Liputan6.com, Jakarta - PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penjualan mobil sebanyak 34.888 unit pada Oktober 2025. Angka ini naik 4% dibandingkan September 2025 yang sebesar 33.535 unit. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pangsa pasar Astra pada bulan tersebut mencapai 47%, turun dari 54% pada bulan sebelumnya.
Penjualan terbesar Astra masih ditopang oleh Toyota dan Lexus yang mencatat total 20.613 unit, diikuti Daihatsu sebanyak 11.783 unit, Isuzu 2.402 unit, serta UD Trucks 90 unit.
Advertisement
Sementara itu, di segmen Low Cost Green Car (LCGC), Astra membukukan penjualan 6.924 unit, naik 8,2% dibandingkan September yang sebanyak 6.398 unit. Pangsa pasar Astra di segmen ini mencapai 77%, tetap sama dengan bulan sebelumnya.
Secara kumulatif Januari–Oktober 2025, penjualan Astra mencapai 332.386 unit, dengan rata-rata pangsa pasar 52%. Dari jumlah tersebut, penjualan LCGC Astra tercatat 76.854 unit atau menguasai 74% pangsa pasar LCGC secara nasional.
Head of Corporate Communications Astra, Windy Riswantyo, mengatakan seiring dengan stabilitas ekonomi yang terjaga dan aktivitas pasar yang mulai menunjukkan peningkatan menjelang akhir tahun. Perseroan berharap kondisi ini dapat mendukung perkembangan industri otomotif ke depan.
“Konsistensi kami dalam menghadirkan teknologi yang relevan serta layanan purna jual yang unggul menjadi kunci untuk terus menjaga posisi Astra sekaligus mendorong pertumbuhan pasar yang berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (11/11/2025).
Di sisi lain, total penjualan mobil nasional pada Oktober 2025 mencapai 74.020 unit, meningkat dari 62.077 unit pada bulan sebelumnya. Dari kelompok non-Astra, penjualan terbesar dibukukan oleh Mitsubishi (9.944 unit), diikuti Suzuki (5.550 unit), Honda (3.647 unit), BYD+Denza (10.785 unit), serta Chery (1.560 unit).
Astra International Siapkan Buyback Saham Rp 2 Triliun
Sebelumnya, PT Astra International Tbk (ASII) akan melakukan pembelian kembali atau buyback saham selama tiga bulan.
Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Djony Bunarto Tjondro menuturkan, Astra mengumumkan program share buyback dengan nilai maksimum Rp 2 triliun yang akan berlangsung dari 3 November 2025-30 Januari 2026.
Satu hari sebelumnya, UT mengumumkan program share buyback-nya dengan nilai maksimum Rp2 triliun, yang berlangsung dari 31 Oktober 2025 hingga 30 Januari 2026. Kedua program tersebut akan dilaksanakan sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan terkait share buyback dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan.
"Langkah Astra dan UT tersebut mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek perusahaan dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang berkelanjutan, serta mendukung pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar modal,” ujar dia seperti dikutip dari keterangan resmi perseroan.
Pakai Dana Internal
Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (1/11/2025), PT Astra International Tbk akan memakai dana internal untuk melakukan buyback saham dan bukan pinjaman serta dana hasil penawaran umum.
Perseroan menyatakan sesuai dengan POJK Nomor 13/2023, jumlah saham yang akan dibeli kembali dalam pelaksanaan buyback saham tidak akan melebihi 20% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor perseroan. Hal ini dengan tetap memperhatikan ketentuan jumlah saham free float setelah pelaksanaan buyback saham tidak akan menjadi kurang dari 7,5% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.
“Perseroan yakin pelaksanaan pembelian kembali saham tidak akan memberikan dampak negatif yang material terhadap kinerja operasional dan pendapatan perseroan,” demikian seperti dikutip.