Gunung Ile Werung di Lembata NTT Erupsi Eksplosif, Dua Desa Beresiko

Erupsi yang terjadi membuat status Gunung Ile Werung naik ke level waspada.

oleh Ola KedaDiterbitkan 02 Desember 2025, 12:25 WIB
Gunung Ile Werung (Foto: Badan Geologi/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta Gunung Ile Werung di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, mengalami peningkatan aktivitas gempa dan dinaikkan statusnya dari Level I (normal) ke Level II (Waspada).

Peningkatan status oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) pada Minggu (30/11/25) itu menjadi perhatian serius untuk mengambil langkah mitigasi sedini mungkin.

Mitigasi awal lewat imbauan terbuka mulai dilakukan oleh Pemerintah Kecamatan Atadei ke desa-desa di sekitar gunung itu.

Dua Desa Rawan

Sekretaris Camat (Sekcam) Atadei, Mikael Boli, menuturkan ada dua desa yang letaknya dekat dengan Gunung Ile Werung. Salah satu desa bahkan lebih berisiko lantaran ketiadaan akses evakuasi darat.

"Ada dua desa, yaitu Desa Lerek dan Desa Dulir yang jaraknya kurang lebih 3 kilometer," ujarnya, Selasa 2 Desember 2025.

Mikael menuturkan, Desa Dulir dan Desa Lerek berada di ketinggian, sementara Gunung Ile Werung yang terpacak di dekat pantai arah selatan Lembata.

Menurutnya, jika peningkatan aktivitas gempa hingga terjadi erupsi eksplosif ke arah barat, Desa Dulir menjadi wilayah yang paling berisiko lantaran jalur evakuasi harus melewati Gunung Ile Werung.

"Kalau Lerek ini akses untuk menjauh ke desa lain lebih mudah, sementara Desa Dulir sepertinya terjebak, mau ke Lerek harus lewati gunung, dan itu hanya satu-satunya jalan," ungkapnya.

Pihaknya sedang membangun koordinasi dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Lerek dan Dulir untuk mengimbau wasyarakat agar tetap waspada dan mematuhi arahan pemerintah.

Naik Level ke Waspada

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Badan Geologi, Lana Saria, menyebut Gunung Ile Werung mengalami peningkatan kegempaan vulkanik dalam, yaitu sejak 1 sampai 28 November 2025.

Dalam periode itu, jelasnya, terjadi 7 kali gempa vulkanik dalam, 27 kali gempa tektonik lokal, 18 kali gempa terasa, dan 108 kali gempa tektonik jauh.

"Aktivitas hembusan asap kawah masih tidak teramati, begitu pula dengan bualan di bawah laut terutama sekitar areal Gunung Hobal dan Gunung Weitiar," ujarnya lewat laporan khusus.

Pada 29 November 2025, aktivitas kegempaan Ile Werung kembali terekam signifikan yaitu 23 kali kejadian.

Hal ini mengindikasikan tekanan dari dalam tubuh Ile Werung akibat meningkatnya aktivitas magmatik atau adanya migrasi magma dari kedalaman dalam ke kedalaman dangkal.

Saria mengungkapkan potensi bahaya letusan Gunung Ile Werung yang bersifat eksplosif atau dahsyat dengan ancaman berupa awan panas, aliran lava, lontaran batu (pijar), gas beracun di kawasan puncak.

"Harus diwaspadai potensi bahaya berupa aliran lava dan lontaran material bawah laut terutama sekitar area Gunung Hobal dan Gunung Wetitar. Dampak yang dapat ditimbulkan dapat berupa peningkatan muka air laut di sekitar area," tuturnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya