Liputan6.com, Jakarta- Gunung Semeru kembali bergejolak. Awan panas menyapu lereng dan kolom abu membumbung tinggi membuat desa-desa di kaki Mahameru terbungkus selimut kelabu.
Di tengah kecemasan warga dan deru sirene peringatan, ingatan tertuju pada satu nama yang tak bisa dilepaskan dari gunung ini. Dia adalah Soe Hok Gie. Mahasiswa, aktivis, penulis, dan pendaki yang menjadikan Mahameru sebagai altar sunyinya.
Advertisement
Di gunung inilah, Gie menghirup udara terakhirnya pada 16 Desember 1969. Bersama sahabatnya, Idhan Djamin, dia menghadap langit Semeru di usia yang terlalu muda, 26 tahun.
Kini, sosok Soe Hok Gie menjadi legenda. Buku hariannya diterbitkan jadi buku best seller, kisah hidupnya difilmkan dan sajak-sajaknya masih dibaca hingga kini.
Perjalanan Soe Hok Gie dan rombongannya ke Gunung Semeru dimulai pada 12 Desember 1969. Pukul 07.00 WIB, mereka meninggalkan Statiun Gambir. Gie pergi bersama tim pendaki gunung tertinggi itu yang terdiri dari, Aristides, Herman Onesimus Lantang, Abdurrachman alias Maman, Anton Wijana alias Wiwiek, Rudy Badil, dan dua anak didik Herman yakni, Idhan Dhanvantari Lubis serta Freddy Lodewijk Lasut.
Setelah menempuh perjalanan panjang, rombongan tiba di Statiun Gubeng Surabaya pada malam hari berikutnya. Pendakian kali ini sangat spesial bagi Gie, karena dia akan merayakan ulang tahunnya ke-27 pada 17 Desember. Sampai-sampai, Gie rela mengongkosi sewa mobil untuk rombongan dari Statiun Gubug menuju Pasar Tumpang.
Setibanya di Pasar Tumpang, Gie dan rekan pendakiannya masih harus berjalan kaki sekitar 11 kilometer ke Gubuk Klakah yang merupakan desa terakhir di lereng Semeru. Usai bermalam, tim lalu mulai mendaki dengan berbekal buku terbitan Belanda tahun 1930 tentang Panduan Naik Semeru.
Rute yang mereka pilih bukanlah yang umum digunakan. Penduduk setempat biasanya menggunakan rute Desa Ranupande karena jalanan lebih landai. Namun, Herman yang kala itu mantan Ketua Senat Mahasiswa UI ngotot lewat Kali Amprong, mengikuti pematang Gunung Ayek-ayek, sampai turun ke arah Oro-oro Ombo.
Menurut Aristides, selama perjalanan melalui rute tersebut, pandangan mereka kerap terhalang kabut. Tim juga harus berjalan sambil mencari jalan setapak yang tertutup sisa kebakaran hutan. Belum lagi, jalan berlumpur dan licin.
Gie dan kawan-kawan akhirnya tiba di Oro-oro Ombo dan mendirikan kemah di sana. Di tempat kemah malam pertama mereka inilah, Aristides bermimpi buruk. Dia memutuskan tak menceritakan mimpinya itu kepada teman pendakiannya karena tak mau mereka menjadi kecut.
Soe Hok Gie Meninggal di Puncak Semeru
Pada 14 September 1969, tubuh Soe Hok Gie kedinginan. Saat itu, dia kesal pada Aristides yang mengigau sepanjang malam dan membuatnya tak bisa tidur.
"Lu sangat gelisah. Gue enggak mau lagi tidur di sebelah lu," kata Aristides menirukan ucapan Soe Hok Gie, dalam Seri Buku Tempo: Gie dan Surat-surat Tersembunyi.
Kegelisahan Aristides itu berasal dari sebuah mimpi kecelakaan di gunung di mana terdapat tiga mayat. Aristides yang kala itu menjabat redaktur pelaksana Sinar Harapan, mengaku tak melihat jelas wajah ketiga jenazah dalam mimpinya tersebut.
Perjalanan pun dilanjutkan dengan Aristides berada di depan memimpin pendakian. Pandangannya tiba-tiba tertutup kabut.
"Saya melihat Semeru angker dan menakutkan. Saya seperti melihat maut," ujarnya.
Hok Gie lalu mengambil alih komando, menjadi pemimpin perjalanan. Aristides melihat Hok Gie termenung di tengah-tengah perjalanan.
"Saya tanya kenapa, dia bilang, 'Saya takut,'"ucap Aristides.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju Recodopo. Saat berada di ketinggian sekitar 3.300 meter di atas permukaan laut (mdpl), tim lantas membentangkan ponco untuk dijadikan shelter atau tempat peristirahatan dan meninggalkan tas dan tenda di sana.
Mereka hanya membawa minuman sebagai bekal menuju puncak. Rombongan kemudian dibagi dua kelompok. Aristides bersama Gie, Badil, Maman, Wiwiek, dan Freddy. Sementara itu, Herman bersama Idhan.
Mereka tiba di Puncak Mahameru menjelang sore. Namun, tenaga mereka habis karena bergelut dengan medan berpasir dan bebatuan. Gie menunggu Herman, yang tertinggal di belakang. Rekannya satu lagi, Maman tiba-tiba meracau. Aristides dan Freddy pun bahu-membahu membawa Maman kembali ke shelter.
Sebelum Badil turun, Gie sempat menitipkan batu dan daun cemara yang akan diberikannya kepada pacar-pacarnya di Jakarta. Dia juga menitipkan kamera milik Aristides.
"Nih, titip buat janda-janda gue," ujar Badil menirukan Gie.
Herman dan Idhan akhirnya tiba di Puncak Mahameru. Idhan yang melihat Gie sedang duduk mengenakan kaus polo kuning UI pun ikutan duduk. Sedangkan Herman tetap berdiri.
Karena duduk itulah, kata Herman, Gie dan Idhan menghirup gas beracun yang massanya lebih berat daripada oksigen. Herman ingat betul kala itu kondisi Gie sudah lemas.
"Tahu-tahu dia enggak ngomong. Menggelepar," tutur Herman.
Dia mencoba menuntun Gie turun ke shelter. Herman buru-buru mengecek pergelangan tangan Gie. Tak ada denyut nadi. Soe Hok Gie wafat. Tak lama, Idhan meninggal menyusul Gie.
Plakat Soe Hok Gie
Berita kematian Soe Hok Gie terdengar hingga ke pelosok nusantara, bahkan hingga ke luar negeri. Untuk mengenang Gie dan sahabatnya Idhan, dipasanglah sebuah plakat dari lempengan baja di puncak Mahameru yang berada di ketinggian 3.676 mdpl.
Plakat ini dipasang pertama kali pada 1970 oleh sahabat Gie yakni Herman Lantang. Setelah itu, plakat in memoriam Soe Hok Gie dan Idhan Lubis diganti pada 1989 dan 2002 oleh Indonesian Green Ranger.
Di plakat lempengan baja tersebut tertulis IN MEMORIAM SOE HOK GIE & IDHAN LUBIS, lengkap dengan sebuah puisi. Berikut puisi yang tertulis dalam plakat tersebut:
Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan dan kebebasan
Yang mencintai bumi
Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tengadah dan berkata,
ke sanalah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis pergi
Kembali ke pangkuan bintang-bintang
Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara sapu tangan menahan tangis
Sementara Desember menabur gerimis
Plakat tersebut diturunkan pada 16 Desember 2012. Untuk penjemputan dan penurunan plakat, dibutuhkan waktu sekitar 3 hari. Setelah diturunkan dari ketinggian 3.676 mdpl, plakat tersebut dikabarkan disimpan oleh pegiat alam bebas Indonesia Green Ranger yang didirikan oleh Idhat Lubis yang tak lain adalah kakak almarhum Idhan Lubis.