Liputan6.com, Jakarta Liverpool tengah mengalami periode paling kelam dalam lebih dari tujuh dekade. Kekalahan mereka di Liga Champions dari PSV Eindhoven menandai titik terendah dari performa inkonsisten yang telah berlangsung sejak akhir September. Situasi ini memunculkan perbandingan dengan musim 1953/54, momen paling suram dalam sejarah klub.
Rentetan hasil negatif yang terjadi belakangan ini membuat Liverpool terpuruk jauh dari ekspektasi, terutama setelah membuka musim dengan performa impresif. Arne Slot memulai perjalanan sebagai juara bertahan Premier League dengan lima kemenangan beruntun, tetapi laju itu justru berubah drastis dalam kurun waktu singkat. Kini, Liverpool menghadapi penurunan performa yang belum tampak tanda-tanda pemulihannya.
Advertisement
Keterpurukan ini bukan hanya terlihat dari hasil-hasil mengecewakan, tetapi juga dari posisi mereka di klasemen serta tren kekalahan yang memecahkan rekor buruk. Bagi klub sebesar Liverpool, rangkaian kegagalan ini menimbulkan kekhawatiran yang pantas dibandingkan dengan krisis besar yang pernah dialami pada era 1950-an.
Kemerosotan Liverpool Musim Ini: Dari Juara Bertahan ke Papan Tengah
Liverpool memulai musim dengan optimisme besar setelah lima kemenangan beruntun di Premier League dan total tujuh kemenangan termasuk setelah Community Shield. Akan tetapi, momentum tersebut seketika menghilang saat kekalahan 1-2 dari Crystal Palace pada 27 September memicu rangkaian hasil negatif yang tampaknya sulit dihentikan.
Sejak kekalahan itu, Liverpool hanya mampu meraih tiga kemenangan dalam 12 pertandingan. Mereka menderita sembilan kekalahan, termasuk enam dari tujuh laga Premier League. Kondisi tersebut membuat mereka melorot dari posisi puncak hingga ke peringkat 12 klasemen. Mereka juga menjadi tim juara bertahan pertama sejak Leicester pada musim 2016/17 yang mengalami enam kekalahan dalam 12 laga awal liga.
Di kompetisi Eropa, performa mereka sempat membaik lewat kemenangan atas Eintracht Frankfurt dan Real Madrid. Namun, kekalahan 1-4 dari PSV Eindhoven kembali mengikis harapan. Liverpool kini telah kalah dua dari lima pertandingan fase liga Liga Champions. Yang lebih mengkhawatirkan, kekalahan dari PSV menandai kekalahan ketiga secara beruntun dengan selisih tiga gol atau lebih — setelah dihajar 0-3 oleh Manchester City dan Nottingham Forest di liga.