Bitcoin Tembus USD 94.000, Muncul FOMO Baru Jelang Keputusan The Fed

Bitcoin kembali memicu FOMO setelah menyentuh USD 94.000, tetapi keputusan suku bunga The Fed menjadi risiko besar.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 10 Desember 2025, 14:10 WIB
Kenaikan tak berlangsung lama, harga Bitcoin kembali terkoreksi ke sekitar USD 92.400 yang kemudian menimbulkan pertanyaan besar mengenai arah pergerakan selanjutnya. Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin kembali naik signifikan hingga memicu gelombang FOMO baru di kalangan trader. Pada Selasa malam di Coinbase, harga Bitcoin melonjak ke USD 94.625, level tertinggi dalam tiga pekan terakhir berdasarkan data TradingView.

Mengutip coinmarketcap, Rabu (10/12/2025), girma analitik blockchain Santiment menyebut lonjakan ini sebagai “rebound yang sangat dibutuhkan,” sekaligus membuat banyak trader kembali masuk pasar dengan ekspektasi harga lebih tinggi.

Santiment juga mencatat ledakan perbincangan mengenai Bitcoin di media sosial, mulai dari seruan “higher” hingga “above” yang menggambarkan optimisme pasar. Namun, kenaikan tersebut tidak berlangsung lama. Bitcoin kembali terkoreksi ke sekitar USD 92.400, menimbulkan pertanyaan besar mengenai arah pergerakan selanjutnya.

Menurut Santiment, pergerakan pasar cenderung berlawanan dengan perilaku trader kecil, dan hal itulah yang tampak terjadi beberapa jam setelah Bitcoin menyentuh level bulanan terbarunya. Meski demikian, sejumlah katalis eksternal masih dapat mempengaruhi pasar dalam waktu dekat—termasuk keputusan penting dari bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed).

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Semua Tergantung The Fed

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Sejumlah analis memperingatkan bahwa reli Bitcoin ini bisa terancam oleh keputusan The Fed pada Rabu waktu setempat. Berdasarkan pasar berjangka CME Group, terdapat probabilitas 88,6% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 0,25 poin.

COO BTSE Jeff Mei, mengatakan bahwa Bitcoin kemungkinan ikut reli karena ekspektasi pemangkasan suku bunga. Namun, ia menegaskan bahwa arah pasar setelah pengumuman The Fed masih sulit diprediksi. Jika The Fed memberi sinyal hati-hati terkait pemangkasan suku bunga berikutnya, kondisi itu bisa menjadi sentimen negatif bagi Bitcoin.

Pasar berjangka CME juga menunjukkan peluang 21,6% pemangkasan suku bunga tambahan pada Januari 2025. Analis “Sykodelic” menambahkan bahwa pergerakan harga menjelang FOMC sulit dibaca karena volatilitas ekstrem biasanya terjadi setelah pengumuman resmi.

 

Lonjakan Harga yang Janggal

Di sisi lain, sebagian pelaku pasar menilai lonjakan Bitcoin ke USD 94.000 terasa janggal. Investor jangka panjang bernama “NoLimit” mengatakan kepada 53.000 pengikutnya di X bahwa reli tersebut tampak seperti “manipulasi murni.”

Menurut dia, jika dilihat lebih luas, kenaikan cepat itu memiliki “ciri khas pump yang direkayasa.” Ia menjelaskan bahwa order book yang tipis membuat harga mudah didorong naik, sementara pembelian besar dalam hitungan menit diikuti tanpa adanya kelanjutan tren—yang disebutnya sebagai tanda reli tidak organik.

“NoLimit” menambahkan bahwa pola seperti ini biasanya dilakukan pelaku besar untuk menciptakan FOMO sehingga mereka dapat menjual di harga lebih tinggi. Dengan berbagai faktor tersebut, pasar Bitcoin dinilai sedang berada dalam fase penuh ketidakpastian jelang keputusan penting dari The Fed.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya