Liputan6.com, Bangkok - Jumlah korban tewas akibat banjir di Thailand telah mencapai 170 orang, menurut laporan Kementerian Kesehatan Masyarakat negara itu—meningkat delapan orang dari hari Sabtu (29/11/2025)—dengan 102 orang terluka.
Hat Yai, kota terbesar di Songkhla, diguyur 335 mm hujan pada Jumat (28/11)—curah hujan harian tertinggi dalam 300 tahun.
Advertisement
Pihak berwenang terus menyalurkan bantuan dan membersihkan kerusakan.
Langkah-langkah bantuan yang digulirkan pemerintah Thailand mencakup kompensasi hingga dua juta baht atau sekitar Rp1 miliar bagi rumah tangga yang kehilangan anggota keluarga. Demikian seperti dikutip dari CNA.
Kritik publik terhadap respons banjir Thailand semakin meningkat. Dua pejabat lokal telah diskors terkait dugaan kelalaian mereka.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan pada Sabtu bahwa ia mengakui kekurangan pemerintah dalam menangani banjir. Ia menambahkan bahwa saat mengunjungi daerah terdampak, ia telah meminta maaf kepada warga karena pemerintah tidak mampu menjaga dan melindungi mereka.
Musim monsun tahunan, yang biasanya berlangsung antara Juni dan September, kerap membawa hujan lebat yang memicu tanah longsor dan banjir bandang.
Badai tropis Senyar telah memperburuk kondisi tersebut, membuat jumlah korban di Indonesia dan Thailand menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Situasi ini terjadi di tengah perubahan iklim yang memengaruhi pola badai—baik durasi maupun intensitasnya—sehingga memicu curah hujan lebih deras, banjir bandang, dan hembusan angin yang lebih kuat.