Liputan6.com, Beirut - Haytham Tabatabai, komando militer tertinggi Hizbullah yang tewas dalam serangan Israel pada Minggu (23/11/2025), baru menempati posisi itu setelah para pemimpin senior kelompok tersebut berguguran dalam perang terbaru dengan Israel.
Ia menjadi figur paling penting dari Hizbullah yang terbunuh sejak gencatan senjata November 2024, yang dimaksudkan untuk mengakhiri lebih dari setahun konflik antara kelompok bersenjata itu dan Israel.
Advertisement
Sejak gencatan senjata, Israel terus melancarkan serangan udara ke Lebanon, yang menurut klaim mereka menargetkan anggota dan infrastruktur Hizbullah.
Hizbullah telah mengonfirmasi kematian Tabatabai, menyebutnya sebagai "komandan besar".
Sebelum naik sebagai kepala militer, menurut seorang sumber dekat kelompok itu kepada AFP, Tabatabai bertanggung jawab atas urusan Yaman.
Amerika Serikat (AS) menyatakan ia juga pernah beroperasi di Suriah, tempat faksi bersenjata Hizbullah mendukung mantan penguasa Bashar al-Assad.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan yang menewaskan Tabatabai menghantam sebuah gedung apartemen di wilayah selatan Beirut yang padat penduduk dan berada di bawah kendali Hizbullah, menewaskan lima orang dan melukai 28 lainnya.
Sumber yang sama menyebut Tabatabai sebelumnya bermarkas di luar negeri dan baru kembali ke Lebanon setelah Israel membunuh komandan militer senior Hizbullah, Fuad Shukr, pada Juli.
Tabatabai berasal dari ayah berdarah Iran dan ibu warga Lebanon, serta memegang kewarganegaraan Lebanon.
Diburu AS
Kementerian Luar Negeri AS telah menetapkannya sebagai teroris dan menjatuhkan sanksi terhadapnya pada 2016. Kementerian Keuangan AS bahkan menawarkan hadiah USD 5 juta bagi siapa pun yang memberikan informasi tentang dirinya, seraya menyebut bahwa ia juga dikenal dengan nama Abu Ali Tabatabai.
Kementerian Keuangan AS menggambarkannya sebagai pemimpin militer kunci Hizbullah yang telah memimpin pasukan khusus kelompok itu di Suriah dan Yaman.
Militer Israel menyatakan bahwa Tabatabai adalah veteran Hizbullah yang bergabung sejak 1980-an dan menempati sejumlah posisi senior, termasuk kepala operasi Hizbullah di Suriah.
Hizbullah dan kelompok Houthi di Yaman merupakan bagian dari apa yang disebut Iran sebagai poros perlawanan terhadap Israel.
Pada November 2024, PBB menyebut Hizbullah sebagai salah satu pendukung terpenting bagi Houthi dan menjelaskan bahwa para pejuang Houthi dilatih di luar Yaman, baik di Iran maupun di fasilitas pelatihan Hizbullah di Lebanon.
Selain pemimpin Hassan Nasrallah dan Shukr, Israel juga telah membunuh banyak figur militer utama kelompok tersebut. Daftar itu termasuk Ibrahim Aqil, pemimpin unit elite Radwan, dan Ali Karake, komandan militer nomor tiga dalam struktur kelompok itu.