Data Kebakaran Terra Drone: 41 Orang Berada di Gedung, 22 Meninggal dan 19 Selamat

Mendagri Tito Karnavian mengungkapkan data korban kebakaran Gedung Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (10/12/2025).

oleh Nanda Perdana PutraDiterbitkan 10 Desember 2025, 15:13 WIB
20 orang dilaporkan meninggal dunia dalam insiden tersebut. Api diduga berasal dari gudang baterai di lantai satu. Tampak dalam foto, seorang anggota kepolisian Indonesia memasang barikade untuk menutup gedung tujuh lantai tempat petugas pemadam kebakaran memadamkan kebakaran di Jakarta Pusat pada Selasa 9 Desember 2025. (SYNATRIA RESPATI/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Mendagri Tito Karnavian mengungkapkan data korban kebakaran Gedung Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (10/12/2025). Pada hari kejadian, sebanyak 80 lebih karyawan masuk kerja.

Memasuki jam makan siang, hampir setengah dari karyawan Terra Drone makan di luar kantor. Sementara, 41 karyawan lain yang masih berada di dalam gedung.

Di lantai satu, tempat disimpannya berbagai peralatan untuk pembuatan drone tiba-tiba terjadi kebakaran. Api mendadak muncul, merambat, dan membesar.

“Nah, kalau diduga, diduga kebakaran ada di lantai 1 ini, kita belum tahu apakah dari drone, baterai, atau dari kegiatan lain,” tutur Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian di depan Gedung Terra Drone yang hangus terbakar, Rabu (10/12/2025).

Sebanyak 41 orang yang berada di dalam Gedung Terra Drone panik bukan kepalang. Mereka terjebak, tidak ada kesempatan untuk turun ke bawah lantaran tertutup asap dan api.

Lantai dua hingga enam serta rooftop bangunan memang tidak terdampak kobaran api. Namun, asap tebal yang membumbung tinggi menerjang setiap oksigen dengan karbon monoksida.

Damkar yang tiba tujuh menit usai menerima laporan langsung bergerak cepat menyelamatkan satu per satu yang terjebak di dalam gedung. Hanya saja, petugas berpacu dengan waktu. Dari 41 orang, 22 korban lainnya tidak berhasil terselamatkan.

“Sehingga wafat 22 orang. 22 orang itu wafatnya saya tanya apakah terbakar atau karena apa? Rupanya bukan karena terbakar, tapi karena asap. Ya mungkin karbon monoksida atau zat beracun lainnya ya, yang terhisap,” jelas Tito.

7 Menit yang Menentukan

Meski begitu, kinerja Damkar tetap berkesan dramatis dan heroik bagi masyarakat, apalagi di hati para korban yang tertolong. Tito sangat mengapresiasi gerak cepat petugas selama proses penanganan kebakaran Gedung Terra Drone.

“Dalam waktu 7 menit, 7 menit setelah laporan, langsung datang ke TKP. Dan kemudian melakukan evakuasi melalui jalur samping,” ungkapnya.

Evaluasi Aturan Gedung

Peristiwa ini pun menjadi pelajaran bagi semua pihak, termasuk pemerintah. Rencananya, bakal ada evaluasi menyeluruh terkait aturan pembuatan gedung, khususnya dalam mengukur potensi kebakaran.

Mulai dari sistem Online Single Submission (OSS), Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), hingga pemeriksaan damkar untuk memenuhi Sertifikat Laik Fungsi (SLF).

“Dan saya tanya, tidak ada regulasi untuk diperiksa secara reguler. Misalnya setahun sekali, atau dua tahun sekali. Kalau kendaraan umum kan ada, ada uji KIR-nya, uji diuji ulang lagi kendaraan umum. Nah apakah untuk gedung-gedung juga, terutama gedung-gedung yang high risk, risiko tinggi, itu diperlukan untuk pengecekan reguler? Supaya tidak terulang lagi peristiwa ini,” beber dia.

Nyatanya, Gedung Terra Drone tidak memiliki jalur evakuasi saat kebakaran terjadi di lantai satu, dan nihil alat pemadam kebakaran yang mencukupi. Berkaca dari peristiwa kebakaran bangunan tersebut, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bakal segera menggelar rapat dengan seluruh kepala daerah.

“Nah, ini yang kita tidak inginkan terulang di masa mendatang di tempat-tempat lain juga. Besok saya akan melakukan Zoom Meeting dengan seluruh kepala daerah dan seluruh Kepala Dinas Pemadam Kebakaran, serta DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu) yang mengeluarkan izin PBG,“ Tito menandaskan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya