Liputan6.com, Jakarta - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Bakti Komdigi), buka suara terkait rencana pengembangan satelit Satria-2.
Direktur Utama Bakti Komdigi, Fadhilah Mathar, mengatakan pemerintah telah menetapkan Satria-2 sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN).
Advertisement
Fadhilah menjelaskan, istilah Satria-2 sejatinya lebih pada penamaan, sementara substansi utamanya adalah pemenuhan kebutuhan kapasitas satelit nasional.
“Untuk Satria-2 sebenarnya itu hanya penamaan dan Alhamdulillah ini sekarang sudah masuk dalam proyek strategis nasional,” kata Fadhilah dalam Media Briefing di Stasiun Bumi (Gateway) Satria-1 Satelit Nusantara Tiga, di Cikarang, Rabu (10/12/2025).
Ia menambahkan, meski disebut sebagai Satria-2, bukan berarti satelit yang akan dikembangkan nantinya identik dengan Satria-1. Pemerintah membuka peluang adanya perbedaan desain dan teknologi, seiring dengan perkembangan teknologi satelit yang terus berlangsung.
“Tetapi penamaan ini intinya kita masih memerlukan kapasitas satelit. Apakah nanti Satria-2 itu akan sama dengan Satria-1 dalam hal teknologi. Mungkin belum tentu karena kan ada perkembangan-perkembangan teknologi,” ujarnya.
Pemerintah Dalami Demand Analysis
Dalam tahap awal perencanaan Satria-2, Bakti Komdigi saat ini tengah memprioritaskan penyusunan analisis kebutuhan atau demand analysis. Fadhilah menekankan bahwa aspek ini menjadi perhatian utama agar kapasitas satelit yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan.
“Jadi ini sedang kita analisis bersama-sama Terutama yang paling kami hati-hati adalah demand analysis. kebutuhan real atas perlunya kapasitas satelit ini,” ujarnya.
Setelah demand analysis dinilai akurat dan valid, pemerintah baru akan melangkah ke tahap berikutnya, termasuk menentukan skema pembiayaan yang akan digunakan.
Opsi Skema Pembiayaan
Adapun opsi yang dipertimbangkan antara lain skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) maupun alternatif pembiayaan lainnya, yang akan disesuaikan dengan hasil kajian dan kebutuhan proyek ke depan.
“Nah, setelah itu nanti perencanaan demand analysisnya ini akurat, valid Baru kemudian kita akan melangkah untuk kelanjutan-kelanjutan terkait misalnya apakah ini nanti menggunakan skema KPBU atau pembiayaan lainnya,” pungkasnya.