Jelang Piala Citra 2025: Festival Film Indonesia Tampilkan Keberagaman dan Keajaiban Sinema Indonesia

Malam Anugerah Citra FFI 2025 siap digelar, menghadirkan semangat baru dan warna keberagaman perfilman Indonesia.

oleh Aisyah Ichsani MaulidaDiterbitkan 13 November 2025, 08:31 WIB
Konferensi Pers Malam Anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia, Gedung A Kemendikbud, Rabu (12/11/2025). (Foto: Aisyah Ichsani Maulida/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Menjelang malam puncak Festival Film Indonesia (FFI) 2025, antusiasme mulai terasa di kalangan insan film Tanah Air. Tim penyelenggara FFI membagikan kisah panjang yang mereka lalui menuju ajang penghargaan bergengsi ini.

Ario Bayu, Ketua Umum Komite FFI mengaku bahwa tahun ini adalah perjalanan yang penuh tantangan. Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kementerian Kebudayaan yang terus memberikan dukungan untuk FFI dalam membangun ekosistem perfilman di Indonesia.

“Film memiliki kekuatan untuk mengubah banyak hal. Ini bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga tentang bagaimana cerita dalam film dapat membangun rasa empati dan pandangan hidup masyarakat,” ujarnya dalam Konferensi Pers Malam Anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia 2025 di Gedung A Kemendikbud, Rabu (12/11/2025).

Ario menekankan bahwa dari tahun 2024 hingga 2026, FFI berkomitmen untuk semakin meningkatkan apresiasi terhadap film-film Indonesia serta mendorong kolaborasi antara series-series lokal. Baginya penghargaan Piala Citra bukan hanya sebagai simbol pencapaian, tetapi juga sebagai ungkapan cinta pada cerita yang lahir dari bangsa sendiri.


Masih dengan Visi yang Sama

Prilly Latuconsina membawa visi yang sama dalam program-program tahun ini. (Foto: Aisyah Ichsani Maulida/Liputan6.com)

Ketua Bidang Program FFI, Prilly Latuconsina, menjelaskan bahwa tujuan program tahun ini masih sejalan dengan visi sebelumnya yaitu memperkenalkan FFI lebih luas ke publik sekaligus memperkuat kolaborasi lintas daerah. “Kami ingin lebih banyak orang menyadari bahwa FFI bukan sekedar ajang penghargaan, tetapi juga wadah bagi semua pelaku industri untuk berkembang,” ujarnya.

Prilly menambahkan bahwa FFI 2025 berkolaborasi dengan beberapa festival setempat seperti di Aceh, Bali, dan Palangkaraya. Setiap daerah mempunyai karakter dan nuansa masing-masing yang sejalan dengan tema tahun ini yaitu Puspawarna Sinema Indonesia. “Di tempat tersebut banyak cerita budaya yang belum dieksplorasi. Kerja sama ini menjadi langkah untuk memberikan kesempatan bagi film-film lokal agar lebih dikenal,” tambahnya.


Sistem Penjurian

Budi Irawanto menjelaskan ada perbedaan menarik pada penjurian tahun ini. (Foto: Aisyah Ichsani Maulida/Liputan6.com)

FFI akan tetap menjadi wadah apresiasi atas keberhasilan industri film di Indonesia. Ketua Bidang Penjurian FFI, Budi Irawanto menjelaskan bahwa mekanisme penjurian dilakukan secara transparan dan objektif, mulai dari proses seleksi awal, penjurian nominasi, hingga penjurian akhir.

Lanjut Baca:

Di tahun ini ada perbedaan yang menarik, di mana film animasi panjang berkesempatan untuk bersaing langsung di kategori Film Cerita Panjang Terbaik. “Langkah ini penting untuk menunjukkan bahwa animasi Indonesia sudah berkembang dan pantas mendapat tempat sejajar,” ujarnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya