Realisasi Kontrak Baru WIKA Merosot 81,4%, Ini Penyebabnya

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menyatakan mendapatkan proyek pekerjaan umum pada semester II 2025.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 12 November 2025, 12:39 WIB
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). (Foto: Wijaya Karya)

Liputan6.com, Jakarta - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mengumumkan realisasi kontrak baru yang terus mengalami penurunan hingga kuartal III 2025. Jumlahnya merosot hingga 81,42% jika dibandingkan 2022, imbas adanya efisiensi APBN yang dilakukan oleh pemerintah. 

Direktur Utama Wika Agung Budi Waskito tidak menampik, sebagai perusahaan BUMN pihaknya sangat bergantung pada proyek milik pemerintah. Terlebih dengan adanya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025, yang membuat perseroan kian tertekan. 

"Kami harus akui bahwa tahun 2025 adalah tahun yang kami sangat tertekan, khususnya di omzet kontrak. Dengan adanya Inpres Nomor 1 Tahun 2025, di mana efisiensi daripada APBN ini secara otomatis memang proyek di pemerintah berkurang cukup jauh," ujarnya dalam sesi public expose, Rabu (12/11/2025).

"Beruntung di semester II, khususnya di kuartal ketiga dan kuartal keempat kita di proyek PU ada beberapa penugasan sekolah rakyat, irigasi. Sehingga menambah kontrak-kontrak yang ada di Wika, khususnya di kuartal keempat," kata Agung. 

Jika dilihat secara tren, Wika sempat mengantongi kenaikan jumlah kontrak baru selama 2020-2022. Jumlahnya terus naik, dari Rp 23,37 triliun pada 2020, menjadi Rp 26,80 triliun pada 2021, dan meroket jadi Rp 33,35 triliun pada 2022. 

Namun setelahnya, perolehan kontrak baru perseroan terus turun. Menjadi Rp 29,24 triliun pada 2023, Rp 20,65 triliun pada 2024, hingga baru mengantongi kontrak senilai Rp 6,19 triliun pada kuartal III 2025. 

"Jadi memang kalau kita lihat, sebenarnya infra boom terjadi sampai tahun 2022. Kemudian 2023 kita mulai turun, 2024 mulai adanya pemilihan presiden dan pilkada, sehingga ada penurunan yang cukup drastis," bebernya. 

Pede Raup Kontrak Rp 17 Triliun pada 2025

Senior Manager Corporate Relations PT Wijaya Karya (WIKA) menjelaskan proyek Jakarta Sewerage Development Project (JSDP). (Bima/Liputan6.com)

Meskipun begitu, Agung masih optimistis perolehan kontrak baru Wika hingga akhir tahun ini bisa naik hampir tiga kali lipat dari capaian per kuartal III 2025. Lantaran adanya sejumlah proyek baru yang sudah dikantongi, seperti proyek sekolah rakyat, Jakarta Sewerage Development Project (JSDP), hingga kontrak sistem saluran air Bendungan Karian-Serpong. 

"Puncaknya adalah di tahun 2025, mungkin kita akan sampai di kisaran Rp 17-18 triliun, dimana sampai Q3 kita baru mencapai Rp 6,2 triliun. Tapi Alhamdulillah di bulan Oktober, awal November, kita sudah ada tandatangan beberapa kontrak," imbuhnya. 

"Ada penugasan di irigasi, sekolah rakyat, kita juga dapat proyek-proyek sewerage yang ada di DKI. Kemudian sambungan pipa yang ada di (Bendungan) Karian. Insya Allah di kuartal keempat kita akan mencapai di sekitar Rp 17 triliun," ungkapnya percaya diri. 

Selektif Pilih Proyek

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) berpartisipasi dalam pengelolaan sampah melalui pembangunan fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan. (Foto: istimewa)

Akibat omzet kontrak yang menurun, Manajemen WIKA memutuskan mulai sangat selektif dalam memilih proyek yang akan ditanggung oleh perseroan. 

"Kami menghindari proyek-proyek yang harus ada uang muka. Sehingga Alhamdulillah proyek-proyek yang kita dapatkan dalan 2-3 tahun terakhir hampir semuanya mempunyai profit yang baik, dan mempunyai cashflow operasi yang sangat baik," tuturnya. 

"Namun memang jumlahnya masih berkurang, kami harus akui. Sehingga kontak turun mengurangi pipeline revenue, dan tentu penerimaan cash di perusahaan," pungkas Agung Budi Waskito.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya