Liputan6.com, Jakarta - Erupsi Semeru terjadi pada Rabu 19 November 2025. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Mukdas Sofian mengatakan, erupsi berupa awan panas masih berlangsung, jarak luncur sudah mencapai 7 km dari puncak.
Mukdas juga mengatakan, erupsi Gunung Semeru terjadi pada pukul 16.00 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 2.000 meter di atas puncak atau 5.676 mdpl.
Advertisement
"Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan barat laut. Saat laporan itu dibuat, erupsi masih berlangsung," ujar Mukdas, Rabu 19 November 2025.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) langsung memantau ketat dampak kenaikan status aktivitas vulkanik Gunung Semeru dari level III (Siaga) menjadi level IV (Awas). Kenaikan status ini berlangsung hanya satu jam setelah PVMBG menetapkan perubahan dari level II (Waspada) ke level III (Siaga).
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pun mengumumkan penutupan jalur pendakian Gunung Semeru (Ranu Kumbolo) menyusul kenaikan status gunung berapi di Jawa Timur tersebut, Rabu 19 November 2025. Jalur pendakian ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut.
"(Keputusan ini diambil) sehubungan dengan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tentang kenaikan tingkat aktivitas Gunung Semeru dari Level II (Waspada) ke level III (Siaga) dan selanjutnya menjadi Level IV (Awas) pada 19 November 2025 pukul 17.00 WIB, serta mempertimbangkan rekomendasi radius bahaya dari PVMBG, yaitu 8 km dari puncak dan sektoral 20 km ke arah selatan–tenggara," bunyi keterangan resmi.
Sementara itu, Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) memastikan erupsi Semeru belum mengganggu penerbangan di sekitarnya. Termasuk juga belum ada operasional bandara yang dihentikan.
EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia Hermana Soegijantoro menjelaskan, rute penerbangan masih berjalan normal. Meskipun, terpantau adanya abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Semeru tersebut.
"Sampai informasi ini kami terbitkan, situasinya belum pada kondisi yang memaksa untuk dilakukannya penutupan ruang udara karena ancaman awan abu vulkanik," kata Hermana dalam keterangan resmi, Kamis (20/11/2025).
Berikut sederet fakta terkait erupsi Semeru yang terjadi pada Rabu 19 November 2025 dihimpun Tim News Liputan6.com:
1. Erupsi Disertai Luncuran Awan Panas Sejauh 7 Kilometer
Gunung Semeru erupsi disertai luncuran awan panas sejauh 7 kilometer dari puncak pada Rabu 19 November 2025.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Mukdas Sofian mengatakan, erupsi berupa awan panas masih berlangsung, jarak luncur sudah mencapai 7 km dari puncak.
"Erupsi masih berlangsung saat laporan sedang dibuat," katanya.
Mukdas juga mengatakan, erupsi Gunung Semeru terjadi pada pukul 16.00 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 2.000 meter di atas puncak atau 5.676 mdpl.
"Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan barat laut. Saat laporan itu dibuat, erupsi masih berlangsung," tuturnya.
Erupsi Gunung Semeru tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi sementara ini sekitar 16 menit 40 detik.
Ia menjelaskan Gunung Semeru berada pada status Waspada atau Level II dengan rekomendasi masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 8 km dari puncak (pusat erupsi).
"Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 13 km dari puncak," katanya.
Ia juga mengimbau agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 2,5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
"Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," jelas Mukdas.
Berdasarkan laporan PVMBG, menurut hasil pemantauan sepanjang Selasa (18/11/2025), pukul 00.00-24.00 WIB, Gunung Semeru di Lumajang mengalami sebanyak 156 kali gempa Letusan/Erupsi dengan amplitudo 10-22 mm, dan lama gempa 45-180 detik, lalu 26 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-5 mm dan lama gempa 36-130 detik, kemudian 9 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 2-8 mm, dan lama gempa 39-67 detik.
Dalam periode pengamatan itu juga, Gunung Semeru mengalami 2 kali Harmonik dengan amplitudo 3-6 mm, dan lama gempa 249-274 detik, lalu 4 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 8-30 mm, S-P 10-23 detik dan lama gempa 35-118 detik, kemudian 1 kali gempa Getaran Banjir dengan amplitudo 10 mm, dan lama gempa 3860 detik.
2. Sebanyak 300 Warga Mengungsi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memantau ketat dampak kenaikan status aktivitas vulkanik Gunung Semeru dari level III (Siaga) menjadi level IV (Awas), yang terjadi pada Rabu 19 November 2025 pukul 17.00 WIB.
Kenaikan status ini berlangsung hanya satu jam setelah PVMBG menetapkan perubahan dari level II (Waspada) ke level III (Siaga).
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan pihaknya telah menerima laporan situasi awal dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB, termasuk potensi dampak dan kemungkinan pengungsian warga.
"BNPB memantau secara intensif kenaikan status aktivitas vulkanik Gunung Semeru dan seluruh potensi dampaknya. Kami terus berkoordinasi dengan BPBD dan PVMBG untuk memastikan respons cepat dan terukur," ujar Abdul Muhari, Rabu malam 19 November 2025.
Menurut laporan Pusdalops, tiga desa di dua kecamatan di Kabupaten Lumajang terdampak erupsi, yaitu Desa Supit Urang dan Oro-Oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo, serta Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro. BPBD bersama unsur terkait telah mengevakuasi warga ke lokasi aman.
"Data sementara, sekitar 300 warga mengungsi di dua titik utama, yaitu Balai Desa Oro-Oro Ombo sekitar 200 jiwa dan SD 2 Supiturang sekitar 100 jiwa. Pendataan masih berlangsung di lapangan," jelas Abdul Muhari.
3. Aktivitas Erupsi Berhenti Tapi Status Awas Tetap Dipertahankan, Status Tanggap Darurat 7 Hari
Aktivitas erupsi Gunung Semeru yang terpantau pada Rabu sore 19 November 2025 dipastikan berhenti pada pukul 18.11 WIB.
Meski erupsi telah berakhir, pemerintah dan otoritas vulkanologi masih menetapkan status Awas untuk mengantisipasi potensi aktivitas lanjutan yang mungkin terjadi.
Bupati Lumajang Indah Amperawati menyampaikan bahwa kondisi gunung saat ini masih harus diawasi ketat.
"Erupsi memang sudah berhenti, tetapi status awas tetap kita pertahankan demi keselamatan warga. Potensi aktivitas susulan masih bisa terjadi, sehingga kewaspadaan tidak boleh menurun," ujar Indah.
Tim pengamatan di Pos Pengamatan Gunung Semeru juga terus melakukan pemantauan visual dan instrumental.
Meski lontaran material sudah tidak terlihat, potensi bahaya berupa guguran, awan panas, atau banjir lahar dingin tetap menjadi perhatian utama, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar alur sungai dan lembah.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang telah mengingatkan warga untuk tidak beraktivitas di zona merah serta menjauhi kawasan alur sungai yang berhulu ke Semeru. Aparat gabungan TNI, Polri, BPBD, dan relawan masih disiagakan untuk memastikan tidak ada pergerakan warga menuju area berbahaya.
Pemerintah menegaskan bahwa seluruh langkah penanganan diarahkan pada pencegahan korban dan memastikan masyarakat tetap berada di lokasi aman sampai kondisi benar-benar dinyatakan stabil oleh pihak berwenang.
Selain itu, Pemkab Lumajang menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Alam Erupsi Gunung Semeru Tahun 2025 melalui Keputusan Bupati Nomor 100.3.3.2/595/KEP/427.12/2025. Keputusan ini berlaku selama 7 hari, mulai 19 hingga 25 November 2025, sebagai langkah cepat dan terpadu dalam menghadapi dampak erupsi.
Erupsi pada 19 November 2025 membuat status Gunung Semeru naik menjadi level awas dan sempat mengganggu aktivitas warga di beberapa wilayah terdampak.
Menyikapi hal ini, Bupati Lumajang, Indah Amperawat menekankan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama pemerintah. Penetapan status tanggap darurat dimaksudkan agar koordinasi antarinstansi berjalan efektif, evakuasi dapat dilakukan dengan lancar, dan warga tetap mendapatkan perlindungan maksimal.
"Setiap langkah yang diambil pemerintah bertujuan untuk melindungi masyarakat. Status tanggap darurat ini memastikan kita bisa bergerak cepat, tepat, dan terkoordinasi dalam menghadapi bencana," tegas Indah dalam keterangannya, Rabu malam (19/11/2025).
Selain memastikan keselamatan, pemerintah juga menyiapkan pusat-pusat pengungsian yang nyaman dan aman, lengkap dengan layanan medis, logistik, dan informasi terkini bagi warga terdampak. Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan siap siaga mendampingi masyarakat selama masa tanggap darurat.
Indah menambahkan bahwa masyarakat diminta untuk tetap tenang dan mematuhi arahan pemerintah. Koordinasi antara desa, kecamatan, dan pemerintah kabupaten terus diperkuat agar tidak ada warga yang berada di zona merah atau wilayah berbahaya.
"Ketika kita bekerja bersama, solidaritas dan kesiapsiagaan akan menjadi kekuatan kita. Bencana bisa kita hadapi dengan kepala dingin dan langkah nyata," jelas Indah.
Keputusan tanggap darurat ini juga membuka peluang bagi pemulihan lebih cepat pasca-erupsi, termasuk penataan kembali fasilitas publik, sekolah, dan sarana transportasi yang terdampak. Pemerintah memastikan bantuan sosial dan logistik tepat sasaran, serta mendukung pemulihan ekonomi masyarakat yang terganggu.
4. Jalur Pendakian Semeru Ditutup
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengumumkan penutupan jalur pendakian Gunung Semeru (Ranu Kumbolo) menyusul kenaikan status gunung berapi di Jawa Timur tersebut, Rabu 19 November 2025. Jalur pendakian ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut.
"(Keputusan ini diambil) sehubungan dengan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tentang kenaikan tingkat aktivitas Gunung Semeru dari Level II (Waspada) ke level III (Siaga) dan selanjutnya menjadi Level IV (Awas) pada 19 November 2025 pukul 17.00 WIB, serta mempertimbangkan rekomendasi radius bahaya dari PVMBG, yaitu 8 km dari puncak dan sektoral 20 km ke arah selatan–tenggara," bunyi keterangan resmi, Rabu 19 November 2025.
Bagi pendaki yang telah melakukan pembelian tiket secara online di bromotenggersemeru.id, mereka dapat melakukan reschedule. "Adapun mekanisme reschedule akan disampaikan pada kesempatan berikutnya," sambung pihak balai.
"Demikian pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian seluruh calon pendaki, masyarakat, pecinta alam, serta pihak–pihak terkait. Seluruh masyarakat dihimbau agar mematuhi rekomendasi zona bahaya dari PVMBG. Atas perhatian dan kerja samanya diucapkan terima kasih," tandas mereka.
Senada dengan itu, Bupati Lumajang, Indah Amperawati, mengimbau warga yang berada di zona merah Gunung Semeru untuk segera menempuh langkah aman dengan mengungsi ke lokasi evakuasi yang telah disiapkan pemerintah. Imbauan ini ditujukan khusus bagi warga Desa Sumberwuluh, Jugosari, Kecamatan Candipuro, serta Kecamatan Pronojiwo.
"Keselamatan warga adalah prioritas utama kami. Evakuasi ini dilakukan agar setiap keluarga terlindungi, dan prosesnya sudah dirancang dengan aman dan tertib," ujarnya, Rabu, lapor kanal Regional Liputan6.com.
Pemerintah daerah dan BPBD Lumajang telah menyiapkan lokasi evakuasi yang layak, serta melakukan koordinasi dengan aparat desa dan relawan untuk mempermudah mobilisasi warga.
Setiap keluarga diimbau membawa perlengkapan penting secara sederhana, seperti masker, air minum, obat-obatan, dan dokumen penting. Indah menekankan bahwa langkah ini adalah langkah pencegahan, bukan tanda kepanikan.
"Dengan kesiapsiagaan yang tepat, kita menghadapi situasi ini dengan tenang. Pemerintah bersama masyarakat selalu siap mendukung dan menjaga keselamatan warga," tambahnya.
5. Nasib 178 Pendaki di Ranu Kumbolo
Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, mengalami erupsi hebat. 178 pendaki masih berada di jalur pendakian gunung Semeru, tepatnya di Ranu Kumbolo. Badan SAR Nasional (Basarnas) dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memastikan para pendaki dievakuasi dengan aman.
"Hari ini 178 pendaki akan turun menuju Pos Pendakian Semeru di Ranu Pani," kata Komandan Tim Rescue Basarnas Surabaya Novix Heryadi saat dikonfirmasi dari Lumajang, Kamis (20/11/2025). Dikutip dari Antara.
Basarnas akan melakukan penjemputan untuk memastikan semuanya dalam kondisi baik-baik saja, dan kemungkinan 178 pendaki akan tiba di pos pendakian Ranu Pani sekira pukul 13.00 WIB.
"Saat ini cuaca cukup cerah dan mudah-mudahan proses evakuasi para pendaki untuk turun ke Pos Ranu Pani berjalan lancar," tuturnya.
Sementara, Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS Septi Eka Wardhani memastikan semua pendaki yang berada di Ranu Kumbolo dalam kondisi aman tidak terkena awan panas guguran Semeru.
"Jumlah orang yang berada di Ranu Kumbolo sebanyak 178, terdiri atas 137 pendaki, satu petugas, dua saver, tujuh PPGST, 15 porter dan enam orang dari Kementerian Pariwisata," ujarnya.
Untuk alasan keselamatan, lanjut dia, evakuasi malam hari tidak direkomendasikan karena kondisi jalur yang gelap, licin, dan rawan longsor, sehingga tim TNBTS memastikan seluruh pendaki tetap bertahan di Ranu Kumbolo sambil siap siaga jika situasi mengharuskan turun.
Meski berada di area rawan, tim penyelamat dan petugas terlatih terus memantau kondisi secara real-time, memastikan setiap pendaki memperoleh arahan, pengawasan, dan dukungan logistik yang memadai.
"Pendaki juga diimbau tetap tenang, mematuhi instruksi petugas, dan menjaga jarak aman satu sama lain untuk mengurangi risiko hal-hal yang tidak diinginkan," katanya.
Koordinasi antara Balai Besar TNBTS, relawan, dan aparat terkait menjadi kunci dalam memastikan keselamatan pendaki, sehingga langkah-langkah mitigasi bencana yang sistematis dan disiplin menunjukkan bahwa penanganan Semeru bukan hanya responsif, tetapi juga proaktif dan terencana, sehingga risiko dapat diminimalkan tanpa menimbulkan kepanikan.
6. Tak Ganggu Penerbangan, Perjalanan KA Sepanjang Pasuruan hingga Banyuwangi Aman
Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) memastikan erupsi Gunung Semeru belum mengganggu penerbangan di sekitarnya. Termasuk juga belum ada operasional bandara yang dihentikan.
EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia Hermana Soegijantoro menjelaskan, rute penerbangan masih berjalan normal. Meskipun, terpantau adanya abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Semeru tersebut.
"Sampai informasi ini kami terbitkan, situasinya belum pada kondisi yang memaksa untuk dilakukannya penutupan ruang udara karena ancaman awan abu vulkanik," kata Hermana dalam keterangan resmi, Kamis (20/11/2025).
"Demikian pula dengan bandara-bandara di sekitarnya. Seperti Malang, Banyuwangi, Surabaya dan Yogyakarta, semuanya masih beroperasi normal. Tidak ada bandara yang ditutup dan sejauh ini tidak ada penerbangan yang dibatalkan," sambungnya.
Dia menjelaskan, perkembangan terakhir pantauan dilakukan dengan penerbitan ASHTAM nomor VAWR6038 yang kami rilis melalui International NOTAM Office AirNav Indonesia pada 20 November 2025, pukul 02:00 UTC (09.00 WIB).
Dalam laporan itu disebutkan, status Gunung Semeru ditetapkan dengan status 'red code' yang berarti aktivitas letusan cukup signifikan dan berpotensi mengganggu jalur penerbangan.
Abu vulkanik terpantau berada pada dua ketinggian berbeda. Pada level rendah, sebaran abu berada pada permukaan hingga sekitar FL150 (±4.500 meter), bergerak ke tenggara dengan kecepatan angin sekitar 5 knot.
Kemudian sebaran abu pada level tinggi, berada pada permukaan hingga sekitar FL450 (±13.500 meter), bergerak ke barat daya dengan kecepatan sekitar 15 knot.
“Namun trennya saat ini, sebaran abu vulkanik semakin bergerak mejauh dari bandara-bandara sekitar dan rute penerbangan yang berpotensi terdampak," kata dia.
"Hari ini, kami juga menghimpun data dari hasil paper test yang dilakukan PT Angkasa Pura Indonesia maupun Kantor Otoritas bandara (Otban) pada bandara-bandara terdekat, seperti Bandara Abdurrahman Saleh (Malang), Bandara YIA dan Adi Sucipto (Yogjakarta) dan Bandara Adi Sumarmo (Solo). Alhamdulillah, semua hasilnya negatif,” sambung Hermana.
Senada, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember memastikan perjalanan kereta api sepanjang Pasuruan hingga Banyuwangi, Jawa Timur aman setelah erupsi Gunung Semeru pada Rabu sore, 19 November 2025.
"Petugas KAI bergerak cepat melakukan pengecekan menyeluruh terutama pada lintas Jatiroto-Ranuyoso, Kabupaten Lumajang yang merupakan wilayah terdekat dari Gunung Semeru," ujar Manajer Hukum dan Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 9 Jember Cahyo Widiantoro seperti dikutip dari Antara, Kamis (20/11/2025).
Menurut dia, tim lapangan melakukan pemeriksaan jalur rel, jembatan, stasiun, serta perlintasan sebidang (JPL) untuk memastikan keamanan operasional KA.
"Hasilnya, seluruh prasarana dan jalur kereta api di lintas tersebut berada dalam kondisi aman. Tidak ditemukan material vulkanik seperti abu atau pasir yang mengganggu jalur rel maupun persinyalan. Seluruh perjalanan KA, baik jarak jauh maupun komuter, beroperasi normal sesuai jadwal," tuturnya.
Sebagai langkah antisipasi, lanjut dia, pihak KAI Daop 9 Jember juga meningkatkan patroli jalur serta menyiagakan alat pembersih jalur untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi hujan abu vulkanik di area operasi.
"Komitmen penguatan mitigasi juga diwujudkan dengan penempatan AMUS (Alat Material Untuk Siaga) di Stasiun Probolinggo, Stasiun Klakah dan Stasiun Jember, guna mempercepat penanganan apabila terjadi gangguan prasarana kereta," ujar dia.
Dia menuturkan, keselamatan penumpang merupakan prioritas bagi KAI, sehingga pihaknya menegaskan kondisi perjalanan kereta api di wilayah Daop 9 Jember aman dari dampak erupsi Gunung Semeru.
"Petugas kami telah melakukan pemeriksaan menyeluruh, terutama di lintas Jatiroto–Ranuyoso yang paling dekat dengan Semeru. Hingga saat ini tidak ditemukan adanya material vulkanik yang mengganggu jalur. Seluruh perjalanan KA tetap berjalan normal sesuai jadwal," tutur dia.
Pihak KAI Daop 9 Jember juga terus berkoordinasi dengan BPBD, PVMBG, dan pemerintah daerah untuk memantau perkembangan situasi vulkanik Semeru secara real-time. Informasi terbaru akan disampaikan kepada masyarakat apabila terdapat perubahan kondisi operasional.
"Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan masyarakat, serta berkomitmen menyediakan layanan transportasi yang aman, nyaman dan andal," jelas Cahyo.
7. Sebagian Pengungsi Pilih Kembali ke Rumahnya
Jumlah pengungsi akibat erupsi Gunung Semeru mengalami penurunan signifikan dibandingkan kemarin. Data terbaru, jumlah pengungsi yang sebelumnya mencapai 807 jiwa menjadi 346 jiwa.
Penurunan itu karena sebagian warga kembali ke rumah masing-masing. Sementara status gunung tetap di Level IV (Awas).
"Penurunan jumlah pengungsi menunjukkan respons positif masyarakat terhadap informasi resmi dan pemantauan pemerintah. Namun, kewaspadaan harus tetap dijaga karena potensi ancaman masih ada," kata Bupati Lumajang Indah Amperawati dalam keterangannya di lokasi terdampak Erupsi Semeru di Kecamatan Pronojiwo, Kamis (20/11/2025).
Di Kecamatan Candipuro, semua titik pengungsian per pagi ini sudah nihil pengungsi. Lokasi sebelumnya termasuk Kantor Kecamatan Candipuro, serta Balai Desa Sumberwuluh, Penanggal, Jarit, dan Sumbermujur. Pemerintah daerah terus memantau situasi untuk memastikan warga kembali dengan aman.
Sementara di Kecamatan Pronojiwo, pengungsi pagi ini hanya tersisa di SD Supiturang 4. Titik pengungsian lain, seperti Kantor Kecamatan, Masjid Supiturang, SD Pemukiman 3, Balai Desa Oro-Ombu, dan SD Sumberurip 2, kini sudah kosong. Pemerintah tetap menyiapkan dukungan logistik dan layanan darurat untuk warga yang masih berada di lokasi.
Indah juga menekankan pentingnya distribusi bantuan yang terarah melalui lokasi Distribusi Utama (DU) di Balai Desa Sumberurip, Pronojiwo, dan UPK Kecamatan Candipuro. Sistem ini memastikan bantuan logistik sampai dengan cepat dan tepat sasaran kepada pengungsi yang masih membutuhkan.
Pemkab Lumajang menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana adalah prioritas utama. Selain pemantauan harian terhadap Gunung Semeru, pemerintah terus memastikan komunikasi antarinstansi berjalan lancar, informasi resmi tersampaikan ke masyarakat, dan semua langkah penanganan dilakukan dengan cepat, tepat, dan terukur, mengutamakan keselamatan warga.
"Keselamatan warga tetap menjadi fokus kami. Semua tindakan di lapangan diarahkan untuk memastikan setiap warga terlindungi, baik yang kembali ke rumah maupun yang masih mengungsi," pungkasnya.