Liputan6.com, Jakarta - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) tengah meninjau ulang prospek profitabilitas perseroan setelah menerima tambahan modal dari Danantara.
Vice President Director Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, menyampaikan evaluasi menyeluruh masih berlangsung seiring dengan upaya memperbaiki kinerja operasional perusahaan.
Advertisement
Thomas menjelaskan bahwa pihaknya saat ini fokus mengkaji ulang seluruh proyeksi bisnis, termasuk rencana penambahan armada pada 2026.
“Kita sedang mengkaji ulang prospek dan sudah saya sebutkan sebelumnya, memang di tahun 2026 ini memang kita sudah mencanangkan untuk membeli masuk pesawat baru, tapi sedang kita kaji ulang. Kami sedang mengkaji dan itu akan memberikan angka untuk proyeksi kami ke depan. Jadi itu masih kita jalankan sekarang,” ujar Thomas dalam Public Expose, Kamis (27/11/2025).
Ia menambahkan proyeksi pendapatan tahun depan masih bergantung pada perencanaan jaringan penerbangan (network planning) dan produksi yang akan ditetapkan perseroan.
“Jadi proyeksi kita memang kita harus lihat dulu dari network planning kita dan kita baru bisa melihat berapa jumlah produksi yang kita akan lakukan di tahun depan. Tapi boleh saya sampaikan bahwa seharusnya tidak lebih kurang daripada tahun ini,” jelasnya.
Thomas juga menyampaikan optimisme bahwa perbaikan operasional yang tengah dilakukan dapat mulai berdampak pada kinerja keuangan kuartal II tahun depan.
“Mungkin Q2 kita akan lihat lagi Insya Allah kalau sekarang ini kita bisa perbaiki dulu kinerja kita dalam operation, dan kita harapkan itu bisa membawa impact positif kepada Q2 punya finansial,” pungkasnya.
Pesawat Garuda Indonesia Grup Banyak Nganggur, Danantara: Beban Jalan Terus
Sebelumnya, Danantara Asset Management (DAM) menyoroti banyaknya pesawat dalam grup Garuda Indonesia yang tidak bisa terbang atau grounded. Kondisi ini menjadi beban biaya karena ada sewa yang harus dibayarkan.
Managinf Director Business-3, Danantara Asset Management, Febriany Eddy pesawat Garuda Indonesia itu memerlukan perbaikan. Belum diperbaikinya pesawat membebani keuangan perusahaan.
"Ketika pesawat grounded, tidak ada revenue, sementara fixed cost terus berjalan. Semakin lama penundaan, semakin besar pula ‘lubang’ yang harus ditutup," ungkap Febriany dalam keterangan resmi, Selasa (18/11/2025).
Maka, perbaikan pesawat, baik Garuda Indonesia dan Citilink menjadi prioritas saat ini. Harapannya, hal itu bisa mengembalikan armada untuk kembali mengudara.
Empat Pilar Utama
Febriany menuturkan ada empat pilar utama dalam transformasi Garuda Indonesia. Diantaranya, peningkatan layanan pelanggan, pengembangan model bisnis yang adaptif, penguatan operasional berbasis keselamatan dan keandalan, serta modernisasi teknologi untuk mendukung efisiensi.
“Danantara Indonesia berkomitmen penuh mendukung Garuda Indonesia. Namun, dalam proses transformasi ini, komitmen penuh dari Danantara Indonesia bukan ‘free lunch’. Bersama manajemen Garuda Indonesia, kami akan mengawal seluruh proses hingga tuntas,” tambah Febriany.