Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 akan menghadirkan perubahan besar dalam format pertandingan. FIFA resmi mengumumkan bahwa setiap laga akan dihentikan sejenak untuk “hydration break” selama tiga menit, masing-masing di tengah babak pertama dan babak kedua.
Aturan baru ini membuat pertandingan sepak bola praktis terbagi menjadi empat kuarter, mirip dengan format di NFL atau basket.
Advertisement
Keputusan tersebut disepakati dalam pertemuan antara pejabat FIFA, pelatih, dan pihak penyiaran yang berlangsung bersamaan dengan acara pengundian grup.
Meski menuai perhatian, FIFA menegaskan langkah ini diambil dengan satu tujuan utama: menjaga keselamatan pemain di tengah meningkatnya suhu global dan intensitas kompetisi.
Keamanan Pemain Jadi Prioritas
Tim medis FIFA memberikan dukungan penuh terhadap aturan ini. Mereka menilai jeda reguler jauh lebih efektif daripada “cooling break” yang selama ini hanya diterapkan saat cuaca ekstrem. Kini, tanpa memandang kondisi cuaca atau lokasi stadion, wasit akan meniup peluit untuk memberikan jeda sekitar menit ke-22.
“Tidak peduli di mana pertandingan digelar, apakah ada atap stadion atau bagaimana suhunya, setiap laga akan memiliki jeda hidrasi tiga menit,” demikian pernyataan resmi FIFA.
Manolo Zubiria, Chief Tournament Officer FIFA, menjelaskan bahwa durasi jeda akan berjalan “tiga menit dari peluit pertama hingga peluit akhir.” Jika pada menit tersebut terjadi penanganan cedera, wasit akan menyesuaikan waktunya. Meski jam pertandingan tidak dihentikan, tambahan waktu tiga menit akan selalu dimasukkan pada akhir setiap babak.
Manfaat Taktis Bagi Pelatih
Selain untuk kesehatan pemain, aturan baru ini secara tidak langsung memberi keuntungan tambahan kepada pelatih. Mereka kini memiliki jendela resmi untuk memberikan instruksi dan melakukan penyesuaian taktik tanpa harus menunggu turun minum.
Meski begitu, beberapa kelompok pemerhati pemain, termasuk FIFPRO, sebelumnya menyarankan agar jeda dilakukan lebih sering namun dengan durasi lebih singkat.
Kepala medis FIFPRO, Vincent Gouttebarge, bahkan menilai cooling break tradisional “tidak sepenuhnya logis dari sisi fisiologis”.
Pelajaran dari Turnamen Sebelumnya
FIFA sempat menghadapi kritik pada Piala Dunia Antarklub tahun lalu, ketika beberapa pertandingan digelar dalam suhu ekstrem di MetLife Stadium. Setelah keluhan pemain, ambang batas pemberlakuan cooling break akhirnya diturunkan di tengah turnamen.