Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melanjutkan reli kuatnya pada akhir pekan, menembus level psikologis penting USD 4.200 per ons setelah berminggu-minggu pergerakan liar dan koreksi tajam.
Tidak seperti pekan-pekan sebelumnya, harga emas dunia kali ini bergerak stabil atas tanpa adanya tekanan signifikan untuk menguji kembali support kritis di USD 4.000. Harga emas di pasar spot membuka minggu ini di USD 4.074,12 dan sempat turun ke USD 4.044, namun tiga kali pantulan di level tersebut memberi sinyal kuat bahwa pasar siap bergerak naik.
Advertisement
Dikutip dari Kitco.com, Minggu (30/11/2025) mengikuti sesi Amerika Utara pada hari Senin, emas sudah dua kali menguji level USD 4.080 sebelum akhirnya menembus resistensi USD 4.100. Sesi Asia mendorong harga setinggi USD 4.152, dan meski sempat terkoreksi untuk menguji support, pembeli kembali mengendalikan pasar dan mempertahankan tren naik.
Pola konsolidasi sempit mulai terbentuk antara USD 4.145 – USD4.170 sepanjang libur Thanksgiving AS.
Pada Kamis malam, emas kembali menunjukkan kekuatannya dengan pergerakan tajam hingga ke atas USD 4.192 per ons. Setelah koreksi singkat, momentum semakin membesar menjelang penutupan minggu. Sentimen terhadap logam mulia lainnya yang juga menguat, seperti perak dan tembaga, turut mendorong minat beli lebih besar.
Puncaknya terjadi pada Jumat siang ketika emas spot melesat hingga USD 4.226,91 level tertinggi mingguan sebelum akhirnya menutup pekan dengan mempertahankan hampir seluruh keuntungannya. Dengan kenaikan 3,5% dalam satu minggu, emas kini memasuki zona bullish yang semakin kokoh.
Kenaikan kuat ini juga memicu optimisme di kalangan analis dan investor ritel, yang sebagian besar memprediksi bahwa tren naik akan berlanjut menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve bulan Desember.
Analis Pecah Pendapat Menjelang Keputusan The Fed
Meskipun tren harga emas menunjukkan penguatan signifikan, para analis masih terbagi terkait apa yang akan terjadi minggu depan. Sebagian besar analis yang berpartisipasi dalam Survei Kitco memprediksi kenaikan lanjutan, dengan 79% mengharapkan harga emas bergerak naik. Mayoritas sentimen positif ini didorong oleh harapan terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Fed.
Namun beberapa analis memperingatkan bahwa ketidakpastian masih tinggi. Data ekonomi yang akan dirilis minggu depan termasuk PMI, klaim pengangguran, dan Core PCE dapat memicu volatilitas baru. Spekulasi mengenai proses perdamaian Ukraina serta perubahan dalam ekspektasi suku bunga juga berpotensi membatasi reli emas.
Di sisi lain, sebagian kecil analis memperkirakan adanya aksi ambil untung setelah kenaikan besar sejak awal tahun. Mereka melihat risiko koreksi jangka pendek, terutama jika pasar menilai bahwa kenaikan emas sudah terlalu cepat dibandingkan fundamental ekonomi.
Target Harga Baru Muncul saat Emas Mendekati Rekor Tertinggi
Dengan momentum yang semakin kuat, beberapa bank besar kini mengeluarkan proyeksi harga emas yang lebih agresif. UBS memperkirakan emas dapat mencapai USD 4.500 pada akhir 2026, sementara Deutsche Bank melihat rata-rata harga berada di sekitar USD 4.450 per ons dalam beberapa tahun mendatang. Prediksi ini ditopang oleh pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil Treasury.
Secara teknikal, analis melihat bahwa emas kini berada di jalur untuk menantang rekor tertingginya pada akhir Oktober. Breakout di atas resistensi USD 4.195 disebut sebagai sinyal bahwa dorongan bullish selanjutnya segera tiba. Jika emas berhasil menembus resistance November di sekitar USD 4.285, reli lebih besar diprediksi akan berlanjut.
Namun, beberapa analis teknikal tetap mengingatkan adanya risiko pullback jangka pendek jika emas gagal menjaga level support di sekitar USD 4.150. Para trader kini memantau zona tersebut sebagai penentu apakah reli ini akan berlanjut atau mengalami jeda sementara.