Liputan6.com, Washington, D.C - Para beauty influencer terkadang mencari jalan yang lebih cepat untuk mendapatkan kulit wajah mulus dan cerah, terutama di Amerika Serikat, banyak dari mereka mengikuti tren "menstrual masking" agar memberikan efek lebih glowing.
Perawatan kulit ini mengoleskan darah menstruasi ke wajah mereka sendiri selama beberapa menit sebelum dibilas. Pedoman penggunaan darah juga tidak tertulis sehingga takarannya dapat digunakan sesuai kebutuhan.
Advertisement
Bagi pendukung dari pengguna masker menstruasi, mereka percaya bahwa darah tersebut mengandung sel punca, sitokin, dan protein yang dapat membantu regenasi kulit hingga membuat kulit terlihat lebih cerah, dilansir dari New York Post, Selasa (25/11/2025).
Manfaat darah menstruasi juga ditemukan melalui penelitian yang menunjukkan bahwa plasma di dalamnya mampu memperbaiki jaringan dan mempercepat penyembuhan luka, seperti yang dijelaskan dalam sebuah studi oleh Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB).
Efek Plasma Darah
Hasil dari uji laboratorium menemukan bahwa luka yang diobati dengan plasma darah dapat membantu penyembuhan secara sempurna dalam waktu 24 jam, dibandingkan darah biasa yang hanya sekitar 40 persen.
Sel punca yang berasal dari darah menstruasi pun menarik perhatian para peneliti, di mana kehebatan dibalik kandungannya dapat meningkatkan produksi kolagen, mengurangi kerutan, dan memperbaiki jaringan kulit yang rusak.
Tetapi, ada jenis perawatan wajah lainnya yang juga menggunakan darah, yaitu plasma kaya trombosit atau platelet-rich plasma (PRP), yang juga dikenal dengan "wajah vampire."
Caranya dengan menggunakan darah pasien itu sendiri dan disuntikkan kembali ke wajah mereka, selebritas terkenal seperti Kim Kadarshian juga tidak ingin melewatkan tren dan melakukan perawatan ekstrem tersebut.
Bahaya bagi Kulit
Meskipun kedua perawatan ini menggunakan darah, para ahli mengatakan bahwa RPP dilakukan dalam kondisi steril oleh tenaga medis yang menjamin kebersihannya untuk dioleskan di wajah.
Sedangkan darah menstruasi dapat mengandung bakteri dan jamur hingga infeksi menular seksual. Salah satu bakteri yang ditemukan adalah Staphylococcus aureus, bakteri umum yang dapat menyebabkan infeksi kulit jika masuk lewat pori-pori terbuka.
Dengan begitu, darah menstruasi sebaiknya tidak dioleskan ke wajah karena belum terbukti secara medis dapat memberikan manfaat langsung pada kulit.
Tren viral ini hanya akan membuat kesehatan kulit bermasalah hingga menimbulkan risiko infeksi lainnya, di mana produk kecantikan wajah yang sehat berasal dari bahan yang teruji dengan standar higienis yang jelas.