sehingga bisa diukur keberhasilannya. Strategi belajar yang harus dilakukan berbentuk remedial, dengan pendekatan multisensori yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
“Remedial bukan berarti mengulang, tetapi melakukan check list dari kemampuan dasar pre akademik seperti kemampuan memahami bentuk, mengelompokkan benda, huruf vokal dan konsonan. Karena kalau tidak memahami arti pengelompokan akan kesulitan belajar menghitung," kata Santi mengutip laman resmi Universitas Brawijaya.
Deteksi Dini Penting
Santi mengatakan deteksi dini penting untuk penegakan diagnosis gangguan belajar. Jangan sampai datang di usia terlambat karena seiring bertambahnya usia, akan semakin kompleks penanganannya.
Selaras dengan pernyataan Santi, Fitria mengatakan jika tidak terdeteksi sejak dini maka dapat mempengaruhi kualitas hidup individu tersebut.
“Ketika individu mengalami gangguan belajar spesifik, penilaian individu tersebut terhadap dirinya sendiri rendah karena merasa berbeda dengan lingkungannya. Mereka dapat menarik diri dari lingkungan, kehilangan motivasi belajar, bekerja, atau berelasi sosial,” jelasnya.