Garuda Indonesia Sebut Rights Issue Masuk Pertimbangan Bisnis 2026

Manajemen Garuda Indonesia (GIAA) menyatakan terbuka kemungkinan aksi korporasi lanjutan pada 2026.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 28 November 2025, 06:46 WIB
Pesawat Garuda Indonesia (Foto: Garuda Indonesia)

Liputan6.com, Jakarta - Vice President Director PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), Thomas Sugiarto Oentoro, menyampaikan perseroan tidak menutup kemungkinan untuk kembali melakukan aksi korporasi berupa rights issue sebagai bagian dari penguatan struktur bisnis grup.

Thomas menjelaskan bahwa Garuda Indonesia sebelumnya telah menuntaskan proses rights issue melalui PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) pada akhir Oktober 2025. 

“Proses rights issue sebelumnya telah kami laksanakan melalui GMFI sebagai bagian dari rangkaian aksi korporasi di lini anak usaha kami pada akhir Oktober lalu,” ujarnya dalam Public Expose di Jakarta, Kamis (27/11/2025).

Ia menambahkan peluang pelaksanaan aksi korporasi lanjutan tetap terbuka sebagai bagian dari roadmap penguatan bisnis hingga 2026. 

“Ke depan, sejalan dengan roadmap aksi korporasi 2026 dalam penguatan kinerja bisnis secara group, tidak menutup kemungkinan akan dilakukan aksi korporasi lanjutan guna memperkuat kinerja bisnis Grup. Namun demikian, seluruh opsi tersebut masih akan dikaji dan dibahas lebih lanjut bersama para pemangku kepentingan terkait,” kata Thomas.

Sebelumnya, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) mengumumkan rencana penambahan modal melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) II dengan nilai penyetoran mencapai Rp 5,66 triliun. 

Penambahan modal ini dilakukan secara non-tunai (inbreng) berupa aset lahan milik PT Angkasa Pura Indonesia (API) seluas 972.123 meter persegi di kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, 23 November 2025, melalui aksi korporasi ini, API akan menyetorkan aset tersebut sebagai setoran modal kepada GMFI dan memperoleh sebanyak-banyaknya 113,29 miliar saham. 

Aksi inbreng ini menjadi bagian dari restrukturisasi grup Garuda Indonesia (GIAA) yang diarahkan oleh pemerintah untuk memperkuat struktur permodalan dan memperbaiki kinerja keuangan anak usaha Garuda Indonesia itu.

Garuda Indonesia Kaji Proyeksi Profit Usai Disuntik Danantara

Pesawat Airbus A330 Garuda Indonesia mendarat di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda di Blang Bintang, Provinsi Aceh pada 13 Juli 2021. (CHAIDEER MAHYUDDIN / AFP)

Sebelumnya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) tengah meninjau ulang prospek profitabilitas perseroan setelah menerima tambahan modal dari Danantara.

Vice President Director Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, menyampaikan evaluasi menyeluruh masih berlangsung seiring dengan upaya memperbaiki kinerja operasional perusahaan.

Thomas menjelaskan bahwa pihaknya saat ini fokus mengkaji ulang seluruh proyeksi bisnis, termasuk rencana penambahan armada pada 2026.

“Kita sedang mengkaji ulang prospek dan sudah saya sebutkan sebelumnya, memang di tahun 2026 ini memang kita sudah mencanangkan untuk membeli masuk pesawat baru, tapi sedang kita kaji ulang. Kami sedang mengkaji dan itu akan memberikan angka untuk proyeksi kami ke depan. Jadi itu masih kita jalankan sekarang,” ujar Thomas dalam Public Expose, Kamis (27/11/2025).

 

Tergantung Perencanaan Jaringan Penerbangan

Pesawat Garuda saat di landasan Terminal 3 Bandara Soekarno - Hatta, Tangerang (8/4/2022). Maskapai penerbangan Garuda Indonesia mencatatkan pertumbuhan frekuensi penerbangan yang semakin positif hingga 30% pada akhir Maret 2022 dibandingkan dengan periode awal Maret 2022. (Liputan6.com)

Ia menambahkan proyeksi pendapatan tahun depan masih bergantung pada perencanaan jaringan penerbangan (network planning) dan produksi yang akan ditetapkan perseroan.

“Jadi proyeksi kita memang kita harus lihat dulu dari network planning kita dan kita baru bisa melihat berapa jumlah produksi yang kita akan lakukan di tahun depan. Tapi boleh saya sampaikan bahwa seharusnya tidak lebih kurang daripada tahun ini,” jelasnya.

Thomas juga menyampaikan optimisme bahwa perbaikan operasional yang tengah dilakukan dapat mulai berdampak pada kinerja keuangan kuartal II tahun depan.

“Mungkin Q2 kita akan lihat lagi Insya Allah kalau sekarang ini kita bisa perbaiki dulu kinerja kita dalam operation, dan kita harapkan itu bisa membawa impact positif kepada Q2 punya finansial,” pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya