Liputan6.com, Jakarta - November menjadi bulan yang berat bagi Palantir Technologies. Saham perusahaan perangkat lunak dan analitik asal Denver tersebut merosot 16 persen, menjadi penurunan bulanan terburuk sejak Agustus 2023.
Tekanan ini muncul seiring aksi jual besar-besaran saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) akibat kekhawatiran valuasi yang dinilai terlalu tinggi.
Advertisement
Dikutip dari CNBC, Sabtu (29/11/2025), Palantir mengawali November dengan kabar positif. Perusahaan berhasil melampaui ekspektasi pendapatan dan laba pada kuartal III, sekaligus mencatat pendapatan lebih dari USD 1 miliar untuk kuartal kedua berturut-turut.
Namun, sentimen pasar tidak mendukung setelah sejumlah analis menyebut valuasi Palantir berada pada level “ekstrem”.
Analis Jefferies menilai peluang keuntungan yang lebih menarik justru datang dari saham berbasis AI lain seperti Microsoft dan Snowflake. RBC Capital Markets juga menyoroti profil pertumbuhan Palantir yang dinilai semakin terkonsentrasi. Sementara Deutsche Bank menyebut valuasi perusahaan “sulit untuk dicerna”.
Aksi jual saham makin memanas setelah terungkap bahwa investor legendaris Michael Burry—yang dikenal karena memprediksi krisis perumahan 2008—bertaruh melawan Palantir dan Nvidia. Kondisi ini membuat tekanan terhadap saham Palantir semakin besar.
Manipulasi Pasar
Situasi makin memanas ketika CEO Palantir, Alex Karp, tampil di televisi untuk menanggapi langkah Burry. Dalam wawancaranya di CNBC, Karp menuduh investor tersebut melakukan “manipulasi pasar” dan menyebut tindakannya sebagai sesuatu yang “keterlaluan”.
Menurut Karp, tidak masuk akal jika investor memilih melakukan short selling terhadap saham perusahaan chip dan teknologi AI.
“The idea that chips and ontology is what you want to short is bats--- crazy,” ujarnya dalam program “Squawk Box”.
Meski diterpa tekanan pasar, Palantir tetap mengamankan beberapa kontrak baru. Perusahaan meneken kerja sama multiyear dengan konsultan PwC untuk mempercepat adopsi AI di Inggris, serta kontrak dengan perusahaan perawatan mesin pesawat FTAI.
Namun, pencapaian tersebut belum cukup meredam kekhawatiran pasar yang selama November mengikis nilai banyak saham AI berharga tinggi.
Saham Teknologi Lain Juga Tertekan
Sentimen negatif tidak hanya menghantam Palantir. Saham-saham teknologi besar lain juga mengalami tekanan. Nvidia anjlok lebih dari 12 persen, sementara Microsoft dan Amazon melemah sekitar 5 persen. Saham Rigetti Computing dan D-Wave Quantum bahkan kehilangan lebih dari sepertiga nilainya.
Dari jajaran “Magnificent 7”, hanya Apple dan Alphabet yang menutup November dengan kenaikan. Meski begitu, kekhawatiran terhadap valuasi tetap membayangi Palantir. Setelah penurunan tajam, saham perusahaan masih diperdagangkan di level 233 kali proyeksi laba. Sebagai perbandingan, Nvidia berada di sekitar 38 kali dan Alphabet 30 kali.
Dalam surat kepada pemegang saham, Karp kembali membela prospek perusahaan. Ia mengklaim Palantir memberi kesempatan bagi investor ritel untuk meraih imbal hasil yang sebelumnya “hanya dinikmati venture capitalist top”.
Palantir menolak memberikan komentar tambahan terkait laporan ini.