Skandal Korupsi Guncang Ukraina, 2 Menteri Pilihan Zelenskyy Mengundurkan Diri

Media lokal melaporkan bahwa nama yang terseret dalam kasus korupsi ini merupakan orang dekat Zelenskyy.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 13 November 2025, 12:10 WIB
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berbicara dari Kiev, Ukraina soal serangan Rusia, Sabtu, 19 Maret 2022. (Foto: via AP)

Liputan6.com, Kyiv - Skandal korupsi mengguncang perusahaan energi nuklir milik negara Ukraina mencuat di tengah gempuran serangan udara Rusia.

Kasus dugaan penggelapan dan suap ini bukan hanya menyeret pejabat tinggi pemerintahan, tetapi juga mengguncang kepercayaan publik terhadap komitmen antikorupsi Presiden Volodymyr Zelenskyy.

Media lokal melaporkan bahwa salah satu nama yang terseret dalam kasus ini merupakan orang dekat Zelenskyy.

Menyikapi tekanan publik, Menteri Kehakiman dan Menteri Energi — dua sosok penting dalam kabinet Zelenskyy -- mengajukan pengunduran diri, dikutip dari laman AP News, Kamis (13/11/2025).

Badan Antikorupsi Nasional Ukraina (NABU) -- lembaga yang sebelumnya kerap mendapat tekanan politik -- merilis hasil penyelidikan selama 15 bulan.

Penyelidikan itu melibatkan lebih dari seribu jam penyadapan dan berujung pada penangkapan lima orang serta penetapan tujuh tersangka lainnya atas dugaan suap senilai sekitar 100 juta dolar AS di sektor energi.

Temuan tersebut datang di saat Ukraina tengah berjuang memperoleh bantuan keuangan dari Eropa untuk menutup defisit energi akibat serangan Rusia terhadap jaringan listrik dan fasilitas gas alam.

Sementara itu, di garis depan, pasukan Ukraina terus menghadapi tekanan di tengah perang yang kini memasuki tahun keempat.

Zelenskyy, yang naik ke tampuk kekuasaan dengan janji memberantas korupsi, kini kembali diuji. Tahun lalu, skandal pengadaan militer juga sempat mengguncang pemerintahannya dan berujung pada pengunduran diri Menteri Pertahanan Oleksii Reznikov.

Anggota parlemen dari partai Zelenskyy, Oleksandr Merezhko, menyoroti dampak besar dari kasus ini. "Secara internal, skandal ini bisa menggoyahkan stabilitas dan persatuan nasional. Secara eksternal, musuh akan memanfaatkannya untuk melemahkan dukungan bagi Ukraina," ujarnya.

"Rakyat kini hidup dalam kegelapan akibat serangan Rusia, sementara ada pejabat yang justru memperkaya diri di tengah perang."

 

Rincian Skema Midas

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy selama wawancara dengan FOX News Channel di Washington, Jumat (28/2/2025). (Dok.  AP/Jose Luis Magana)

NABU menolak menyebut nama para tersangka, namun mengungkap bahwa mereka terdiri dari seorang pengusaha, mantan penasihat menteri energi, serta pejabat yang bertanggung jawab atas keamanan fisik di perusahaan energi nuklir negara, Energoatom. Operasi investigasi itu diberi nama sandi “Midas”.

Sebanyak delapan orang dituduh terlibat dalam praktik suap, penyalahgunaan wewenang, serta kepemilikan aset tak wajar. Penyelidikan mencakup lebih dari 70 penggerebekan di berbagai lokasi. Meski demikian, Energoatom memastikan proses investigasi tidak memengaruhi kegiatan operasional mereka.

Badan antikorupsi juga merilis potongan rekaman percakapan yang menunjukkan para pelaku menggunakan nama sandi dan bahasa terselubung untuk membicarakan praktik pemerasan terhadap kontraktor Energoatom. Mereka diduga meminta “komisi” sebesar 10 hingga 15 persen agar proyek bisa berjalan lancar tanpa hambatan birokrasi.

Para pelaku turut memanfaatkan kebijakan darurat militer yang melarang penagihan utang di pengadilan terhadap perusahaan penyedia layanan penting. Empat anggota jaringan lain disebut berperan dalam mencuci uang hasil suap melalui sebuah kantor di Kyiv.

Dalam salah satu rekaman yang belum diverifikasi secara independen oleh Associated Press, disebutkan bahwa sekitar 1,2 juta dolar AS diserahkan kepada seorang mantan wakil perdana menteri yang dijuluki “Che Guevara”, mengacu pada nama tokoh revolusioner Kuba.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya