Pekerja Bank Bakal Kena Dampak AI: Ini Posisi yang Terancam!

Menurut seorang veteran di industri perbankan, Sopnendu Mohanty, kecerdasan buatan (AI) akan membawa dampak yang sangat berbeda di tiap lini kerja bank. Berikut dampaknya untuk bagian front office, middle office, hingga back office.

oleh Sekar FebrianiDiterbitkan 13 November 2025, 06:00 WIB
memberi surat referensi kerja (created by AI)

Liputan6.com, Jakarta Kecerdasan buatan atau AI diprediksi akan mengubah struktur pekerjaan di sektor perbankan secara signifikan. Namun, dampaknya tidak akan sama di setiap bagian bank.

Hal itu disampaikan oleh Sopnendu Mohanty, CEO grup GFTN, sebuah perusahaan investasi dan penasihat global. Dikutip dari Business Insider, Kamis (12/11/2025), Mohanty yang saat ini berusia 53 tahun, merupakan seorang veteran di industri perbankan dengan pengalaman hampir dua dekade di Citi dan pernah menjabat sebagai Chief Fintech Officer pertama di Otoritas Moneter Singapura (MAS). Selain itu, ia dikenal sebagai salah satu pendiri Singapore FinTech Festival.

Dalam wawancara dengan Business Insider, Mohanty menjelaskan bahwa efek disrupsi AI akan bergantung pada posisi seseorang di bank. AI memberikan dampak yang berbeda untuk masing-masing bagian, mulai dari bagian front office, middle office, dan back office. 

“Bagian depan (front office) berfokus pada pelanggan, bagian tengah (middle office) untuk kepentingan bank, dan bagian belakang (back office) menangani proses administratif,” jelas Mohanty.

Menurutnya, AI tidak akan mengurangi peran staf front office. Teknologi ini justru memberi manfaat berupa bantuan guna meningkatkan efektivitas dan memperkuat peran staf front office dalam memberikan layanan yang lebih cepat, personal, dan berbasis data.

Ia juga memprediksi para bahwa para staf di middle office yang menangani manajemen risiko, kontrol keuangan, dan kepatuhan, akan diuntungkan oleh keberadaan AI. “Middle office sepenuhnya tentang produktivitas internal. Hasil pekerjaan mereka pasti akan lebih baik karena AI akan membuat mereka bekerja lebih cepat dan efisien,” ungkapnya.

Back Office Jadi yang Paling Terdampak

Ilustrasi Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK. Foto: Freepik/drazen zigic

Tentu saja tidak semua bagian lini perbankan mendapat manfaat yang sama. Mohanty menilai para staf di back office akan menjadi yang paling terdampak. Sebagian besar tugas di back office bersifat rutin dan berulang, seperti pemrosesan data dan rekonsiliasi transaksi, yang kini dapat diselesaikan secara otomatis oleh sistem berbasis AI. Akibatnya, kebutuhan tenaga kerja manusia di area ini diperkirakan akan menurun secara signifikan.

“Pekerjaan di back office kemungkinan akan berkurang karena banyak proses akan diotomatisasi dengan cara yang jauh lebih efisien. Dampaknya terhadap lapangan kerja akan sangat terasa di area ini,” jelas Mohanty.

Kekhawatiran terhadap peran AI yang bisa menggantikan peran manusia di dunia pekerjaan sudah lama mencuat. CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, dalam surat tahunannya kepada pemegang saham, menyebut bahwa AI berpotensi memengaruhi hampir setiap pekerjaan di sektor perbankan.

“Teknologi ini bisa mengurangi beberapa kategori pekerjaan, tapi juga menciptakan peran baru,” tulis Dimon.

 

Dampak ke PHK Karyawan

Dilansir dari Business Insider, pada acara Investor Day JPMorgan bulan Mei lalu, para eksekutif bank itu mengakui bahwa penerapan AI akan berdampak pada pengurangan jumlah karyawan dan perlambatan rekrutmen baru.

CEO divisi perbankan konsumer JPMorgan, Marianne Lake, memperkirakan ukuran tim operasional bank akan berkurang hingga 10% akibat efisiensi berbasis AI. 

“Kami mendorong agar pertumbuhan jumlah pegawai tetap terkendali dan berfokus pada peningkatan efisiensi,” ujar Jeremy Barnum, Chief Financial Officer JPMorgan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya