Liputan6.com, Jakarta Aula Simfonia menjadi saksi bisu perhelatan musik megah yang tidak hanya menampilkan keindahan nada, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan. Light Ministry Orchestra (LMO) sukses menggelar konser ketiga bertajuk “Rise Through Rhythm” pada Sabtu, 30 November 2025. Panggung megah tersebut terasa semakin istimewa lantaran kehadiran konduktor legendaris Indonesia, Addie MS, yang memimpin jalannya pertunjukan.
Di kesempatan berharga ini, para musisi muda LMO tampil memukau membawa energi luar biasa ke dalam setiap harmoni.
Advertisement
Konser ini menandai konsistensi LMO dalam menyediakan ruang aman dan inklusif bagi para generasi muda untuk berekspresi. Wadah ini juga menyatukan talenta-talenta terpilih melalui proses audisi ketat, menggabungkan anak-anak reguler dan anak berkebutuhan khusus (ABK) yang ditempa dalam pelatihan intensif sepanjang tahun.
Semangat inklusivitas yang diusung LMO lahir dari inisiatif tiga anak muda, yakni Edmund Lucius Oey, Maddison Kurniawan, dan Celine Handoko. Ketiganya juga turut ambil bagian di atas panggung memperkuat formasi orkestra.
"Semoga malam ini mengingatkan semua orang bahwa sekecil apa pun suara kalian, kalian selalu bisa bangkit melalui irama," ujar Celine Handoko.
Edmund dan Maddison menunjukkan kepiawaian mereka pada instrumen piano. Sementara Celine memetik dawai harpa, memimpin rekan-rekannya yang berjumlah total 71 pemain, yang terdiri dari 55 anak reguler dan 16 anak berkebutuhan khusus.
Konser “Rise Through Rhythm” menyajikan kolaborasi vokal yang menambah kemegahan suasana melalui kehadiran tiga kelompok paduan suara anak. Penonton disuguhkan harmonisasi suara dari Septem Stellarum (Santa Ursula BSD), PENABUR Children Choir (BPK PENABUR), dan Percik Children Choir (Perguruan Cikini) yang berpadu apik dengan orkestrasi LMO.
Dua Sesi dalam Repertoar
Daftar repertoar yang dibawakan dibagi menjadi dua sesi, dimulai dengan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang diaransemen oleh Josef Cleber. Bagian pertama konser didominasi karya klasik berat seperti "Le Nozze di Figaro" milik Mozart, Swan Lake Suite dari Tchaikovsky, hingga "Waltz No.2" karya Shostakovich.
Memasuki bagian kedua, suasana menjadi lebih cair dan populer dengan pilihan lagu-lagu yang akrab di telinga penonton dari berbagai usia. Orkestra ini dengan luwes membawakan Selections from The Phantom of the Opera, tema ikonik Pirates of the Caribbean, hingga lagu penutup yang menyentuh hati, "Lisoi" karya Nahum Situmorang.