Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menghadiri peringatan Hari Bakti Transmigrasi ke-75 di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat (Jabar), Rabu (10/12/2025).
"Saya hadir di Kabupaten Indramayu untuk memperingati Hari Bakti Transmigrasi yang ke-75," ujar Viva Yoga saat diwawancarai selepas acara, Rabu (10/12/205).
Advertisement
Hari Bakti Transmigrasi yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 12 Desember, merupakan sebuah pengingat akan pengiriman transmigran pertama oleh Presiden Soekarno pada tahun 1950.
Acara diawali dengan upacara penghormatan dan dilanjutkan dengan tabur bunga di makam para pionir transmigrasi, termasuk 67 calon transmigran yang gugur akibat kecelakaan pada masa awal program tersebut.
"Sekarang ini kita tabur bunga untuk memperingati calon transmigran yang meninggal dunia karena kecelakaan saat akan kita kirim ke Lampung dan Lubuk Linggau," ucap Viva Yoga.
Dalam kegiatan ini, Viva Yoga juga menegaskan kembali nilai perjuangan para pionir sebagai teladan generasi muda, serta memastikan komitmen pemerintah dalam pemberdayaan transmigran dan percepatan penanganan bencana di kawasan transmigrasi.
Kemudian, Viva Yoga menggarisbawahi, peringatan Hari Bakti Transmigrasi, yang bertepatan dengan pengiriman pertama transmigran tahun 1950, menjadi momentum penting untuk mengenang para pembuka jalan pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.
"Pada masa lalu, para transmigran itu mempunyai tugas yang sangat mulia. Mereka membuka jalan, membuka tanah hingga tumbuh aktivitas ekonomi dan sosial. Dulu disebut pahlawan pembangunan, dan sekarang kami menyebut mereka sebagai patriot bangsa," ucap dia.
Teladan Generasi Muda dalam Program Transmigrasi
Menurut Viva Yoga, semangat para pionir transmigrasi dapat menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda mengenai arti keberanian dan keteguhan dalam memperjuangkan masa depan.
"Hidup itu adalah pilihan mereka memilih menjadi warga transmigrasi bukan sesuatu yang mudah karena harus berpindah dari kampung halaman, kemudian berjuang di tanah-tanah baru yang belum mereka kuasai. Tapi mereka terus mengolah tanah itu sampai akhirnya menjadi sumber kehidupan," ucap dia.
Viva juga menjelaskan, kini generasi kedua dan ketiga transmigran sudah menikmati hasil dari perjuangan tersebut.
"Sesuai visi program transmigrasi, ini untuk memberantas kemiskinan dan merubah nasib agar masyarakat bisa sejahtera," terang dia.
Selain itu, lanjut Viva, transmigrasi turut mempererat persatuan bangsa melalui proses akulturasi.
"Ada akulturasi budaya, dan asimilasi lewat pernikahan adat dan budaya. Sehingga itu menyatukan bangsa Indonesia melalui transmigrasi," tuturnya.
Pemberdayaan Transmigran dan Respons Cepat terhadap Bencana
Viva juga menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung keberlanjutan dan kemandirian masyarakat transmigran.
"Setiap tahun kita akan berikan jadup, jaminan hidup, atau catu pangan selama setahun atau satu tahun setengah," kata dia.
Dan selama lima tahun, Kementerian Transmigrasi terus mendampingi, memonitor, serta merawat agar masyarakat bisa mandiri serta meningkatkan ekonomi mereka.
Pihaknya juga memastikan bahwa Kementerian Transmigrasi terlibat aktif dalam penanganan bencana di kawasan transmigrasi, khususnya di Pulau Sumatera.
"Pak Menteri Transmigrasi sudah terjun ke Provinsi Medan dan Aceh. Kami bertanggung jawab kepada kabupaten-kabupaten transmigrasi seperti Bireuen dan Bener Meriah," kata Viva.
Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa logistik, tetapi juga koordinasi lintas lembaga untuk mempercepat respons bencana.
"Kami memberikan bantuan dana, obat-obatan, dan melakukan monitoring serta komunikasi dengan BNPB agar proses birokrasi tidak menghambat penanganan. Harapannya, seluruh proses dapat berjalan cepat dan terintegrasi," jelas Viva.