Liputan6.com, Phnom Penh - Presiden Senat Kamboja Hun Sen pada Selasa (9/12/2025) bersumpah bahwa negaranya akan melakukan perlawanan sengit terhadap Thailand. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah pertempuran besar yang kembali pecah sejak Senin (8/12) dan memasuki hari keduanya, sehingga memaksa puluhan ribu warga mengungsi dari daerah perbatasan.
Pertempuran terbaru ini dipicu oleh baku tembak pada Minggu (7/12) malam yang menewaskan seorang tentara Thailand, meskipun kedua negara sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata yang mengakhiri lima hari pertempuran pada Juli lalu. Bentrokan pada Juli tersebut menewaskan puluhan warga sipil dan personel militer di kedua pihak serta memaksa lebih dari 100.000 warga sipil mengungsi.
Advertisement
Kedua pihak bersumpah untuk terus bertempur
Dalam pernyataan yang diunggah ke Facebook dan Telegram pada hari Senin, Hun Sen menyatakan bahwa Kamboja menahan diri untuk tidak membalas tembakan. Namun, pada malam harinya, Kamboja mulai melancarkan tembakan balasan terhadap pasukan Thailand. Ia menuliskan bahwa dengan memusatkan serangan pada area yang menjadi titik kemajuan Thailand, Kamboja dapat melemahkan dan menghancurkan kekuatan musuh melalui serangan balasan.
Militer Thailand mengatakan bahwa pasukan Kamboja menembakkan artileri ke sebuah desa di Provinsi Sa Kaeo pada Selasa pagi. Serangan tersebut tidak menimbulkan korban. Thailand mengaku bahwa pasukan Kamboja menembaki tentaranya pada Minggu dan Senin, sementara kedua pihak saling menuduh sebagai pihak yang pertama kali melepaskan tembakan.
"Kamboja menginginkan perdamaian, tetapi Kamboja terpaksa melawan untuk mempertahankan wilayahnya," kata Hun Sen seperti dikutip dari Associated Press.
Hun Sen menjabat sebagai perdana menteri Kamboja sejak 1985 hingga 2023, ketika ia digantikan oleh putranya, Hun Manet. Meski tidak lagi menjadi perdana menteri, ia tetap dipandang luas sebagai pemimpin de facto Kamboja.
Militer Kamboja mengumumkan pada Selasa bahwa pertempuran terbaru telah menewaskan tujuh warga sipil dan melukai 20 orang. Dari pihak Thailand, seorang juru bicara militer menyatakan bahwa satu prajurit tewas dan 29 lainnya terluka dalam bentrokan baru tersebut.
Berbicara dalam sebuah konferensi pers, Laksamana Muda Thailand Surasant Kongsiri menuturkan bahwa angkatan laut telah memperkuat posisi mereka di wilayah timur Thailand, dekat perbatasan dengan Kamboja.
Thailand pada hari Senin juga melakukan serangan udara di sepanjang perbatasan, yang disebut sebagai tindakan defensif untuk menargetkan instalasi militer. Surasant menegaskan bahwa operasi semacam itu akan terus dilakukan hingga serangan berhenti.
Gencatan Senjata Rapuh
Pernyataan terpisah dari Komando Angkatan Darat Wilayah ke-2 Thailand, yang berada di sepanjang perbatasan, menyebutkan bahwa hampir 500 tempat penampungan sementara telah didirikan di empat provinsi perbatasan dan kini menampung 125.838 orang. Para pengungsi tambahan diperkirakan akan tinggal bersama kerabat mereka di daerah yang lebih aman.
Pernyataan itu menyebut pula bahwa Kamboja telah menyerang posisi Thailand menggunakan roket dan drone.
Dari pihak Kamboja, pemerintah mengatakan bahwa warga juga melarikan diri dari desa-desa dekat perbatasan.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Senin, mengatakan bahwa operasi militer akan terus dilakukan sesuai kebutuhan untuk mempertahankan negara dan melindungi keselamatan publik.
"Thailand tidak pernah menginginkan kekerasan. Saya ingin menegaskan bahwa Thailand tidak pernah memulai pertarungan atau melakukan invasi, tetapi Thailand juga tidak akan pernah menoleransi pelanggaran terhadap kedaulatannya," kata dia.
Gencatan senjata yang mengakhiri pertempuran pada Juli lalu ditengahi oleh Malaysia dan dipaksakan melalui tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengancam akan mencabut hak-hak istimewa perdagangan dari kedua negara jika tidak tercapai kesepakatan.
Perjanjian lanjutan yang ditandatangani pada Oktober menyerukan agar kedua pihak menarik senjata berat dan perlengkapan militer dari perbatasan; menahan diri dari penyebaran informasi palsu, tuduhan, dan retorika yang merugikan; menerapkan langkah-langkah untuk memulihkan kepercayaan bersama serta hubungan diplomatik penuh; dan berkoordinasi dalam operasi pembersihan ranjau darat.
Namun, tidak satu pun dari langkah-langkah tersebut dinilai dilaksanakan sepenuhnya atau dengan itikad baik oleh kedua pihak. Setelah gencatan senjata, kedua negara justru melanjutkan perang propaganda yang sengit melalui disinformasi, disertai munculnya insiden kekerasan lintas perbatasan dalam skala kecil.
Tahanan dan Ranjau Darat Jadi Isu Rumit
Keluhan utama Kamboja adalah bahwa Thailand tetap menahan 18 tahanan yang ditangkap ketika gencatan senjata mulai berlaku. Adapun Thailand menuduh Kamboja menanam ranjau darat baru di area yang disengketakan, yang dalam beberapa kasus melukai para tentaranya. Kamboja mengatakan ranjau tersebut adalah peninggalan dari dekade-dekade perang saudara yang berakhir pada 1999.
Masalah ranjau membuat Thailand menyatakan pada awal bulan ini bahwa mereka menghentikan sementara implementasi rincian gencatan senjata sampai Kamboja meminta maaf atas masalah tersebut.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinannya atas pertempuran baru, terutama penggunaan serangan udara dan senjata berat, serta menyerukan kedua pihak yang berperang untuk kembali berkomitmen pada gencatan senjata.