Saham Boeing Melonjak Setelah Prediksi Peningkatan Pengiriman Pesawat 737 dan 787

CFO Boeing, Jay Malave, mengungkapkan proyeksi peningkatan pengiriman jet 737 dan 787 pada 2026.

oleh Haniah NabilahDiterbitkan 04 Desember 2025, 15:42 WIB
Ilustrasi pesawat Boeing 737 MAX (AFP Photo)

Liputan6.com, Jakarta - Saham Boeing meroket lebih dari 10% pada Selasa, 2 Desember 2025 setelah CFO Boeing, Jay Malave, mengungkapkan optimisme besar mengenai kinerja pengiriman pesawat pada tahun depan dan proyeksi untuk 2026. Pada konferensi UBS, Malave menyatakan, Boeing berharap dapat meningkatkan pengiriman jet 737 dan 787 pada 2026.

Ia juga mengungkapkan, sertifikasi untuk pesawat 737-10, yang sebelumnya tertunda, akan terwujud pada akhir 2026, memberikan harapan lebih bagi investor dan pelanggan.

Tahun 2026 Jadi Titik Balik

Malave menyebutkan,mereka akan meningkatkan pengiriman pesawat dan hal ini diperkirakan akan menjadi "pendorong besar" bagi arus kas perusahaan. Boeing memperkirakan, arus kas bebas positif akan mencapai miliaran dolar AS dengan angka satu digit rendah pada tahun mendatang, yang dapat memberikan pengaruh positif pada posisi keuangan perusahaan.

Meski demikian, Boeing belum melaporkan laba tahunan sejak 2018, dan proyeksi untuk 2026 dianggap sebagai titik balik yang signifikan.

Peningkatan Margin Kas hingga 2030

Boeing juga mengungkapkan mereka memperkirakan margin kas akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan hingga 2030 berkat produktivitas yang lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan harapan perusahaan untuk mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi operasional dalam beberapa tahun mendatang.

Perusahaan ini sempat terhantam dengan sejumlah masalah, termasuk ledakan sumbat pintu pada penerbangan yang terjadi pada Januari 2024. Namun, setelah masa pengawasan yang ketat, Boeing mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. CEO Kelly Ortberg menyebutkan, perusahaan telah melihat perbaikan dalam kinerja bisnisnya, termasuk pengurangan kerugiannya.

 

Pengiriman Pesawat Tertinggi Sejak 2018

Boeing 737 Next-Generation (Dok boeing.com)

Di sisi lain, Boeing berhasil mencatatkan laju pengiriman pesawat yang kuat pada bulan Oktober, yang membawa perusahaan pada jalur untuk mencapai total pengiriman tahunan tertinggi sejak 2018.

Pengiriman pesawat jet Boeing yang terus meningkat ini mengarah pada kembali masuknya perusahaan ke wilayah positif dalam hal arus kas untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun pada Oktober 2025.

Salah satu faktor penting yang mendukung peningkatan pengiriman Boeing adalah pencabutan pembatasan oleh Administrasi Penerbangan Federal (FAA) terhadap pesawat-pesawat 737 Max dan 787 Dreamliner. Langkah ini memungkinkan Boeing untuk segera menyetujui beberapa pesawat dan mengirimkannya kepada pelanggan, mempercepat pemulihan perusahaan di tengah tantangan yang ada.

 

 

Rugi Boeing

Ilustrasi pesawat Boeing 737 Max 8 (AFP/Stephen Brashear)

Sebelumnya diberitakan, raksasa penerbangan Amerika Serikat mencatat kerugian kuartalan sebesar USD 5,4 miliar atau Rp 89,84 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.637).

Mengutip DW, Kamis (30/10/2025), kerugian yang dialami Boeing karena denda sebesar USD 5 miliar atau Rp 83,18 triliun imbas menunda pengiriman pertama model 777X yang telah lama tertunda hingga 2027.

Boeing mengatakan, kerugian tersebut termasuk kompensasi yang harus dibayarkan kepada pelanggan yang mengalami keterlambatan pengiriman.

Bulan lalu, CEO Boeing Kelly Ortberg menuturkan, perusahaan terlambat dalam sertifikasi jet tersebut dan masih banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan. Namun, ia belum mengumumkan penundaan lebih lanjut setelah tanggal pengiriman 2026 yang direncanakan pada saat itu.

Model pesawat 777X sangat penting bagi strategi jangka panjang Boeing untuk pesawat berbadan lebar yang bertujuan untuk merebut pangsa pasar. Sebelumnya pangsa pasar itu dipegang oleh 747 dan 777 yang lebih besar untuk rute lebih sibuk dan jarak jauh, serta rute internasional.

 

Buka Pintu bagi Pesaing Boeing

Ilustrasi Saudi Airlines. (Dokumentasi Boeing)

Sertifikasi dan penundaan produksi yang berulang telah menunda pengiriman sejak penerbangan perdana pesawat tersebut pada 2020. Boeing meraup biaya sebesar USD 15 miliar atau Rp 249,63 triliun dalam prosesnya yang semakin bebani keuangannya.

"Meskipun kami kecewa dengan penundaan jadwal 777X, pesawat ini terus berkinerja baik dalam uji terbang, dan kami tetap fokus pada pekerjaan yang akan datang untuk menyelesaikan program pengembangan kami dan menstabilkan operasi kami untuk memulihkan kinerja perusahaan sepenuhnya dan memulihkan kepercayaan dengan semua pemangku kepentingan kami,” ujar Ortberg.

Masalah-masalah ini telah membuka pintu bagi pesaing Boeing di Eropa, Airbus yang sedang berupaya meningkatkan penjualan. Salah satu melalui pesawat andalannya baru A350 untuk jarak jauh dan berkapasitas tinggi.

Waktunya juga jauh dari ideal dengan permintana perjalanan udara internasional yang kembali naik setelah pandemi COVID-19 dan maskapai yang kembali bersemangat untuk akuisisi pesawat baru.

Saham Boeing turun sekitar 1% sebelum perdagangan. Analis wall street telah berita negative tentang 777X sebelum pengumuman pada Rabu ini.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya