Kuota LPG 3 Kg Ditambah, Wamen ESDM Buka Peluang Ambil dari AS

Pemerintah menambah kuota LPG subsidi 3 kg untuk memenuhi perkiraan kenaikan konsumsi saat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 28 November 2025, 16:00 WIB
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah akan menambah kuota LPG subsidi 3 kilogram (kg) sebanyak 350.000 metrik ton (MT). Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM), Yuliot Tanjung buka kemungkinan kalau pemenuhan kuota LPG 3 kg diambil dari impor asal Amerika Serikat (AS).

Penambahan 350.000 MT tersebut untuk memenuhi prediksi kenaikan konsumsi dari masyarakat khususnya periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Yuliot membuka kemungkinan adanya impor dari AS.

"Kita lihat itu kemungkinannya," kata Yuliot, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (28/11/2025).

Menurut dia, porsi impor LPG Indonesia sebetulnya sebagian besar didapat dari negeri Paman Sam. Jika AS sendiri bisa memasok LPG ke RI, Yuliot bakal mengambil porsi tersebut.

"Kalau bisa, ini  kita sudah sekitar 50% lebih itu impor dari AS. Kalau mereka bisa menambah untuk pasokan kita, ya kita juga tidak menutup kemungkinan untuk itu," ujar Yuliot.

Meski begitu, pihaknya masih menunggu keputusan kapan waktu pelaksanaan impor sejalan dengan negosiasi tarif resiprokal AS. "Ini negosiasinya dilakukan oleh Kemenko Perekonomian. Jadi ini seluruhnya satu pintu. Jadi kita mengharapkan, ini karena kita komit di dalam resiprocal tarriff, kita juga akan memenuhi," ujar dia.

Pemerintah Tambah Kuota LPG Subsidi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyebut Presiden Prabowo Subianto sepakat penambahan kuota LPG subsidi 3 kilogram sebanyak 350 ribu metrik ton (MT). Penambahan ini dipastikan tidak menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hal tersebut diungkap Bahlil usai dipanggil Prabowo mengenai stok LPG nasional. Penambahan tersebut juga dalam rangka mengantisipasi lonjakkan konsumsi LPG 3 kilogram (kg) pada masa Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

"Tadi dalam rapat terbatas yang dipimpin bapak Presiden menyangkut dengan LPG, kita ada penambahan kuota di mana kuota kita di dalam APBN itu 8,16 juta (MT) kita tambah kurang lebih 0,35 juta atau 350.000 metrik ton, untuk apa? untuk menjaga antisipasi kebutuhan Nataru," kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Jumat (28/11/2025).

Tak Tambah Beban APBN

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung. (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Meski ada tambahan kuota tadi, Bahlil memastikan kalau beban APBN tak berubah. Lantaran, harga global masih berada di bawah acuan Indonesia Crude Price (ICP). Dalam hitungan Bahlil, masih ada ruang untuk menambal penambahan kuota tadi dari anggaran Rp 82 triliun untuk subsidi LPG 2025.

"Enggak ada penambahan anggaran, karena harga ICP dunia itu turun karena alokasi kita dalam APBN 2025 itu kan Rp 82 triliun, sementara realiasi dengan menambah 350.000 ton itu ga sampai di Rp 80 triliun, hanya sekitar Rp 77-78 triliun," jelas Bahlil.

Pertamina Patra Niaga sebelumnya memperkirakan adanya kenaikan konsumsi LPG 3 kg pada masa Nataru mendatang. Adapun, perkiraannya naik 3,3 persen.

Konsumsi BBM-LPG Bakal Naik

Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian pola suplai sesuai kondisi di lapangan dampak cuaca ekstrem di perairan Belawan. (Dok Pertamina)

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero), termasuk Subholding Commercial & Trading, Pertamina Patra Niaga menyiagakan Satgas Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) mulai 13 November 2025 hingga 11 Januari 2026 untuk memastikan masyarakat dapat menikmati liburan dengan aman dan nyaman.

Berdasarkan proyeksi nasional, akan terjadi tiga puncak mobilitas masyarakat yaitu pada 24–25 Desember 2025, 31 Desember–1 Januari 2026, serta arus balik pada 2–4 Januari 2026.

Kebutuhan energi pada periode ini juga diperkirakan akan meningkat, terutama konsumsi Gasoline 2,3%, LPG 3,3%, Avtur 2,4%, dan Kerosene 6,2%. Adapun Gasoil diproyeksikan turun 2,8% seiring berkurangnya aktivitas industri selama libur panjang.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya