Wamenhan: Industri dan Teknologi Pertahanan Harus Disiapkan untuk Hadapi Ancaman Modern

Donny menekankan bahwa forum ini menjadi kunci untuk mendorong inovasi, mempercepat pengembangan teknologi, serta memperluas jejaring penelitian dan produksi.

oleh Rizqi Tri NovitasariDiterbitkan 19 November 2025, 17:05 WIB
Wakil Menteri Pertahanan RI, Marsekal TNI (Purn) Donny Ermawan saat menghadiri Defense Technology Forum (DTF) 2025 di Golden Ballroom, The Sultan Hotel, Jakarta, pada Rabu (19/11/2025). (Liputan6.com/Novitasari)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Teknologi Pertahanan (Batekhan) Kementerian Pertahanan RI bekerja sama dengan KNDS, perusahaan pertahanan darat asal Prancis, menyelenggarakan Defense Technology Forum (DTF) 2025 di Golden Ballroom, The Sultan Hotel, Jakarta, pada Rabu (19/11/2025).

Acara ini dibuka langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan), Marsekal TNI (Purn) Donny Ermawan. Dalam sambutannya, Donny mengatakan, DTF 2025 menjadi salah satu agenda penting Kementerian Pertahanan dalam membangun ekosistem pertahanan yang modern, adaptif, dan berdaya saing global.

Donny menekankan bahwa forum ini menjadi kunci untuk mendorong inovasi, mempercepat pengembangan teknologi, serta memperluas jejaring penelitian dan produksi.

"Kerja sama ini menjadi kunci untuk menghasilkan inovasi yang relevan, mempercepat pengembangan teknologi, serta memperluas jejaring penelitian dan produksi," kata Donny dalam sambutannya, Rabu (19/11/2025).

Ia juga menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari hubungan bilateral Indonesia–Prancis. Khususnya, dalam kesiapan industri dan teknologi pertahanan Indonesia untuk menghadapi ancaman modern yang terus berkembang.

“Kita juga harus menyiapkan industri kita, industri kita menggunakan teknologi yang harus kita siapkan. Apalagi pada era saat ini ancaman modern tidak lagi terbatas pada konflik konvensional, tapi mencakup perang siber, serangan drone, peperangan elektronik, terorisme berbasis teknologi tinggi, serta potensi konflik di wilayah laut dan udara,” jelas Donny.

Untuk itu, Donny menegaskan bahwa DTF 2025 menjadi momentum penting bagi percepatan modernisasi teknologi pertahanan Indonesia. Ia menyinggung pesan Presiden Prabowo yang mengutip Thucydides, sebuah refleksi atas realitas geopolitik masa kini: “the strong do what they can, and the weak suffer what they must.”

Kutipan tersebut, kata Donny, menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak boleh berada pada posisi lemah dan harus membangun kemampuan pertahanan yang kuat, modern, dan berbasis teknologi.

“Teknologi berkembang demikian cepat ya, sehingga bagaimanapun juga kita harus mengikuti ancaman terhadap kita, sangat banyak sekali mengancam kedaulatan kita, keselamatan bangsa. Nah itu kita harus menyiapkan pertahanan kita untuk bisa menghadapi semua bentuk ancaman tadi itu. Alutsista harus kita berkuat, tapi untuk itu kita membutuhkan pengembangan teknologi,” jelas Donny.

DTF 2025

Wakil Menteri Pertahanan RI, Marsekal TNI (Purn) Donny Ermawan saat menghadiri Defense Technology Forum (DTF) 2025 di Golden Ballroom, The Sultan Hotel, Jakarta, pada Rabu (19/11/2025). (Liputan6.com/Novitasari)

Sementara itu, Kepala Batekhan Kemhan RI, menyatakan DTF 2025 yang mengusung tema “Innovation in Defence Technology: Strengthening National Sovereignty through Strategic Collaboration”, diselenggarakan sebagai wadah bagi para pemangku kepentingan untuk berdiskusi mengenai arah pembangunan teknologi pertahanan Indonesia di masa depan.

“Forum ini menghadirkan para pemangku kepentingan di bidang pertahanan, mulai dari Kementerian Pertahanan, TNI, industri pertahanan nasional, hingga peneliti dan akademisi untuk berdiskusi dan berbagi wawasan mengenai kemajuan teknologi di era modern,’ ujar Djoko Purwanto.

Adapun tujuan diselenggarakannya DTF ini adalah menghadirkan solusi dan gagasan baru yang nantinya akan memperkuat kemampuan pertahanan Indonesia di era modern, di mana kedaulatan negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan juga superioritas teknologi.

“Kemandirian dalam industri amunisi kaliber besar itu sangat dibutuhkan karena kita ketahui bersama bahwa kebutuhan munisi ini dikaitkan dengan kebutuhan operasional dari TNI sendiri. Kita ketahui kita negara kepulauan, tentu kebutuhan amunisi kaliber besar ini sangat diperlukan,” kata Djoko.

 

Transfer Teknologi

Di sisi lain, KNDS melalui Kepala Perwakilan untuk Indonesia, Thomas Gerard, mengatakan komitmen perusahaan dalam mendukung kemandirian pertahanan Indonesia. Thomas menyampaikan bahwa KNDS berupaya memastikan transfer teknologi dan produksi dapat dilakukan di dalam negeri.

“KNDS bekerja keras dengan Kemhan dan industri pertahanan dari Indonesia untuk memindahkan teknologi serta memindahkan pembuatan amunisi berkaliber besar ke Indonesia sehingga Indonesia bisa menjadi lebih self-sufficient, lebih otonom dalam aset berkaliber besar ini, seperti perjalanan pemerintahan Indonesia untuk mencapai objektif self-sufficiency ini di masa depan,” kata Thomas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya