Komunikasi Terputus saat Banjir di Aceh, Kapal BC 30001 Jadi Titik Darurat Warga

Bandwidth internet kapal ditingkatkan dan ransum kapal dibagikan kepada warga. Bea Cukai juga berkoordinasi dengan TNI Angkatan Laut untuk pemenuhan pasokan air tawar.

oleh Luqman RimadiDiterbitkan 30 November 2025, 22:47 WIB
Kapal Patroli Bea Cukai BC 30001 menjadi titik komunikasi darurat bagi warga dan pegawai lintas instansi saat bencana akibat cuaca ekstrem di pulau Sumatera terjadi. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Upaya membantu masyarakat yang terdampak banjir dan tanah longsor di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra terus dilakukan melalui jalur laut dan darat.

Cuaca ekstrem sejak Rabu, 26 November 2025 menyebabkan listrik padam, akses komunikasi terputus, serta jalur transportasi tidak dapat dilalui di Langsa, Lhokseumawe, dan sejumlah kabupaten lainnya. Kondisi ini membuat ribuan warga masih membutuhkan dukungan logistik dan ruang aman sementara.

Di tengah terputusnya jaringan komunikasi darat, Kapal Patroli Bea Cukai BC 30001 menjadi titik komunikasi darurat bagi warga dan pegawai lintas instansi. Pada Kamis (27/11), anjungan dan ruang tengah kapal ditata untuk menampung puluhan warga yang mencari perlindungan sementara.

Bandwidth internet kapal ditingkatkan dan ransum kapal dibagikan kepada warga. Bea Cukai juga berkoordinasi dengan TNI Angkatan Laut untuk pemenuhan pasokan air tawar.

Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai, Nirwala Dwi Heryanto, menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi perhatian utama dalam penyaluran bantuan.

“Di situasi seperti ini, yang terpenting adalah keselamatan dan terpenuhinya kebutuhan dasar warga. Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar setiap dukungan logistik benar-benar meringankan beban saudara-saudara kita di daerah terdampak,” ujarnya.

 

Pengiriman Bantuan Lewat Laut Diperkuat

Tim penyelamat memegang tali dalam upaya mengevakuasi kendaraan dan warga yang terjebak banjir di Padang, Provinsi Sumatera Barat pada Kamis 27 November 2025. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Sumatra Barat melaporkan, total 27.433 warga terdampak banjir akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak awal pekan lalu. (REZAN SOLEH/AFP)

Upaya penyaluran bantuan melalui jalur darat juga dilakukan. Setelah melewati jalanan yang tertutup material longsor, mobil patroli Bea Cukai Aceh menembus Pidie Jaya pada Sabtu (29/11) dan mencapai Posko Peduli Banjir Gampong Beuringen untuk menyalurkan bantuan dasar dari pegawai serta melakukan pemetaan cepat kondisi jalan demi pengiriman berikutnya.

Sementara itu, pengiriman bantuan lewat laut diperkuat dengan keberangkatan Kapal Patroli BC 60001 dari Tanjung Balai Karimun pada Sabtu (29/11) pukul 19.15 WIB dengan membawa bahan kebutuhan pokok, air minum, LPG, dan perlengkapan darurat.

Kapal diperkirakan tiba di Langsa setelah perjalanan sekitar 30 jam, menjadi alternatif utama karena akses darat dari Medan ke Langsa masih terputus.

Pada Minggu (30/11) pagi, BC 30001 melakukan operasi Ship-to-Ship (STS) dengan KRI Sutedi Senoputro 378 untuk mempercepat distribusi. Selama dua jam proses pemindahan, sebanyak 2.000 dus mi instan dan 1.000 papan telur ayam dialihkan dan langsung didistribusikan Pemerintah Kota Langsa bersama Satpol PP, Polres, Polairud, dan sejumlah instansi terkait. Kapal kemudian sandar di Pelabuhan Langsa pukul 10.30 WIB untuk penyaluran lanjutan.

Nirwala menegaskan bahwa proses penanganan dilakukan dengan mengedepankan kolaborasi.

“Bencana ini mengingatkan kita untuk saling menjaga. Kami berupaya hadir sebagai bagian dari gotong-royong nasional, bekerja bersama siapa pun yang ada di garis depan,” ujarnya.

Seiring proses pemulihan yang masih berlangsung, pemerintah berharap distribusi logistik dari jalur laut dan darat dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan dasar warga di wilayah terdampak banjir dan longsor.

Infografis Penanganan Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Sumbar. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya