Liputan6.com, Jakarta - Generasi muda Amerika Serikat (AS) kini beralih ke kripto. Langkah generasi muda AS ini seiring semakin jauhnya untuk memiliki rumah. Gen Z disalahkan karena boros, malas dan cenderung you only live once (Yolo) terhadap investasi berisiko seperti kripto dan token non-fungible (NFT).
Namun, anak muda telah menerima label ini dan perilaku mereka bahkan dapat dikatakan rasional. Hal ini seiring memburuknya kondisi ekonomi, termasuk semakin mahalnya harga rumah. Hal ini merupakan temuan dari laporan Financial Times terbaru oleh John Burn-Murdoch. Demikian mengutip Yahoo Finance, Senin (1/12/2025),
Advertisement
Dua ekonom Seung Hyeong Lee dari Northwestern University dan Younggeun Yoo dari University of Chicago baru-baru ini menerbitkan sebuah studi yang menunjukkan lebih sedikit pekerjaan, lebih banyak waktu luang dan investasi dalam aset keuangan berisiko seperti kripto semuanya sangat umum di kalangan anak muda yang tidak mampu membeli rumah.
Sebaliknya, menurut riset tersebut, mereka yang memiliki rumah atau berprospek untuk segera memiliki rumah mengambil lebih sedikit risiko.
Jika tabungan tetap dan akumulasi aset tradisional tidak lagi cukup untuk mengamankan rumah, beberapa rumah tangga mungkin akan memilih strategi berisiko tinggi dan berimbal hasil tinggi seperti berinvestasi dalam mata uang kripto sebagai pilihan terakhir, menurut studi tersebut.
Harga rumah di AS naik 2,2% antara kuartal ketiga 2024 dan kuartal ketiga 2025, menurut Indeks Harga Rumah Federal Housing (FHFA) AS (FHFA HPI).
Secara nasional, pasar perumahan AS telah mengalami apresiasi tahunan yang positif setiap kuartal sejak awal 2012.
"Memang wajar meratapi nihilisme ekonomi yang semakin meningkat di kalangan generasi muda, dan bukti menunjukkannya, tetapi mereka hanya memainkan kartu yang telah diberikan kepada mereka,” tulis Burn-Murdoch.
Ketika ia memperluas penelitian ke Inggris, gambaran serupa muncul. Anak muda dengan sedikit atau tanpa prospek untuk memiliki rumah dalam waktu dekat lebih cenderung mengambil risiko keuangan dibandingkan mereka yang berada dalam jangkauan untuk memiliki rumah.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Turkmenistan Sahkan UU Penambangan dan Bursa Kripto
Sebelumnya, Turkmenistan mengesahkan undang-undang yang melegalkan dan mengatur aset digital termasuk lisensi untuk bursa kripto dan perusahaan penambangan kripto.
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Sabtu (29/11/2025), berdasarkan surat kabar Neutral Turkmenistan melaporkan Presiden Turkmenistan Serdar Berdymukhamedov telah menandatangani undang-undang yang melegalkan dan mengatur aset digital yang akan mulai berlaku pada 1 Januari 2026.
Turkmenistan, negara Asia Tengah yang sebagian besar berupa gurun dengan cadangan gas terbesar keempat di dunia, baru-baru ini berupaya mendiversifikasi ekonomi-nya di luar ekspor gas alam yang sebagian besar dikirim ke China.
Seorang juru bicara pemerintah mengatakan kepada Reuters kalau undang-undang tersebut akan membantu menarik investasi dan meransang digitalisasi.
Undang-undang baru ini mengatur pembuatan, penyimpanan, penempatan, penggunaan dan peredaran aset virtual di Turkmenistan serta mendefinisikan status hukum dan ekonominya.
Sementara itu, Kyrgyztan, negara Asia Tengah lainnya telah memposisikan sebagai pemimpin regional di sektor ini meluncurkan stablecoin nasional dalam kemitraan dengan bursa kripto Binance.
Kazakhstan Lirik Kripto Jadi Cadangan Negara
Sebelumnya, Bank Sentral Kazakhstan berencana menambahkan aset kripto ke dalam cadangan nasional mereka. Hal ini diumumkan langsung oleh Gubernur Bank Sentral Kazakhstan, Timur Suleimenov.
Dikutip dari coinmarketcap, Selasa, 15 Juli 2025, langkah ini diambil agar investasi negara tidak hanya bergantung pada satu sumber, melainkan lebih beragam. Kazakhstan berharap bisa mendapatkan imbal hasil (keuntungan investasi) yang lebih tinggi, meskipun mereka tetap memperhitungkan risiko naik-turunnya harga kripto yang tinggi.
"Imbal hasil tinggi memang menarik, tapi fluktuasi nilainya tetap harus dipertimbangkan dengan hati-hati," kata Suleimenov.
Meniru Negara Maju
Strategi ini terinspirasi dari negara-negara seperti Norwegia, Amerika Serikat, dan kawasan Timur Tengah. Negara-negara tersebut sudah lebih dulu memasukkan kripto sebagai bagian dari strategi investasi mereka, baik melalui kepemilikan langsung, reksa dana berbasis kripto (ETF), maupun saham perusahaan yang bergerak di industri kripto.
Kazakhstan menyebut pendekatannya sebagai "sub-portofolio agresif", yang artinya sebagian kecil dari aset negara akan dialokasikan untuk investasi berisiko tinggi namun berpotensi memberi keuntungan besar.
"Kami pelajari bagaimana dana Norwegia, Amerika, dan Timur Tengah mengelola investasi mereka, terutama yang berkaitan dengan kripto," ujar Suleimenov.