Bolivia dan Israel Kembali Menjalin Hubungan yang Pernah Terputus karena Perang Gaza

Langkah ini menjadi tanda terbaru dari perubahan geopolitik besar yang tengah berlangsung di negara Amerika Selatan tersebut, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pengkritik paling vokal terhadap kebijakan Israel terhadap warga Palestina.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 11 Desember 2025, 11:50 WIB
Presiden Bolivia Rodrigo Paz yang berhaluan kanan. (Dok. AP Photo/Juan Karita)

Liputan6.com, La Paz - Pemerintahan baru Bolivia yang berhaluan kanan mengumumkan pada hari Selasa (9/12/2025) bahwa mereka telah memulihkan hubungan diplomatik dengan Israel

Menteri Luar Negeri Bolivia Fernando Aramayo bertemu dengan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar di Washington, Amerika Serikat (AS). Dalam pertemuan itu, mereka menandatangani sebuah deklarasi untuk memulihkan hubungan bilateral yang diputuskan oleh pemerintahan kiri Bolivia dua tahun lalu, menyusul serangan militer Israel terhadap Gaza.

Menurut Kementerian Luar Negeri Bolivia, kedua negara akan kembali menempatkan duta besar dalam waktu dekat dan mengirimkan pejabat-pejabat untuk melakukan kunjungan resmi.

"Sebagai bagian dari strategi kebijakan luar negeri baru di bawah Presiden Rodrigo Paz, langkah ini mewakili kembalinya kepercayaan, kerja sama yang cerdas, dan hubungan yang selalu ada tetapi kini dihidupkan kembali dengan perspektif modern," kata kementerian tersebut setelah pertemuan pada Selasa malam.

Aramayo, bersama Menteri Ekonomi Bolivia Jose Gabriel Espinoza, memulai rangkaian pertemuan intensif dengan pejabat AS minggu ini. Pemerintahan mereka berupaya mencairkan hubungan yang lama tegang dengan Amerika Serikat serta membongkar hampir dua dekade kebijakan keras anti-Barat di bawah partai Gerakan Menuju Sosialisme (MAS), yang telah membuat Bolivia terisolasi secara ekonomi dan bersekutu secara diplomatik dengan China, Rusia, dan Venezuela.

Pekan lalu, pemerintahan Paz juga melonggarkan pembatasan visa bagi pelancong dari AS dan Israel.

 

Israel Berterima Kasih

Dalam pengumuman mengenai pertemuannya dengan Aramayo pada hari Senin, Menteri Luar Negeri Israel Saar menyampaikan terima kasih kepada Bolivia karena telah mencabut persyaratan visa bagi warga Israel. Ia juga mengatakan telah berbicara dengan Paz setelah kemenangan senator berhaluan tengah-kanan itu dalam pemilihan 19 Oktober untuk menyampaikan keinginan Israel membuka babak baru dalam hubungan dengan Bolivia.

Paz mulai menjabat bulan lalu, mengakhiri dominasi Partai MAS yang didirikan oleh Evo Morales—mantan pemimpin serikat petani coca yang karismatik dan presiden pribumi pertama Bolivia pada tahun 2006. Tidak lama setelah menjabat, Morales mengusir duta besar Israel dan mempererat hubungan dengan Iran karena permusuhan bersama terhadap AS dan Israel.

Ketika protes atas pemilihan ulang Morales pada 2019 yang dipersengketakan memaksanya mengundurkan diri di bawah tekanan militer, sebuah pemerintahan sementara berhaluan kanan mengambil alih. Pemerintahan sementara itu memulihkan hubungan diplomatik penuh dengan AS dan Israel saat berupaya membalikkan banyak kebijakan populer Morales.

Namun, pemilihan tahun 2020 membawa kembali Partai MAS ke tampuk kekuasaan melalui kemenangan Luis Arce. Pada 2023, Arce kembali memutuskan hubungan dengan Israel sebagai bentuk protes terhadap perang di Gaza.

Negara-negara Amerika Latin berhaluan kiri lainnya, seperti Chile dan Kolombia, segera mengikuti langkah tersebut dengan menarik pulang duta besar mereka dan bergabung dalam gugatan genosida yang diajukan Afrika Selatan terhadap Israel di hadapan Mahkamah Internasional (ICJ), badan peradilan tertinggi PBB.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya