Liputan6.com, Jakarta - Ta Krabey, candi kuno yang disengketakan, jadi korban terbaru konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Setelah tiga hari pertempuran, candi yang juga dikenal dengan nama Ta Kwai Temple dilaporkan rusak parah akibat bentrokan dua negara.
Melansir Khaosod English, Sabtu (13/12/2025), Kamboja mengklaim bahwa tentara Thailand telah menargetkan candi-candi Angkorian di sepanjang perbatasan. Thailand mengakui melakukannya, mereka menuduh Kamboja menempatkan pasukan di dalam kuil, sehingga menjadikannya target yang sah menurut hukum internasional.
Advertisement
UNESCO telah memperingatkan bahwa konflik Kamboja-Thailand berisiko merusak Kuil Preah Vihear dan situs warisan perbatasan lain. Pihaknya mendesak tindakan perlindungan yang mendesak, menurut The Nation Thailand.
Di sebuah pernyataan, organisasi tersebut menyerukan perlindungan "dalam segala bentuknya." Mereka mengingatkan semua pihak tentang kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional, termasuk Konvensi Den Haag 1954 tentang perlindungan properti budaya selama konflik bersenjata dan Konvensi Warisan Dunia 1972.
UNESCO mengaku memantau situasi dengan cermat dan telah membagikan koordinat geografis yang tepat dari properti Warisan Dunia dan situs-situs penting nasional pada pihak-pihak yang terlibat. Ini dilakukan dalam upaya mencegah kerusakan yang tidak disengaja atau disengaja.
Seruan ini muncul di tengah laporan tentang peningkatan tajam militer di sepanjang perbatasan, dengan otoritas Kamboja mengklaim bahwa serangan telah terjadi di dekat, dan dalam beberapa kasus di situs-situs candi kuno.
Telah Lama Jadi Titik Konflik Thailand-Kamboja
UNESCO menekankan bahwa pihaknya siap memberi dukungan teknis dan langkah-langkah pengamanan darurat untuk melindungi properti budaya "segera setelah kondisi memungkinkan." Candi Preah Vihear terletak dramatis di tebing di sepanjang perbatasan Kamboja-Thailand.
Situs ini telah lama jadi simbol kebanggaan budaya dan titik konflik yang berulang selama periode ketegangan bilateral. Pernyataan terbaru ini menggarisbawahi meningkatnya kekhawatiran internasional bahwa bentrokan saat ini dapat menimbulkan kerusakan permanen pada situs budaya dan sejarah yang tidak tergantikan di wilayah perbatasan.
Sebelumnya, wisatawan telah diimbau menjauhi beberapa wilayah di Thailand dan Kamboja setelah konflik kembali meletus antara kedua negara. Pertempuran di perbatasan telah menewaskan empat warga Kamboja dan seorang tentara Thailand, serta memaksa puluhan ribu orang meninggalkan rumah mereka.
Saling Tuduh
Korban tewas terjadi selama baku tembak di wilayah perbatasan yang disengketakan, melansir Metro.co.uk, Selasa, 9 Desember 2025. Militer Thailand menuduh pasukan Kamboja melepaskan tembakan, menewaskan seorang tentara dan melukai beberapa lainnya.
Kamboja mengatakan, tentara Thailand menembak terlebih dahulu, dan semua korban Kamboja adalah warga sipil. Sejak saat itu, angkatan udara Thailand telah melancarkan serangan udara yang menurutnya hanya menargetkan "militer," dan menegaskan bahwa pengeboman "yang sangat tepat" itu tidak mengenai warga sipil.
Kementerian Luar Negeri Inggris menyarankan untuk tidak melakukan "semua perjalanan kecuali yang penting" ke mana pun dalam jarak 48 km dari perbatasan. Artinya, wisatawan dan backpacker harus menghindarinya dan melakukan hal itu akan membatalkan sebagian besar asuransi perjalanan yang mungkin telah mereka beli.
Rekomendasi untuk Wisatawan
Saran yang sama juga berlaku untuk beberapa provinsi di Thailand selatan, dekat perbatasan dengan Malaysia, di mana masih terdapat risiko serangan teror. Ini adalah kedua kalinya tahun ini konflik perbatasan berubah jadi kekerasan, menyusul konfrontasi antara tentara yang berujung maut pada Mei.
Konflik ini telah berlangsung selama berbulan-bulan, dengan hubungan diplomatik yang memburuk. Faktanya, perselisihan di wilayah tersebut telah berlangsung hampir satu abad.
Tidak seorang pun tahu apakah hal ini akan memanas dan menjadi perang besar. Tapi, Kamboja telah mengonfirmasi bahwa mereka akan memulai wajib militer paling cepat tahun depan.
Inti konfliknya adalah perbedaan interpretasi terhadap peta era kolonial yang dibuat lebih dari satu abad lalu dalam perjanjian antara Siam (Thailand modern) dan Prancis, yang saat itu menguasai Kamboja.