Liputan6.com, Jakarta - Pasar kripto kembali menunjukkan kekuatan. Total kapitalisasi pasar global naik menjadi USD 3,09 triliun, meningkat 1,1 persen dalam 24 jam terakhir.
Bitcoin juga menguat ke level USD 91.119, naik 1,55 persen secara harian dan hampir 6 persen dalam sepekan. Sementara itu, Ethereum diperdagangkan di kisaran USD 3.112, melonjak 1,87 persen dalam 24 jam dan 10 persen dalam tujuh hari terakhir.
Advertisement
Dikutip dari coinmarketcap, Senin (8/12/2025), mantan CEO BitMEX, Arthur Hayes, memprediksi Bitcoin sedang memasuki salah satu fase bullish terkuatnya. Dalam sebuah wawancara terbaru, Hayes menyebut kondisi likuiditas di Amerika Serikat pada akhir 2025 sangat mirip dengan situasi yang mendorong reli besar Bitcoin pada paruh kedua 2023.
Hayes menjelaskan bahwa baik pada 2023 maupun 2025, AS sama-sama melalui perdebatan politik terkait batas utang. Di tengah kebuntuan tersebut, Departemen Keuangan AS harus menguras rekening utama pemerintah—Treasury General Account (TGA).
Ketika pemerintah membelanjakan dana dari TGA, likuiditas baru mengalir masuk ke sistem keuangan dan biasanya mendorong penguatan pasar, termasuk Bitcoin.
Namun setelah batas utang dinaikkan, pemerintah perlu mengisi kembali TGA dengan menerbitkan surat utang baru. Proses ini menyedot likuiditas dari pasar dan kerap menekan aset berisiko seperti saham dan kripto.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Mengapa Bitcoin Melejit di 2023?
Pada 2023, pengisian ulang TGA dilakukan melalui surat utang jangka pendek. Pemerintah juga terbantu oleh fasilitas reverse repo The Fed yang saat itu masih menyimpan dana sekitar USD 2,5 triliun sisa dari masa pandemi. Dengan menawarkan imbal hasil tinggi pada Treasury Bills jangka pendek, pemerintah berhasil menarik dana tersebut kembali ke pasar.
Menurut Hayes, langkah ini menyuntikkan USD 2,5 triliun likuiditas segar ke ekonomi AS dari pertengahan 2023 hingga awal 2025, sehingga memicu reli besar pada Bitcoin, saham, emas, hingga properti.
Situasi 2025: Berbeda, Tapi Masih Bullish
Tahun 2025, batas utang kembali dinaikkan dan TGA harus diisi ulang. Namun kondisi kali ini berbeda: kolam reverse repo sudah hampir kosong. Tidak ada dana ekstra USD 2,5 triliun untuk ditarik seperti sebelumnya.
Sebaliknya, likuiditas justru mengetat hampir USD 1 triliun sejak Juli hingga akhir 2025, dipicu oleh penerbitan obligasi dan program pengetatan neraca (quantitative tightening/QT) oleh The Fed. Penyusutan likuiditas inilah yang menekan Bitcoin hingga mendekati rentang USD 80.000.
Pemicu Bullish: QT Berakhir dan Likuiditas Mencapai Titik Terendah
Namun menurut Hayes, fase titik balik telah tiba. Ia menyebut beberapa indikator utama:
- The Fed menghentikan quantitative tightening.
- Tekanan likuiditas di Departemen Keuangan mulai mereda.
- TGA sudah mendekati level target.
- Bank-bank AS kembali meningkatkan penyaluran kredit.
Hayes meyakini penurunan Bitcoin ke kisaran USD 80.000 merupakan titik terendah siklus. Dengan likuiditas global yang mulai membaik, ia memperkirakan Bitcoin akan kembali melanjutkan tren kenaikan.