Liputan6.com, Jakarta - Sampah pakaian bekas kini menjadi sumber pencemaran baru yang mulai mendapat perhatian serius.
Peningkatan signifikan serat mikroplastik di sungai, khususnya yang berasal dari bahan pakaian sintetis seperti polyester, spandex, dan nylon.
Advertisement
Serat halus yang berasal dari bahan pakaian, dapat terlepas saat pakaian dipakai, dicuci, maupun dibuang. Ketika menumpuk di tempat pembuangan terbuka, hujan dan aliran air akan mengangkut partikel tersebut menuju sungai dan berpotensi mengancam ekosistem.
Mikroplastik yang terlepas dari pakaian sering sulit dideteksi lantaran ukurannya sangat kecil. Ketika sudah berada di air, partikel ini dapat masuk ke rantai makanan dengan tertelan oleh ikan, udang, maupun organisme sungai lainnya.
Masuknya mikroplastik ke tubuh hewan, air dapat mengganggu sistem pencernaan dan memperlambat pertumbuhan. Dalam jangka panjang, pencemaran ini dikhawatirkan dapat merusak keseimbangan ekosistem perairan.
Fast Fashion Perburuk Penumpukan Sampah dan Risiko untuk Manusia
Meningkatnya tren fast fashion membuat masyarakat membeli pakaian dalam jumlah besar dengan siklus pemakaian yang semakin pendek.
Akibatnya, peningkatan sampah tekstil terus bertambah dan banyak yang berakhir di bantaran sungai.
Bahan pakaian berbasis plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Ketika membusuk, material tersebut tidak hilang, melainkan berubah menjadi mikroplastik yang sulit dikendalikan.
Mikroplastik tidak hanya berdampak pada hewan air, tetapi juga berpotensi masuk ke rantai makanan manusia. Serat tersebut dapat membawa zat kimia berbahaya seperti pestisida, pewarna sintetis, hingga logam berat.
Saat ikan yang terkontaminasi dikonsumsi, residu mikroplastik dapat berpindah ke tubuh manusia dan menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang
Alasan Sampah Pakaian Berisiko Memunculkan Mikroplastik
Sementara itu sebelumnya, Pendiri dan Direktur Kreatif Sejauh Mata Memandang Chitra Subyakto membeberkan alasan sampah plastik dapat berisiko memunculkan mikroplastik yang berbahaya bagi keberlangsungan alam, iklim maupun kesehatan manusia.
"Sampah pakaian itu kan salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia dan salah satunya bahannya mengandung mikroplastik," kata Chitra, melansir Antara, Selasa (18/11/2025).
Menanggapi adanya hujan mikroplastik di Jakarta, Chitra mengatakan bahwa sampah pakaian banyak menggunakan bahan polyester.
"Bahan itu banyak dijadikan seperti pakaian olahraga atau piyama karena memiliki sifat tidak mudah lecak dan awet untuk digunakan," ucap Chitra.
Saat ini, sampah itu telah berserakan di beberapa titik seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sungai hingga laut. Mikroplastik yang keluar kemudian mencemari air dan biota laut yang hidup.
Menurutnya, situasi ini sangat mengkhawatirkan mengingat para ahli telah menyatakan bahwa mikroplastik berkaitan dengan penurunan imunitas tubuh hingga kanker.
"Banyak sekali efek atau dampak dari pakaian polyester ini dan kita sebagai masyarakat harus peduli dan paham akan dampak dari benda-benda yang kita konsumsi dan kita pakai," terang Chitra.
Maka dari itu, ia mengajak agar masyarakat lebih peduli terhadap bahan pakaian atau kain yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari.