Kobbie Mainoo Cari Jalan Keluar: Isyarat Masalah Lebih Dalam di Era Amorim?

Situasi Kobbie Mainoo memunculkan pertanyaan besar soal proyek Ruben Amorim di Manchester United. Mengapa ia ingin pergi dan apa dampaknya bagi MU?

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 07 Desember 2025, 10:30 WIB
Sebagai salah satu klub yang memiliki akademi pemain muda terbaik di Eropa, Manchester United telah banyak mengorbitkan para alumnus akademinya untuk bermain di tim senior. Seperti pada musim 2023/2024, tercatat ada beberapa pemain hasil didikan akademi Setan Merah yang menghuni skuad MU musim ini untuk bermain di Premier League. Lima di antaranya telah mencetak gol di Premier League musim ini. Siapa saja? Ini dia daftar kelimanya. (AFP/Ben Stansall)

Liputan6.com, Jakarta - Kobbie Mainoo pernah menjadi simbol harapan di lini tengah Manchester United. Pada usia 18 tahun, ia tampil tanpa gentar saat menjalani debut Premier League di Goodison Park, hanya beberapa hari setelah Everton menerima pengurangan sepuluh poin.

Kepercayaan dirinya membuat banyak pihak terpikat, termasuk Roy Keane yang menilai sang gelandang bermain dengan keberanian dan ketenangan.

Sejak itu, ia terus menjadi pembeda di tengah musim United yang penuh cedera. Dari gol penentu ke gawang Wolves, penyama kedudukan melawan Liverpool, hingga tampil di final Euro 2024 bersama Timnas Inggris, Mainoo seperti melangkah lebih cepat daripada usianya.

Sayangnya, perjalanan itu terhenti mendadak musim ini. Ruben Amorim hanya memberinya satu laga sebagai starter, dan itu pun dalam kekalahan di Piala Liga melawan Grimsby Town.

Sisa waktunya dihabiskan sebagai pemain cadangan, terkumpul hanya 171 menit di Premier League. Situasi ini membuat Mainoo mempertimbangkan untuk pergi, setidaknya untuk sementara.


Kebangkitan Kobbie Mainoo

Kobbie Mainoo bermain luar biasa melawan Wigan Athletic. Pemain yang baru berusia 18 tahun itu memiliki visi bermain layaknya gelandang senior. (AFP/Paul Ellis)

Kebangkitan Mainoo sebelumnya terlihat seperti narasi ideal bagi pemain akademi United. Dia lahir dari sistem pembinaan klub sejak usia sembilan tahun, tumbuh sebagai gelandang teknis yang tenang, cerdas, dan konsisten hadir di momen besar.

Mainoo sendiri pernah menjelaskan gol pentingnya ke gawang Liverpool dengan sederhana. “Saat bola datang, saya ingin sentuhan itu membuka banyak opsi. Tapi ketika jatuhnya seperti itu, peluang menembak ada, jadi saya ambil,” ujarnya.

Ketika ditanya bagaimana ia bisa tahu peluang itu terbuka meski membelakangi gawang, ia tersenyum kecil dan berkata, “Gawang tidak bergerak.”

Respons seperti itu memperlihatkan kepercayaan diri dan pemahaman permainan yang membuat dirinya dipandang sebagai gelandang masa depan United. Tetapi masa depan itu kini tertahan.


Mengapa Amorim Tidak Percaya Mainoo Saat Ini?

Pelatih Manchester United asal Portugal, Ruben Amorim (kanan), menyaksikan penyerang Manchester United asal Belanda #11, Joshua Zirkzee (kiri), meninggalkan lapangan setelah digantikan oleh gelandang Manchester United asal Inggris #37, Kobbie Mainoo, selama pertandingan Liga Primer Inggris antara Manchester United dan Newcastle United di Old Trafford di Manchester, Inggris barat laut, Selasa dini hari WIB (31-12-2024). (Darren Staples/AFP)

Ruben Amorim, dengan pendekatan taktis yang menuntut intensitas dan fleksibilitas, tampak belum melihat Mainoo sebagai pemain yang tepat untuk sistemnya.

Seusai hasil imbang 1-1 melawan West Ham United, ia menjelaskan pendekatannya tanpa tedeng aling-aling. “Saya hanya ingin menang. Saya tidak melihat siapa pemainnya, saya hanya menurunkan yang terbaik,” katanya.

Lanjut Baca:

Dalam penjelasan taktis selanjutnya, Amorim menguraikan alasan spesifik mengapa Mainoo belum cocok. Ia menilai sang gelandang belum sepenuhnya siap berperan sebagai nomor delapan yang harus naik ke kotak penalti dan melakukan cover secara konsisten. “Kobbie Mainoo bagus dalam mengontrol permainan, tapi jika ia bermain sebagai nomor delapan, ia harus masuk kotak penalti, kembali turun, dan menutup ruang. Bruno sudah melakukan itu,” ujar Amorim. Ia juga menyinggung performa Mainoo sebagai gelandang bertahan. Menurutnya, “Kadang ia mengoper bola lalu menjauh, dan itu bukan referensi seorang nomor enam, jadi kami harus menjaga keseimbangan.” Penilaian ini menempatkan Mainoo pada posisi serba salah: terlalu hijau untuk peran nomor delapan, belum cukup matang untuk nomor enam.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya