Harga Minyak Dunia Melemah Usai Pengiriman Rusia Kembali Dibuka

Harga minyak dunia melemah setelah ekspor di Novorossiysk kembali berjalan usai dua hari dihentikan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 18 November 2025, 07:40 WIB
Pada perdagangan Jumat pekan lalu, kedua acuan harga minyak dunia naik lebih dari 2 persen dan menutup minggu dengan kenaikan tipis. Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin setelah aktivitas pengiriman kembali dibuka di pelabuhan ekspor Novorossiysk, Rusia. Operasional di kawasan Laut Hitam itu sebelumnya sempat dihentikan selama dua hari akibat serangan Ukraina.

Mengutip CNBC, Selasa (18/11/2025), harga minyak mentah Brent turun 19 sen atau 0,3 persen menjadi USD 64,20 per barel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 18 sen atau 0,3 persen dan ditutup di USD 59,91 per barel.

Pada perdagangan Jumat pekan lalu, kedua acuan harga minyak dunia ini naik lebih dari 2 persen dan menutup minggu dengan kenaikan tipis setelah ekspor dari Novorossiysk dan terminal Caspian Pipeline Consortium dihentikan. Gangguan tersebut memengaruhi sekitar 2 persen pasokan minyak global.

Namun, menurut sumber industri dan data LSEG, pengiriman minyak di Novorossiysk kembali berjalan pada Minggu.

Meski begitu, rangkaian serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia tetap menjadi perhatian utama. Militer Ukraina menyebut telah menyerang kilang minyak Ryazan, sementara Staf Umum Ukraina mengatakan kilang Novokuibyshevsk di wilayah Samara juga menjadi target.

“Investor masih mencoba menakar bagaimana serangan-serangan ini akan memengaruhi ekspor minyak mentah Rusia dalam jangka panjang,” kata analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa.

 

Sanksi Barat ke Rusia

Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Investor juga memantau dampak sanksi Barat terhadap aliran perdagangan minyak Rusia. Amerika Serikat (AS) memberlakukan larangan transaksi dengan Lukoil dan Rosneft setelah 21 November, sebagai upaya menekan Moskow menuju perundingan damai terkait Ukraina.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Minggu bahwa Partai Republik sedang menyiapkan aturan yang akan menjatuhkan sanksi kepada negara mana pun yang masih berbisnis dengan Rusia. Ia juga membuka kemungkinan Iran dimasukkan ke daftar tersebut.

Sementara itu, OPEC+ bulan ini menyetujui kenaikan target produksi Desember sebesar 137.000 barel per hari, sama seperti penambahan untuk Oktober dan November. Kelompok produsen minyak itu juga sepakat menghentikan kenaikan produksi pada kuartal pertama tahun depan.

Dalam laporannya, ING memperkirakan pasar minyak berada dalam surplus besar hingga 2026, meski tetap memperingatkan meningkatnya risiko pasokan dari serangan drone Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia.

ING juga menyoroti insiden penyitaan tanker oleh Iran di Teluk Oman, jalur penting yang dilewati sekitar 20 juta barel per hari pasokan minyak dunia.

 

Bergerak di Batas Bawah

Ilustrasi harga minyak dunia (dok: Foto AI)

Data posisi terbaru menunjukkan spekulan meningkatkan posisi beli bersih ICE Brent sebanyak 12.636 lot menjadi 164.867 lot hingga Selasa lalu. ING menilai kenaikan tersebut didorong aksi short-covering, menandakan sebagian pelaku pasar enggan menahan posisi jual di tengah risiko pasokan dan ketidakpastian sanksi.

Di sisi lain, analis UBS Giovanni Staunovo menyebut harga minyak berpeluang tetap bertahan.“Level oil-on-water yang meningkat belum berdampak pada kenaikan stok minyak di darat,” tulisnya dalam catatan.

“Meski kami memperkirakan harga bergerak di batas bawah dalam beberapa bulan ke depan, kami tetap melihat prospek yang lebih positif pada paruh kedua 2026.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya