23 November 1996: Ethiopian Airlines Dibajak, 100 Orang Tewas Usai Pesawat Jatuh ke Laut

Total penumpang dan awak kabin pesawat berjumlah 175 orang.

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 23 November 2025, 06:00 WIB
Ilustrasi kecelakaan pesawat, pesawat jatuh. (macrovector/Freepik)

Liputan6.com, Canberra - Penerbangan ET961 terpaksa mendarat darurat di laut karena pembajakan yang meminta pilot terbang ke Australia. Insiden terjadi sekitar 500 meter (1.640 kaki) dari pantai Kepulauan Komoro, yang menewaskan setidaknya 100 penumpang pada 23 November 1996.

Pesawat Boeing 767 Ethiopian Airlines membawa penumpang sekitar 175 dan awak pesawat, melakukan penerbangan dari Addis Ababa ke Nairobi ketika tiga pria membajak pesawat pada pukul 08.20 GMT (Greenwich Mean Time), sekitar empat jam sebelum kecelakaan, dilansir dari BBC, Minggu (23/11/2025).

Pilot diperintah untuk terbang menuju Australia, namun penerbangan mereka berhasil dibujuk dengan mengatakan ingin mengisi bahan bakar di Bandara Hahaya, yang berjarak 15 mil dari lokasi.

Tetapi pilot melakukan pendaratan saat laut sedang ganas karena bahan bakar habis pada pukul 15.20 waktu setempat hingga tubuh pesawat hancur berkeping-keping akibat benturan, tepat di depan Hotel Galawa Beach.

Masa Berkabung

Pulau Grand Comore menjadi saksi jatuhnya pesawat, termasuk staf dan tamu hotel. Sebanyak 20 dokter Prancis dan tim penyelamat tiba di lokasi kejadian dengan menggunakan perahu.

Menurut The New York Times (1996), pembajakan udara di luar negeri merupakan kejahatan Federal jika terdapat penumpang Amerika. Para pejabat menambahkan jika laporan awal yang diterima menyebut bahwa ada 11 pembajak di pesawat.

Para wisatawan dan penduduk pulau pun mendekati pesawat beberapa menit setelah tabrakan, dan berhasil menemukan 50 penumpang yang diselamatkan dari reruntuhan bersama dua tersangka pembajak. Selain itu, kapten dan kopilot yang mengalami luka-luka segera dibawa ke rumah sakit, sementara korban lainnya tewas.

Namun, motif pembajakan masih belum dipastikan, meski kedua tersangka berhasil ditangkap berdasarkan identifikasi pilot. Pemerintah Komoro pun mengumumkan masa berkabung selama 48 jam untuk menghormati para korban yang meninggal.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya