Cerita dari Rumah Singgah Khusus Transpuan: Tempat Mereka Pulang

Kisah Yuli, seorang transpuan yang diusir dari rumah hingga dianggap pembawa bencana. Kini, ia berhasil meraih pendidikan hingga tingkat S-3 dan mendirikan rumah singgah waria.

oleh Debby Alifah MaulidaDiterbitkan 24 November 2025, 12:00 WIB
Yuli pendiri rumah singgah khusus transpuan. (Liputan6.com/Debby Alifah Maulida)

Liputan6.com, Jakarta Sebuah hunian kecil berdiri di tengah padatnya kota Depok, Jawa Barat. Dinding rumah ini bercerita, kisah seorang waria yang berpuluh tahun hidup di jalan. Terbuang dan terasingkan. Hingga akhirnya, hidupnya punya arti bagi sesamanya.

Namanya Yulianus Rettoblaut. Lebih akrab disapa mami Yuli. Dia seorang transpuan. Usianya tak lagi muda. 67 tahun. Kerikil tajam dilalui Yuli membangun rumah singgah khusus waria. Mereka yang dikucilkan dari tatanan sosial.

Berjalan beriringan dengan waktu. Sudah 21 tahun rumah ini memberikan ruang aman untuk para waria. Satu-satunya tempat yang menerima para lansia waria. 

“Rumah singgah ini berdirinya itu sebenarnya dari 2004, tapi mulai dipublikasi ke publik itu tahun 2010,” tutur Yuli saat berbincang dengan Liputan6.com, akhir pekan lalu.

Rumah singgah ini menjadi tempat berlindung untuk mereka dari gelapnya dunia memandang kehidupan para transpuan. Kerap dianggap sebelah mata membuat mereka seolah tak punya rumah untuk pulang.

Stigma masyarakat menggerakkan hati Yuli untuk membantu teman-teman senasibnya. Ada 831 waria di Jabodetabek yang hidupnya belum layak. Yuli merelakan tempat tinggalnya menjadi rumah untuk mereka pulang. 

“Kita coba mengakomodir itu dengan membuat satu kegiatan bahwa bagaimana caranya coba saya menjadikan tempat ini rumah saya tinggal sendiri, tempat pribadi, sebagai shelter yang bisa menaungi mereka,” ceritanya.

Getirnya perjalanan hidup sebagai seorang transpuan sudah dirasakan. Puluhan tahun hidup di jalan, Yuli menyimpan kisah kelam seorang waria yang tak banyak diketahui orang.

Diusir dari Rumah Hingga Jadi Pekerja Malam

Yuli memiliki 11 saudara kandung. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru. Melihat keluarganya yang penuh dengan kesempurnaan, Yuli sering bertanya pada dirinya sendiri. Dia sadar ada sesuatu yang berbeda darinya.

Yuli memutuskan memilih jalan hidup yang membuatnya ditolak keluarga. Yuli diusir dari rumahnya. Dia harus bertahan hidup sendirian.  

“Karena keluarga kita kan termasuk orang yang fanatik dan mereka tidak menerima kami sebagai waria. Itu yang paling berat. Kemudian kita diusir dari rumah,” ucapnya. 

Yuli dibayang-bayangi rasa bimbang. Perasaan ini membawanya terbang ke Jakarta. Satu harapannya, menemukan jati dirinya di kota penuh cerita. Hidup di jalan bukan perjalanan yang mudah untuk Yuli.  

“Aku terjun di jalan itu untuk mencari. Bukan aku ingin jadi pelacur, untuk jual diri. Aku ingin terjun di jalan itu berpuluh-puluh tahun aku mengejar kenapa aku begini? kenapa aku bisa begini?,” ungkapnya.

Yuli tak pernah berniat menjadi seorang pelacur. Dia hidup di jalan karena kota ini tak punya banyak ruang untuk mereka yang tak bisa dianggap sebagai laki-laki maupun sebagai perempuan. 

Takdir berkata lain, kerasnya ibu kota membuat Yuli harus bertahan hidup di lingkungan para pekerja seksual. Berkawan para tunawisma, Yuli terjebak di pusaran wanita malam. 

“Saya juga hidup di jalanan kurang lebih 25 tahun itu hidup sebagai pelacur jalanan yang notabene nggak laku,” ujar Yuli.

Melawan Stigma Waria Pembawa Malapetaka

Stigma dan penolakan datang tak kenal waktu. Mereka seringkali dianggap sebagai malapetaka yang membawa kesialan. Secara sosial dan administratif, status waria di Indonesia belum mendapat pengakuan dari negara. 

Hal ini membuat mereka kesulitan mendapatkan akses pendidikan hingga kesehatan. Yuli menceritakan pengalamannya sempat ditolak 8 kali oleh salah satu perguruan tinggi di Indonesia karena latar belakangnya sebagai waria.

“Mereka menganggap bahwa waria itu tabu atau waria itu penyebab malapetaka,” singkat Yuli. 

Berbagai caci maki dan hinaan, dia telan mentah-mentah. Yuli berusaha berdamai dengan keadaan dan diri sendiri. Tidak mudah. Dia harus melewati jalan berbatu yang penuh dengan cobaan. Suatu kali, Yuli marah dengan Tuhan. 

“Saya pernah marah juga sama Tuhan karena waktu aku hidup di jalan itu kok aku menderita banget sih, sering dihina,” tuturnya.

Yuli berhasil menang atas dirinya sendiri. Dia ikhlas menerima keadaan. Dibanding terus-menerus menyalahkan Tuhan, dia memilih untuk bangkit dan memperbaiki hidupnya yang sudah lama terjebak dalam kelam. Dia tak mengubah apa yang sudah diberikan Tuhan, tetapi juga tak menyangkal siapa dirinya saat ini. 

Kekuatan mental membuat Yuli berhasil menggapai mimpinya untuk menjadi waria yang berpendidikan. Kini, Yuli telah menyelesaikan pendidikan tingkat S-3 nya dan menyandang gelar sebagai Doktor Ilmu Hukum.

“Saya kan tidak termasuk waria yang sangat fanatik, saya kuliah S3 saja,” tutup Yuli.

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya