Liputan6.com, Jakarta - El Salvador mempertahankan strategi akumulasi bitcoin (BTC) di tengah koreksi pasar. Berdasarkan data kantor bitcoin, El Salvador menambahkan 1.091 bitcoin pada Selasa senilai hampir USD 100 juta atau Rp 1,67 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.763).
Mengutip Yahoo Finance, Selasa (18/11/2025), Presiden El Salvador Nayib Bukele mengunggah tangkapan layar di platform X dahulu bernama Twitter yang menunjukkan kepemilikan bitcoin pemerintah.
Advertisement
El Salvador telah membeli 1.0981,9 bitcoin selama tujuh hari terakhir. Dengan demikian, total kepemilikan bitcoin oleh El Salvador menjadi 7.474,37 BTC senilai USD 688 juta atau Rp 11,52 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.758).
Meski terjadi fluktuasi pasar saat ini, pemerintah terus meningkatkan kepemilikan bitcoin sebesar 1 BTC per hari. El Salvador menjadi salah satu negara yang pertama kali mengadopsi bitcoin, secara konsisten membeli BTC setiap hari, setelah Presden El Salvador, Nayib Bukele mengumumkan langkah tersebut pada November 2022.
Negara-Negara Berdaulat Membeli Bitcoin saat Harga Turun
Pendekatan pembelian bitcoin El Salvador yang penuh perhitungan, bahkan selama penurunan pasar, mencerminkan strategi jangka panjang yang bertujuan meningkatkan cadangan digitalnya.
Analis keuangan dan Kepala Riset Eropa Bitwise, Andre Dragosch menuturkan, negara-negara berdaulat membeli saat harga sedang turun yang menandakan potensi pergeseran dalam strategi keuangan global.
Sementara itu, Direktur El Salvador’s Bitcoin Office, Stacy Herbert mengatakan, bitcoin bebas, transparan dan memiliki kekuatan individual.
“Bitcoin berlawanan dengan kontrol pemerintah,” ia menulis di platform X, dahulu bernama Twitter.
“Presoden Bukele telah menerimanya sebagai alat pembayaran yang sah, bukan untuk mengkonsolidasikan kekuasaan, melainkan untuk mendistribusikannya,” ia menambahkan.
Selain itu, baru-baru ini the Czech National Bank mengungkapkan eksposur langsung pertamanya ke aset digital, membeli bitcoin dan kripto senilai USD 1 juta atau Rp 16,75 miliar.
Di pasar Asia, bitcoin merosot di bawah USD 90.000. Kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini turun 4,91% menjadi USD 90.708 dalam 24 jam terakhir yang didorong aksi jual.
Bolivia Gandeng El Salvador untuk Adopsi Kripto
Sebelumnya, setahun setelah mencabut larangan kripto, Bolivia bermitra dengan El Salvador untuk memajukan kebijakan dan infrastruktur aset digitalnya. Apakah Bolivia akan sepenuhnya mendukung kripto?
Mengutip Crypto News, ditulis Jumat (1/8/2025), Bolivia, negara yang bergulat dengan ketidakstabilan ekonomi, dan El Salvador, salah satu negara pertama yang mengadopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah, telah bekerja sama untuk mempromosikan kripto sebagai alternatif mata uang tradisional.
Menurut surat yang diterbitkan oleh Bank Sentral Bolivia (BCB), kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memfasilitasi kerja sama timbal balik dalam pengembangan kebijakan kripto, strategi regulasi, dan pertukaran perangkat intelijen blockchain.Perjanjian ini berlaku efektif segera dan berlaku untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
Apa yang diharapkan Bolivia dari kemitraan dengan El Salvador?
Bolivia memandang masuknya El Salvador lebih awal ke dunia kripto sebagai model yang patut dipelajari. Dengan menjadi negara pertama yang mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah pada 2021, El Salvador mendapatkan pujian sekaligus sorotan.
Bank sentral Bolivia kini berharap dapat belajar dari pengalaman tersebut, terutama dalam mengembangkan regulasi kripto yang efektif, mengelola risiko, dan mengintegrasikan blockchain ke dalam infrastruktur keuangannya.
Mitra Strategis
Menurut surat resmi BCB, tujuannya adalah untuk mempromosikan ekosistem aset digital yang "aman dan teregulasi" yang dapat menarik investasi dan menciptakan peluang ekonomi baru. Bank sentral menyatakan bahwa mereka memandang mata uang kripto sebagai alternatif yang layak dan andal untuk mata uang tradisional, terutama bagi keluarga dan pengusaha kecil.
Khususnya, CNAD, badan regulator yang mengawasi sektor kripto di El Salvador, akan membantu Bolivia memahami tantangan operasional dan regulasi yang terkait dengan aset digital.
Pengalaman El Salvador sebagai negara pertama yang mengadopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah memposisikannya sebagai mitra strategis bagi Bolivia, yang masih dalam tahap awal kerangka kripto nasionalnya.
Mengapa Bolivia baru mengupayakan hal ini sekarang?
Waktunya bukanlah suatu kebetulan. Kesepakatan ini muncul hanya satu tahun setelah Bolivia mencabut larangan kripto yang telah lama berlaku pada Juni 2024. Pembalikan tersebut membuka pintu bagi bank untuk memproses transaksi Bitcoin dan stablecoin.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.