Liputan6.com, Jakarta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan penjelasan terkait makna dari gestur mengepal dan mengangkat kedua tangan saat menyampaikan pidatonya dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Kota Johannesburg, Afrika Selatan, pada 22-23 November 2025.
Gestur ini cukup menarik perhatian publik lantaran muncul di bagian pidato yang menyoroti posisi struktural negara berkembang, dalam rantai ekonomi dunia.
Advertisement
Gibran mengatakan, tindakan tersebut bertujuan untuk memberikan penekanan tentang pesan utama Indonesia, yaitu mengenai perlunya pengakuan dan penanganan terhadap ketimpangan yang selama ini dirasakan oleh negara-negara berkembang.
Menurutnya, negara-negara berkembang sering kali ditempatkan hanya sebagai pasar dan pemasok bahan mentah, sebuah posisi yang melemahkan daya tawar mereka di perdagangan global.
“Yang jelas bisa kita lihat, selama ini negara-negara berkembang itu hanya jadi pasar dan menjadi pemasok bahan mentah. Itu yang saya tekankan kemarin,” ujar Gibran dalam wawancara eksklusif dengan Pemimpin Redaksi SCTV dan Indosiar, Retno Pinasti pada Selasa, 2 Desember 2025.
Hilirisasi Jadi Strategi Kunci Multisektor
Untuk memperlihatkan tekad kuatnya, Gibran pun memilih untuk memvisualisasikan lewat gestur tersebut,. Dia menegaskan, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto akan berfokus pada agenda hilirisasi.
“Indonesia di bawah leadership-nya Pak Presiden Prabowo fokus ke hilirisasi,” katanya.
Tujuan utama dari hilirisasi berpusat pada tiga pilar utama, yaitu untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, diarahkan pada penciptaan lapangan kerja yang lebih berkualitas, dan merupakan langkah tegas untuk mengakhiri ketergantungan Indonesia terhadap pengiriman barang mentah.
Gibran juga menekankan bahwa transformasi ini bersifat multisektor.
“Hilirisasi ini bukan berarti hanya hilirisasi tambang, tapi juga pertanian, maritim, sampai digital,” jelas Gibran.