Kisah Mami Yuli, Perjuangan Transpuan yang Bangun Rumah Singgah bagi Waria Lansia

21 tahun berdiri, rumah singgah ini sudah memberikan ruang aman untuk para waria sejak tahun 2004, satu-satunya tempat yang menerima para lansia waria.

oleh Debby Alifah MaulidaDiterbitkan 25 November 2025, 06:40 WIB
Yulianus Rettoblaut atau akrab disapa mami Yuli. Seorang transpuan berusia 67 tahun yang kini mendedikasikan hidupnya untuk menjadi pelayan tuhan, mendirikan rumah singgah waria untuk mereka yang merasa terbuang dan terasingkan. (Liputan6)

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah hunian kecil berdiri di tengah padatnya kota. Dinding rumah ini adalah saksi perjuangan seorang waria yang berpuluh tahun hidup di jalan. Mengembara mencari jati diri hingga menemukan kedamaian terhadap apa yang telah ditakdirkan terjadi.

Namanya Yulianus Rettoblaut atau akrab disapa mami Yuli. Seorang transpuan berusia 67 tahun yang kini mendedikasikan hidupnya untuk menjadi pelayan tuhan, mendirikan rumah singgah waria untuk mereka yang merasa terbuang dan terasingkan.

21 tahun berdiri, rumah singgah ini sudah memberikan ruang aman untuk para waria sejak tahun 2004, satu-satunya tempat yang menerima para lansia waria di dunia. Bagi Yuli, mereka sudah sepantasnya diperlakukan sebagai manusia di mata masyarakat.

“Rumah singgah ini berdirinya itu sebenarnya dari 2004, tapi mulai dipublikasi ke publik itu tahun 2010,” tutur Yuli.

Rumah singgah ini adalah tempat berlindung untuk mereka dari gelapnya dunia memandang kehidupan para transpuan. Kerap dianggap sebelah mata membuat mereka kehilangan rumah untuk bernaung.

Stigma buruk mengenai waria di mata masyarakat membuat hati Yuli tergerak untuk membantu teman-teman senasibnya. Menurut Yuli, terdapat sebanyak 831 waria di Jabodetabek yang hidupnya belum layak. Atas dasar ini lah Yuli merelakan tempat tinggalnya sebagai atap untuk para waria yang membutuhkan.

“Setelah kita datakan jumlah komunitas waria yang istilahnya yang punya problem di se-Jabodetabek itu ada 831 orang. Makanya kita coba mengakomodir itu dengan membuat satu kegiatan bahwa bagaimana caranya coba saya menjadikan tempat ini rumah saya tinggal sendiri, tempat pribadi, sebagai shelter yang bisa menaungi mereka,” ceritanya.

Hal ini ia lakukan bukan tanpa sebab. Getir manis nya perjalanan hidup sebagai seorang waria sudah ia rasakan. Puluhan tahun hidup di jalan, Yuli menyimpan kisah kelam seorang waria yang tak banyak orang tahu.

 

 

Diusir dari Rumah Hingga Jadi Wanita Malam

Yuli lahir dari 11 bersaudara. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru. Melihat keluarganya yang penuh dengan kesempurnaan, Yuli pun sering bertanya pada dirinya sendiri. Dia sadar ada sesuatu yang berbeda darinya.

Yuli pun memutuskan untuk memilih jalan hidup sebagai seorang waria. Namun, keputusan Yuli tak mendapat penerimaan yang baik dari keluarganya. Kehadirannya ditolak. Yuli diusir dari rumahnya dan harus bertahan hidup sendirian. 

“Karena keluarga kita kan termasuk orang yang fanatik dan mereka tidak menerima keberanian kami sebagai waria. Itu yang paling berat. Kemudian kita diusir dari rumah,” ucapnya.

Yuli dibayang-bayangi rasa bimbang. Perasaan ini pun membawanya terbang ke Jakarta, berharap ia dapat menemukan jati dirinya di kota penuh cerita ini. Hidup di jalan bukan perjalanan yang mudah untuk Yuli. 

“Kenapa saya seperti ini? makanya aku terjun di jalan itu untuk mencari bukan aku ingin jadi pelacur untuk jual diri aku ingin terjun di jalan itu berpuluh-puluh tahun aku mengejar kenapa aku begini? kenapa aku bisa begini?,” ungkapnya.

Yuli tak pernah berniat menjadi seorang pelacur. Dia hidup di jalan karena kota ini tak punya banyak ruang untuk mereka yang tak bisa dianggap sebagai laki-laki maupun sebagai perempuan. 

Namun, takdir berkata lain, kerasnya ibu kota membuat Yuli harus bertahan hidup di lingkungan para pekerja seksual. Berkawan dengan pelacur memaksa Yuli untuk terjun sebagai wanita malam. Terkadang, Yuli harus menahan lapar selama 4 hari karena tak kunjung mendapat pelanggan.

“Ketika kita merantau di Jakarta kita kan juga menyesuaikan diri juga sulit. Karena kita harus misalnya contoh menempatkan diri dengan bertemu dengan teman-teman itu kan tempat adalah tempat pelacuran, dan saya juga hidup di jalanan kurang lebih 25 tahun itu hidup sebagai pelacur jalanan yang notabene nggak laku,” ujar Yuli.

 

Melawan Stigma Waria Pembawa Malapetaka

Kejamnya hidup seorang waria bukan hanya dirasakan semasa mereka hidup. Berbagai penolakan datang. Bagi mereka yang tak mengerti, kehadiran waria seringkali dianggap sebagai malapetaka yang membawa kesialan.

“Mereka menganggap bahwa waria itu tabu atau waria itu penyebab malapetaka,” cetus Yuli. 

Yuli mengungkapkan, mereka hanya ingin diperlakukan layaknya seorang manusia. Menurutnya, tak ada yang salah menjadi seorang waria. Mereka pantas untuk mendapatkan hak yang sama sebagai warga negara, termasuk untuk dimakamkan dengan layak.

Secara sosial dan administratif, status waria di Indonesia belum mendapat pengakuan dari negara. Hal ini mengakibatkan mereka kesulitan untuk mendapatkan akses pendidikan hingga kesehatan. Yuli menjelaskan dirinya sempat ditolak 8 kali oleh salah satu perguruan tinggi di Indonesia karena latar belakangnya sebagai waria.

Selain itu, Yuli dan teman-temannya sering dianggap sebagai pembawa wabah. Tak jarang, masyarakat menilai waria sebagai penular penyakit seksual, seperti HIV misalnya. Dia menegaskan, data yang ia temukan justru menunjukkan bahwa pengidap HIV sebagian besar adalah ibu rumah tangga, bukan waria.

“Penyakit HIV, AIDS orang itu dulu berpikir itu barang punya waria. Padahal kalau kita membuat satu istilahnya penelitian itu di puskesmas ibu rumah tangga ini jauh lebih banyak,” katanya.

Yuli menegaskan, teman-teman waria yang tinggal di rumah singgah miliknya diwajibkan untuk melakukan tes HIV selama 3 bulan sekali. Dia memastikan rumah singgah ini aman untuk warga sekitar dan tidak menimbulkan penyakit yang berbahaya.

 

Pernah Marah Dengan Tuhan

Untuk bisa berdamai dengan dirinya sendiri, Yuli harus melewati jalan berbatu yang penuh dengan cobaan. Dia tak memungkiri bahwa dirinya pun pernah marah dengan Tuhan. Berbagai caci maki dan hinaan ia telan mentah-mentah.

“Saya pernah marah juga sama Tuhan karena waktu aku hidup di jalan itu kok aku menderita banget sih, sering dihina,” tuturnya.

Tak mudah untuk Yuli menaruh kepercayaannya kembali pada Tuhan. Penolakan dari berbagai arah hingga dipandang rendah di mata masyarakat membuatnya tak tahu harus menaruh percaya pada siapa.

Beruntung Yuli tak berlarut-larut tenggelam dalam fananya kehidupan malam. Seberkas cahaya ia temukan usai lama berkelana. Sekian tahun bertarung di jalan, ia akhirnya menemukan jalannya kembali untuk mengenal Tuhan. 

“Sekarang ini untuk bisa keluar dari lingkaran kepahitan itu kita perlu proses yang cukup panjang. Proses ini kita juga butuh mentor dan mentor inilah yang kemudian memberi kita nilai-nilai kehidupan,”

Yuli berhasil menerima keadaan. Dibanding terus-menerus menyalahkan Tuhan, ia memilih untuk bangkit dan memperbaiki hidupnya yang sudah lama terjebak dalam kelam. Dia tak mengubah apa yang sudah diberikan Tuhan, tetapi juga tak menyangkal siapa dirinya saat ini.

Meski ditolak berkali-kali oleh sejumlah oknum yang memandangnya sebelah mata, ia tak pernah menyerah. Yuli memutuskan untuk mengubah hidupnya. Dia menggapai mimpinya untuk menjadi waria yang berpendidikan. Kini, Yuli telah menyelesaikan pendidikan tingkat S-3 nya dan menyandang gelar sebagai Doktor Ilmu Hukum.

“Saya kan tidak termasuk waria yang sangat fanatik untuk suntik silikon, untuk operasi payudara. Bukan saya tidak bisa, saya kuliah S3 saja beratusan juta bisa,” pungkas Yuli.

 
Infografis 1 dari 4 Perempuan Mengalami Kekerasan Fisik atau Seksual. (Liputan6.com/Trieyasni)

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya