BMKG Bangun Pusat Kendali Ganda, Jaga Peringatan Dini Tetap Aktif 24 Jam

Pusat kendali baru akan mengintegrasikan pemantauan gempa bumi, tsunami, cuaca ekstrem, dan kualitas udara ke dalam satu sistem nasional.

oleh Tim NewsDiterbitkan 11 November 2025, 17:06 WIB
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Selasa (11/11/2025) . (Tangkapan Layar)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengembangkan sistem pusat kendali ganda (dual command center) untuk memperkuat jaringan peringatan dini multi-bencana nasional.

Langkah ini diambil guna memastikan sistem tetap berfungsi selama 24 jam tanpa gangguan, bahkan ketika terjadi bencana di satu wilayah.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, pusat kendali utama dibangun di Jakarta dan didukung oleh backup command center di Bali sebagai sistem redundansi nasional.

“Dengan sistem kendali ganda, seluruh jaringan peringatan dini akan tetap aktif meskipun terjadi gangguan di satu wilayah,” ujar Faisal dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Selasa (11/11/2025).

Faisal menjelaskan, pusat kendali baru tersebut akan mengintegrasikan pemantauan gempa bumi, tsunami, cuaca ekstrem, dan kualitas udara ke dalam satu sistem nasional. Integrasi ini, kata dia, merupakan bagian dari transformasi digital BMKG menuju sistem real-time disaster monitoring yang lebih tangguh dan efisien.

Sistem ini juga didukung oleh algoritma otomatis hasil proyek Indonesia Disaster Resilience Initiative Project (IDRP), yaitu proyek kolaborasi antara BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan dukungan Bank Dunia. Program tersebut telah rampung pada 2025 dengan pendanaan hibah internasional senilai 85 juta dolar Amerika Serikat (AS).

 

Menuju Sistem Peringatan Dini Setara Standar Dunia

Teuku Faisal, yang baru dilantik sebagai Kepala BMKG sepekan lalu, menilai bahwa penguatan sistem digital dan jaringan pemantauan real-time merupakan langkah penting di tengah meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi di Indonesia.

“BMKG berkomitmen membangun infrastruktur yang tidak hanya canggih, tapi juga tangguh dan inklusif,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Indonesia kini bergerak menuju sistem peringatan dini terpadu yang setara dengan standar lembaga meteorologi dunia, sehingga mampu memberikan layanan publik yang lebih cepat dan akurat saat menghadapi potensi bencana alam.

 

Infografis BMKG Sebut Gempa Megathrust di Indonesia Tinggal Tunggu Waktu. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya