Asa Cuan di Liburan Akhir Tahun yang Pupus karena Banjir Bandang

November hingga Januari biasanya jadi musim liburan di Thailand selatan. Namun, dampak banjir bandang telah memberi pukulan keras pada pariwisata Hat Yai.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 06 Desember 2025, 09:00 WIB
Pihak berwenang telah mengerahkan helikopter dan perahu untuk mengevakuasi warga yang terjebak dan pasien kritis dari lokasi banjir. Tampak dalam foto, dua pemuda melihat sebuah mobil yang terendam banjir tinggi di Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand selatan, pada Rabu 26 November 2025. (Arnun Chonmahatrakool/THAI NEWS PIX/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Banjir bandang di Thailand selatan telah memberi pukulan berat bagi industri pariwisata Hat Yai. Kondisi ini mengakibatkan ratusan hotel rusak dan banyak wisatawan membatalkan liburan di periode perjalanan paling menguntungkan di kota tersebut, menjelang musim puncak 2025, kata para pemimpin bisnis lokal.

Melansir Khaosod English, Jumat (5/12/2025), Asosiasi Hotel Hat Yai–Songkhla mengatakan, sekitar 90 persen dari 300 hotel di kota tersebut mengalami kerusakan ketika banjir menggenangi pusat komersial Provinsi Songkhla, bulan lalu. Kerugian diperkirakan mencapai lebih dari 50 miliar baht (sekitar Rp 26 triliun).

Operator hotel setempat memperingatkan bahwa kota tersebut akan kehilangan pendapatan akhir tahun, termasuk pemesanan yang diantisipasi terkait Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEA Games). "Desember biasanya merupakan bulan terkuat kami," ujar presiden asosiasi, Sitthipong Sitthiphatprapa, pada Prachachat Business.

"Namun tahun ini, Hat Yai hanya akan menerima setengah dari jumlah wisatawan dari biasanya. Banyak objek wisata, tempat pijat, restoran, dan tempat hiburan masih dalam tahap perbaikan," imbuhnya.

Sitthipong menyebut, kerusakan fisik pada hotel saja diperkirakan mencapai 3 miliar baht (sekitar Rp 1,7 triliun). Sementara itu, banyak properti yang lolos dari banjir tidak dapat beroperasi secara normal karena infrastruktur di sekitarnya masih rusak.

Asosiasi tersebut telah mengajukan delapan proposal bantuan pada Perdana Menteri (PM) Thailand, Anutin Charnvirakul. Ini termasuk moratorium utang selama tiga tahun, pinjaman rehabilitasi tanpa bunga, serta keringanan pajak dan peraturan.

Kerugian Akibat Turis Batal Liburan

Keadaan darurat dan peringatan baru untuk hujan lebat dan banjir bandang telah dikeluarkan oleh Departemen Meteorologi Thailand. Tampak dalam foto, orang-orang berkumpul di samping sebuah toko swalayan 7/11 saat banjir tinggi melanda Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand selatan, pada 26 November 2025. (Arnun Chonmahatrakool/THAI NEWS PIX/AFP)

"Kompensasi pemerintah sebesar 9.000 baht (sekitar Rp 4,7 juta) per rumah tangga mungkin tidak cukup," kata Sitthipong, seraya menambahkan bahwa ia sedang bekerja sama dengan perwakilan asing untuk membantu wisatawan yang terdampar. Konsulat Tiongkok baru-baru ini melaporkan bahwa satu pelancong masih hilang.

Siwat Suwanwong, seorang eksekutif di grup hotel Buri Sriphu dan anggota dewan Asosiasi Hotel Thailand Cabang Selatan, mengatakan banjir telah mengganggu hotel, operator tur, restoran, toko ritel, dan rumah tangga di seluruh Songkhla.

"Semua hotel sudah penuh dipesan untuk Desember, Natal, Tahun Baru, dan SEA Games," ujarnya. "Semua pendapatan itu lenyap."

Siwat memperkirakan, kerugian akibat pembatalan perjalanan dan kerusakan properti mencapai "tidak kurang dari" 50 miliar baht. Ia memperingatkan bahwa pemulihan mungkin membutuhkan waktu lebih lama dari proyeksi pemerintah karena banyak daerah masih menghadapi kekurangan air dan penundaan pembersihan.

80 Persen Hotel Terendam Banjir

Sejumlah ahli mengatakan perubahan iklim akibat ulah manusia telah memperparah cuaca menjadi ekstrem, membuat kondisi semakin tidak terduga. Tampak foto udara yang diambil pada 26 November 2025 menunjukkan banjir yang merendam kendaraan di Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand selatan. (Arnun Chonmahatrakool/THAI NEWS PIX/AFP)

"Bila ingin Hat Yai pulih dalam tujuh hari, kami membutuhkan bala bantuan yang jauh lebih besar dari militer dan instansi pusat," ujar Siwat. "Kami berusaha pulih sebelum Tahun Baru 2026, tapi itu tergantung pada dukungan pemerintah."

Operator pariwisata di wilayah pusat kota termasuk yang paling terdampak, dengan sekitar 80 persen hotel di sana mengalami banjir parah dan area parkir bawah tanah masih terendam. Para pengecer, operator bus danvan, serta perusahaan tur juga melaporkan kerugian yang sangat besar.

Sumber dari Dewan Pariwisata Thailand mengatakan, kerugian ekonomi di sektor perdagangan, jasa, dan perhotelan kini berkisar antara 11,8 miliar hingga 23,6 miliar baht (sekitar Rp 6,1 triliun─Rp 12,3 triliun). Kerugian harian akibat terhentinya perjalanan diperkirakan mencapai 1 miliar hingga 1,5 miliar baht (sekitar Rp 520 miliar─Rp 781 miliar).

300 Hotel Terdampak Penutupan Paksa

Mobil dan rumah terendam banjir di Provinsi Songkhla, Thailand selatan, Rabu 26 November 2025. Banjir besar melanda wilayah Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand, pada Rabu (26/11/2025). (AP Photo/Arnun Chonmahatrakool)

Lebih dari 300 hotel dengan sekitar 30.000 kamar telah terdampak pembatalan dan penutupan paksa. Jumlah wisatawan Malaysia—pasar terpenting kota ini—diperkirakan akan turun sebesar tujuh persen jika kondisi ini berlanjut selama satu minggu, dan delapan persen jika lebih lama.

Pendapatan pariwisata di Songkhla turun menjadi 1,92 miliar baht (sekitar Rp 999 miliar) pada November 2025, turun 8,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pengeluaran di wilayah selatan yang lebih luas turun 4,1 persen menjadi 2,41 miliar baht (sekitar Rp 1,2 triliun). Para pejabat memperkirakan angka Desember akan semakin melemah.

November hingga Januari biasanya jadi musim liburan di Thailand selatan. Beberapa provinsi kini berisiko kehilangan jendela pendapatan terpenting mereka, dengan pemulihan kemungkinan tertunda hingga sekitar Tahun Baru Imlek 2026.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya