Liputan6.com, Jakarta - Dentuman musik terdengar keras begitu pintu Kai Tak Arena dibuka pada satu malam di bulan September 2025. Seiring Liputan6.com melangkah masuk menuju kursi tempat duduk, orang juga bebas lalu lalang. Banyak pula distraksi lain, entah itu suara komentator atau permainan cahaya.
Tidak ada yang menyangka suasana itu hadir pada pertandingan tenis. Tapi itulah yang terjadi.
Advertisement
Inilah pertandingan Ultimate Tennis Showdown (UTS), kompetisi yang coba memberi warna baru pada cabang olahraga tersebut. Jurnalis Liputan6.com Harley Ikhsan berkesempatan merasakan langsung gegap gempita laga saat UTS mampir untuk kali pertama di Asia, tepatnya Hong Kong.
Bukan cuma itu yang berbeda. Pemain diwawancara pada jeda pertandingan, sehingga penonton jadi lebih dekat dan tahu apa yang dirasakan sang atlet. Ada pula hiburan pada istirahat, mulai manusia berkostum boneka yang menari hingga lomba anak-anak, bak kompetisi olahraga di Amerika Serikat.
Tenis Rasa Baru
UTS semula hadir untuk memfasilitasi pemain berkompetisi saat kalender terganggu Covid-19. Ajang ciptaan pelatih legendaris Patrick Mouratoglou dan pebisnis Alex Popyrin itu menggelar debut di Biot, Prancis, pada 2020. Edisi Hong Kong merupakan UTS 15 dengan Francisco Cerundolo keluar sebagai pemenang.
Kesuksesan tersebut sekaligus membawanya ke Grand Final 2025 yang berlangsung di London pada 5-7 Desember di Copper Box Arena, Inggris. Cerundolo masuk Grup B bersama Casper Ruud, Jack Draper, dan David Goffin. Sementara di Grup A hadir Alex de Minaur, Andrey Rublev, Tomas Machac, dan Adrian Mannarino.
Tenis Rasa Baru
Keheningan merupakan salah satu hukum utama pada tenis tradisional. Penonton hanya bisa bersorak setelah poin tercipta. Pengunjung juga biasanya baru diizinkan duduk di kursi tribune ketika pergantian game.
Tapi tidak di UTS. Cerundolo, yang saat ini menempati peringkat 21 dunia, pun mengaku sempat kagok dan membiasakan diri. Maklum, turnamen di Hong Kong merupakan debutnya di UTS.
"Saya sudah mengerti peraturan. Tetapi saya tetap harus adaptasi untuk mengetahui bagaimana memainkannya, lalu mulai menemukan cara mengeluarkan kemampuan," katanya usai duel pertama versus Mannarino.