Liputan6.com, Jakarta - Kematian mendadak aktris Taiwan Barbie Hsu pada 2 Februari 2025 mengejutkan penggemar di seluruh dunia. Meninggal dunia di usia 49 tahun akibat komplikasi flu, banyak yang berspekulasi bahwa kematian dininya mungkin dipercepat oleh perawatan kecantikan ekstrem dan pilihan gaya hidup yang tidak sehat selama bertahun-tahun.
Mengutip Kbizoom, Kamis (13/11/2025), sutradara Wong Jing baru-baru ini berbagi kenangan tentang Barbie Hsu dalam sebuah siaran langsung, menggambarkan obsesi awalnya dengan kulit pucatnya. Menurutnya, Barbie Hsu, yang secara alami berkulit gelap, melakukan berbagai upaya ekstrem untuk memutihkan kulitnya, termasuk menyuntikkan zat-zat yang berpotensi berbahaya.
Advertisement
Di awal kariernya, bintang Meteor Garden itu dikritik karena bentuk tubuh dan kulitnya yang sedikit lebih gelap. Bertekad untuk memenuhi harapan publik, ia memegang teguh disiplin diri yang ketat, seringkali mengabaikan dampaknya terhadap kesehatannya.
Pada 2004, ia menerbitkan sebuah panduan kecantikan, The Queen of Beauty, yang berisi rutinitas perawatan kulit dan dietnya yang ketat. Meskipun buku tersebut terjual lebih dari 100.000 eksemplar dan menginspirasi banyak perempuan muda, hanya sedikit yang dapat meniru metode kerasnya dengan aman.
Barbie Hsu dilaporkan menghindari paparan sinar matahari sama sekali, mengenakan pakaian berlengan panjang bahkan di musim panas, mengoleskan hingga empat lapis tabir surya selama sepuluh hari, dan menghindari makanan berwarna gelap dari pola makannya. Yang lebih berbahaya, ia bereksperimen dengan suntikan antikoagulan untuk mendapatkan kulit yang lebih pucat, sebuah praktik yang dapat membuat tubuhnya sangat rentan terhadap memar atau pendarahan akibat luka ringan.
Penguburan Abu Barbie Hsu
Kematian Barbie Hsu meninggalkan duka mendalam pada sang suami Koo Jun Yup, dikenal sebagai DJ Koo. Lebih dari sebulan ia menyimpan abu sang istri di kediamannya hingga akhirnya dikuburkan di sebuah pemakaman umum, Pemakaman Chin Pao San, di New Taipei, Taiwan.
Dalam upacara itu, DJ Koo terlihat sangat terpukul. Hampir sepanjang waktu, pria Korea Selatan itu menundukkan kepalanya. Media China Times melaporkan bahwa tubuh pria itu gemetar sembari memeluk guci yang berisi abu kremasi istrinya. Ia pun tak henti meneteskan air mata sepanjang prosesi dilaksanakan sebelum akhirnya disemayamkan di area taman mawar pemakaman tersebut.
Karena adat Taiwan melarang orang yang lebih tua mengucapkan selamat tinggal kepada yang lebih muda, ibu Barbie Hsu tidak dapat menghadiri upacara pelepasan terakhir. Adik perempuan mendiang, Dee Hsu, pun memilih untuk tetap berada di dalam mobil bersama ibunya untuk menghibur dan dan mendukungnya.
Drama Pemakaman Abu Barbie Hsu
Suami Dee Hsu juga turun tangan membantu saudara iparnya dalam mengatur pemakaman dan mengurus kedua anak Barbie Hsu. Anggota keluarga lainnya juga menerjang hujan untuk memberikan penghormatan terakhir mereka. Hanya saja, mantan suami Barbie Hsu, Wang Xiaofei, tidak hadir.
Pemakaman itu mengakhiri drama soal lokasi tempat peristirahatan terakhir Barbie Hsu sejak ia meninggal dunia di Jepang pada 2 Februari 2025 dan dikremasi sebelum dibawa kembali ke Taiwan. Keluarga besar pemeran Sanchai itu awalnya berencana memakamkannya di bawah pohon tanpa batu nisan, namun ditentang DJ Koo yang ingin memiliki tempat khusus untuk dikunjungi.
Alasan keluarga untuk memakamkan Barbie Hsu di bawah pohon adalah demi memenuhi keinginan sang aktris semasa hidupnya. Ia ingin beristirat dengan tenang dan menyatu dengan alam setelah kematiannya.
Tetangga Terusik akan Abu Barbie Hsu
Koo Jun Yup menentang ide tersebut karena ia menginginkan ruang peringatan yang layak dan tidak ingin istrinya benar-benar menghilang menjadi debu. Setelah berbagai diskusi, keluarga akhirnya sepakat untuk memakamkan abu kremasi Barbie Hsu di Pemakaman Chin Pao San dan mendirikan patung perunggu untuk mengenang almarhumah.
Sebelumnya, abu kremasi Barbie Hsu yang disimpan di kediamannya mengusik para tetangganya. Mereka merasa tak nyaman dengan situasi tersebut.
Terdapat juga laporan bahwa Longyan, perusahaan pemakaman ternama di Taiwan, berencana menyumbangkan 10 juta NTD (hampir Rp5 miliar) untuk mendukung pemakaman. Namun, perusahaan tersebut membantah klaim tersebut. Media Taiwan ET Today melaporkan bahwa keluarga menolak lokasi pemakaman yang ditawarkan Longyan hingga mereka mencari lokasi yang lebih sesuai sebelum diputuskan di pemakaman umum.