Gunung Semeru Erupsi, Penerbangan di 8 Bandara Masih Normal

Erupsi Gunung Semeru tidak mengganggu aktivitas di delapan bandara sekitar

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 20 November 2025, 13:00 WIB
Awan panas guguran (APG) dari Gunung Semeru meluncur hingga sejauh 14 kilometer, melewati Jembatan Gladak Perak dan mencapai daerah Besuk Kobokan. Tampak foto udara memperlihatkan kawasan permukiman yang hancur akibat aliran piroklastik selama letusan Gunung Semeru di Desa Supiturang, Lumajang, Jawa Timur pada Kamis 20 November 2025. (Agus Harianto/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Perhubungan mencatat tidak ada dampak terhadap penerbangan pasca erupsi gunung Semeru. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menegaskan tidak ada penerbangan yang dibatalkan di bandara sekitar Gunung Semeru.

Dirjen Perhubungan Udara, Kemenhub, Lukman F Laisa menuturkan, erupsi Gunung Semeru tidak mengganggu aktivitas di delapan bandara sekitar. Dia juga memastikan tidak ada penerbangan yang terdampak.

BACA JUGA: Erupsi Gunung Semeru

"Hingga informasi ini disampaikan, bandara yang berada di area semburan erupsi yaitu Bandar Udara Abdul Rachman Saleh-Malang, Bandar Udara Noto Hadinegoro-Jember, Bandar Udara Internasional Yogyakarta, Bandar Udara Adi Sutjipto, Bandar Udara Dhoho-Kediri, Bandar Udara Juanda-Surabaya, Bandar Udara Adi Soemarmo-Solo dan Bandar Udara Banyuwangi beroperasi normal dan tidak ada pembatalan jadwal penerbangan," ungkap Lukman dalam keterangan yang diterima Liputan6.com, Kamis (20/11/2025).

Dia menuturkan akan melakukan koordinasi dengan Otoritas Bandar Udara, AirNav Indonesia, dan pihak terkait untuk memastikan keselamatan, keamanan, dan kelancaran operasional penerbangan.

Dalam catatannya, bedasarkan informasi dari ASHTAM No. VAWR6036 pada Kamis (20/11/2025) pukul 06.10 WIB teramati sebaran abu vulkanik Gunung Semeru bergerak ke arah barat daya. Informasi ini berlaku sejak 20 November 2025 pukul 06.10 WIB hingga 21 November 2025 pukul 06.10 WIB.

"Pembaruan informasi akan disampaikan apabila terdapat perkembangan terbaru terkait aktivitas Gunung Semeru," tandasnya.

 

Gunung Semeru Erupsi

Warga yang berada dalam radius bahaya, termasuk di Desa Supiturang, segera dievakuasi. Tampak dalam foto, seorang pria memandang aliran piroklastik selama letusan Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, pada 19 November 2025. (Agus Harianto/AFP)

Sebelumnya, terhitung mulai 19 November 2025 pukul 17:00 WIB, Pusat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) menaikkan tingkat aktivitas gunung api Semeru ke level IV (Awas).

Masyarakat baik pengunjung atau wisatawan diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Sungai Besuk Kobokan, Lumajang, Jawa Timur, sejauh 20 km dari puncak (pusat erupsi).

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Muhammad Wafid melaporkan, erupsi pertama Gunung Semeru terjadi pada Rabu, 19 November 2025 pukul 14.13 WIB. Erupsi berupa awan panas dengan jarak luncur tidak diketahui dikarenakan visual Gunung Semeru tertutup kabut.

"Awan panas yang terjadi merupakan awan panas yang berlangsung secara beruntun, bukan kejadian tunggal. Awan panas masih berlangsung dengan amplitude maksimum 37 mm hingga laporan ini dibuat," ujar Wafid, Kamis (20/11/2025).

 

Ada Gempa

Tercatat, ada dua desa yang mengalami kerusakan parah, menjadi gelap gulita akibat abu vulkanik tebal, dan sebagian wilayahnya luluh lantak diterjang awan panas, yakni Desa Supiturang dan Dusun Kamar Kajang di Lumajang, Jawa Timur. Tampak dalam foto, orang-orang berjalan di tanah yang tertutup abu vulkanik setelah aliran piroklastik selama letusan Gunung Semeru di Desa Supiturang, Lumajang, Jawa Timur pada Kamis 20 November 2025. (Agus Harianto/AFP)

Aktivitas Gunung Semeru tersebut memperlihatkan aktivitas erupsi dan guguran lava masih terjadi, tetapi secara visual jarang teramati karena terkendala dengan kondisi cuaca.

"Dalam periode ini jumah gempa yang terekam menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan di Gunung Semeru masih tinggi, terutama gempa Letusan, Guguran dan Harmonik," urainya.

"Terjadi peningkatan kejadian Gempa Guguran dan berkorelasi dengan pengamatan visual, yang teramati bahwa kejadian guguran lava pijar semakin intensif terjadi ke arah Sungai Besuk Kobokan," ia menambahkan.

Indikasi Aktivitas Gunung

Menurut dia, gempa-gempa yang terekam mengindikasikan masih adanya suplai dari bawah permukaan Gunung Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan hembusan.

"Nilai variasi kecepatan relatif menunjukkan pola penurunan, sejak pertengahan Oktober 2025 mengindikasikan adanya peningkatan tekanan di dekat permukaan tubuh gunung api. Pemantauan deformasi pada periode ini menunjukkan pola relatif stabil, mengindikasikan tidak adanya peningkatan tekanan dari bagian dalam tubuh gunung api," paparnya.

 

Berstatus Level IV

Erupsi dimulai pada Rabu 19 November 2025 pagi hari dan terus berlanjut hingga sore, dengan letusan besar terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Tampak dalam foto, abu vulkanik menutupi permukaan tanah setelah aliran piroklastik selama letusan Gunung Semeru di Desa Supiturang, Lumajang, Jawa Timur, pada Kamis 20 November 2025. (Agus Harianto/AFP)

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi maka PVMBG Badan Geologi meningkatkan aktivitas Gunung Semeru dinaikkan dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas) dengan dua rekomendasi utama, yakni:

1. Masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Sungai Besuk Kobokan, sejauh 20 km dari puncak (pusat erupsi) dan di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Sungai Besuk Kobokan karena berpotensi dilanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 20 km dari puncak.

2. Masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 8 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya